1. Ketika Cinta Bicara (Antologi Cerpen)

290 6 1
                                        

ಌஜಌ1ಌஜಌ

Merindu Kesunyian

MATAHARI telah hilang di balik hamparan samudera itu. Kini menyisakan selendang jingga raksasa yang mengambang bersama siluet-siluet sunyinya mengisyaratkan bahwa waktu belum berhenti di detik itu. Desir angin darat berhembus cukup kencang. Menyapa para nelayan dengan senyuman untuk segera mengais rejeki di tengah laut di bawah kelam. Panggung malam akan dibentangkan. Akan dihiasi gemintang dan nyanyian aneka warna yang di dalamnya melukis simfoni mengharukan berbalut memuakkan.

Aku masih duduk di atas tanggul pembatas pasir putih dan jalan utama pantai. Aku masih senang menyendiri kendati semua temanku di penginapan sana sudah mempersiapkan malam yang indah di acara wisata ini. Entah kenapa. Entah aku ini seorang yang introfet ataukah memang suka menyendiri untuk menyapa alam lalu mendendangkan alunan syahdunya yang banyak menginspirasi para penulis hebat dan para pujangga jaman dulu hingga sekarang. Tapi rasanya tidak. Aku suka berbagi cerita dengan sahabat-sahabat terdekatku.

Ya. Di satu waktu kadang aku senang menyendiri. Senang menciptakan imaji sendiri dengan segala ilusi yang aku lihat. Walau kadang aku kesulitan merangkai kata membentuk sebuah dunia baru yang akan aku susun dari puzzle-puzle kenangan dalam bentuk kosakata. Aku masih terkenang pada beberapa episode indah panggung kisahku yang hingga kini belum sepenuhnya mampu aku entaskan kendati waktu terus memakan kesendirianku. Jika di sebuah instansi ada profesi administrasi penyimpan kenangan, mungkin akulah yang terbaik.

Belum puas aku melamunkan semua kenanganku dan satu kenangan terpahitku yang terjadi setahun lalu, kesendirianku pun saat itu akhirnya terganggu dengan kehadiran seorang perempuan cantik berkerudung ungu bernama Yunda. Dia sekretaris pribadiku di kantor dan juga sahabatku dari jaman kuliah dulu. Dia salah satu teman yang bisa kupercaya menyimpan curahan hatiku namun untuk satu epidose terakhir kisahku, tak sepenuhnya aku kisahkan padanya. Dia langsung mencecarku.

"Rama... Seandainya kamu mau, kamu bisa menaklukkan hati perempuan mana pun yang kamu suka. Kamu punya segalanya. Dan kamu dikenal sebagai eksekutif muda yang sukses. Tapi bagaimana bisa kamu terpuruk seperti ini hanya karena satu perempuan itu? Kenapa? Aku lihat, sejak dua bulan ke belakang matamu selalu kosong seperti tak punya lagi harapan. Sikapmu seperti tak punya lagi rencana indah. Langkah tegapmu seperti terhenti di detik itu. Kenapa, Rama?"

Aku diam. Seperti enggan kujawab karena dia sudah tahu penyebab utamanya aku jadi seperti sesosok mahkluk yang hilang semangat hidup seperti penjahat yang sedang menunggu eksekusi mati.

"Rama... Hari baru selalu datang menyapa. Tapi kenapa kamu bermuram durja begitu? Janganlah kamu diam saja. Ungkapkan ganjalan dalam hatimu. Atau kalau kamu tak mampu, tulislah dan berikan padaku agar aku bisa memberikan tanggapan. Atau mungkin sedikit memberimu solusi. Kita sahabat. Kita kenal bukan setahun dua tahun. Baru kali ini aku lihat dirimu sangat lesu begini. Aku tahu penyebabnya. Tapi tak mungkin memberikan pertolongan selama kamu tak mengatakan apa sakitmu yang sesungguhnya. Kita manusia. Makhluk sosial. Akan saling membutuhkan. Dan perlu kamu tahu, berbagi cerita, mengungkapkan ganjalan dalam hati bisa sedikit meringankan bebanmu. Bisa juga sebagai media katarsis. Janganlah kamu telan sendiri derita itu. Bagikanlah padaku, sahabatmu ini."

Yunda masih saja berkicau. Sementara aku masih diam. Pandanganku masih kosong ke depan menatap deburan ombak pantai utara. Tanpa ada yang tahu, hatiku selalu sesak. Selalu sakit. Sakit karena telah kehilangan seseorang yang paling mengerti diriku yang terkenal egois.

***

Setahun silam...

"Aku melihat, kamu punya bakat untuk jadi penulis hebat, Ram. Cerpen-cerpenmu dan puisimu benar-benar hidup. Sepertinya, akulah fans terberatmu yang sangat mengagumi karya-karyamu." kata Kintan di satu hari saat dia masih jadi kekasihku. Langit jingga di belakang menjadi latar belakang kebersamaanku dengan Kintan.

Ketika Cinta Bicara (Antologi Cerpen)La tua prossima ossessione. Scoprilo ora