Alina Syahra

5.9K 372 389
                                        

Note: kalian yang baca ini, berarti kalian baca dari awal doong, nah meskipun kalian bacanya part masih sedikit ataupun sudah banyak, tetep vote dan komen ya, please jangan jadi sider, sakit tauk di diemin. Huhuhu.
Maaf kalo author banyak permintaan, love you all❤️

Happy reading guys..

###

"Untuk apa kamu minta usaha butik itu Al, lanjutkan pendidikan kamu. Berapapun uang jajan yang kamu minta, Papa kasih." ucap papa mencoba membujukku, entah itu untuk ke berapa ribu kalinya. Ck. Aku sampai lelah mendengarnya. Mama, papa, bang Agil. Setiap hari itu yang mereka ucapkan. Gak capek apa?.
Hanya klak Ilham yang bisa mengerti keinginanku. Hanya dia satu-satunya orang di rumah ini, yang nggak memaksaku untuk kuliah.

Ngomong-ngomong soal kuliah.  Entahlah, aku sendiri nggak pernah menginginkan itu, kata Mama,"Malu dong Lin sama orang-orang masa kamu nggak kuliah, kayak anak gak di urusin aja, dan bla bla bla... " Aku tau, orang tuaku terbilang orang yang berada. Mama selalu mengiming-imingi aku dengan berbagai barang mewah kalau aku mau kuliah di Oxford. Jangankan di Oxford, di Indonesia pun aku nggak mau. Catat ya, NGGAK MAU.

Bukan tanpa alasan aku nggak mau, buat apa sih pusing-pusing mikir, kalo pada akhirnya setelah jadi sarjana aja cuma nganggur. Contohnya tetangga depan rumah, mas Teo, lulus sarjana hukum, nganggur. Pak Edi, supirnya papa, sarjana juga cuma jadi sopir.

Tapi harus di ingat ya, itu menurutku saja. Setiap orang memiliki sudut pandang yang berbeda-beda. Jadi nggak semua orang memilki pikiran yang sama denganku. Yang mau kuliah ya silahkan.

"Paa... Alin harus bilang berapa kali sih,  Alin nggak mau, Alin nggak minat!" Aku terus merengek agar papa mengerti.

Papa mengacak rambutnya frustasi, mungkin papa benar-benar lelah dengan keras kepalaku. Maafkan Alina pa.

"Pa, udah lah, kalo Alina gak mau jangan dipaksa. Alin udah gede. Biar dia menentukan pilihan hidupnya sendiri, toh Alina juga perempuan. Nggak ada kewajiban nafkah di bahunya kelak."

Yes. Kali ini kak Ilham ikut bersuara. Kak Ilham memang the best deh pokoknya. Sepertinya kak Ilham perlu di kasih penghargaan "Kakak paling pengertian."

"Ham, Alina memang nggak punya beban nafkah kelak. Tapi bukannya kamu pun tau, kalau seorang ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Kelak ilmu yang di dapat Alina pun akan bermanfaat. Lagian Alina kan masih muda. Baru lulus SMA, kalo nggak kuliah mau ngapain?, mau buka usaha butik itu? buka usaha pun butuh pengalaman Alin, Nggak semudah itu. Tanggung jawabmu malah lebih besar nantinya."

Naaah, kalo yang ini ni siapa lagi kalo bukan bang Agil. Dia ikut tim mama papa nih, ngotot banget pengen Alina kuliah. Bang Agil sebenarnya sayang sama Alin, cuma Bang Agil selalu tegas kalo masalah pendidikan. tapi di balik sifat tegasnya, tidak menutupi fakta kalau dia orangnya super duper ngeselin, dan jail. O, iya, kenapa aku manggilnya beda? Karena biar enak, kalo aku panggil abang, berarti bang Agil. Kalo panggilnya kak, berarti kak Ilham. Dari pada aku panggil kakak semua, nanti aku manggil salah satu, semua nengok. Kan kasian yang gak di panggil malah ikut nengok.

"Udahlah, Alin capek, Alin mau tidur," ucapku pura-pura marah, biar mereka berhenti berdebat membahas kuliah kuliah dan kuliah. Aku bangkit lalu berjalan menuju kamarku di atas.

"Alin, kamu belum makan loh, tuh makanan kamu masih utuh, ayo makan dulu." cegah mama saat mengetahui nasi yang ada di piringku
masih utuh. Sebenarnya aku lapar, tapi apa boleh buat, pura-pura ngambek adalah cara ampuh untuk meluluhkan hati mereka.

"Alina udah nggak nafsu, ma!" Jawabku sambil berlari menaiki anak tangga, biar keliatan marah beneran gitu.

Aku tutup pintu dan tak lupa menguncinya. Biarlah aku kelaparan malam ini, yang penting aku terbebas dari sidang orang-orang tua di rumah ini.

Sebenarnya aku berharap salah satu dari mereka mengetuk pintu dan membujukku, tak lupa bawain makanan untuk bocah kecil ini. Ehe.

Tok...tok...tok.

Yay, akhirnya ada yang peka juga.

"Lin, buka pintunya, ini Papa bawain makanan, nanti kamu sakit loh."

Aku hanya diam.

"Alin, Papa minta maaf ya, maaf kalo Papa udah maksa kamu, makan dulu ya, sayang." lanjut papa.

Sepertinya aku mencium bau-bau penyerahan dari komandan ini.

"Nggak mau, Alin nggak mau makan. Kalo Papa tetep maksa Alin buat kuliah Alin nggak bakal makan. Titik." ucapku sok tegas.

"Lin, yakin nih dek nggak mau makan, rendangnya enak loh. Nggak mau beneran nih, Abang abisin, ya?"

Ini nih, ini suatu senjata yang bisa bikin misi ngambek ku gagal RENDANG, rendang oooh rendang, tapi aku nggak boleh nyerah cuma gara-gara rendang, kali ini aku harus berhasil.

"Abang diem aja, deh." ketus ku pada bang Agil. Maafkan Alin bang, batinku.

"Yah, kena semprot deh, gue,"keluh bang Agil. Ingin ku tertawa sekencang-kencangnya. Tahan Lin.

"Ya udah iya, papa nggak bakal maksa kamu lagi buat kuliah." Uwwu, komandanku benar-benar menyerah.

"Janji?" Tanyaku meminta keyakinan.

"Iya papa janji, sekarang kamu makan dulu ya, bukain pintunya dong buat papa."

Dengan semangat 45 aku berlari menuju pintu dan membukanya. Disana tampak papa dan abang dengan senyum lebar. Sepertinya mereka benar-benar senang aku nggak jadi ngambek.
Aku langsung menubruk tubuh papa, memeluknya, memeluk komandanku yang amat perkasa ini.

"Makasih ya Pa, Papa baik deh."

"Iya, apa sih, yang nggak buat tuan putri."sahut papa sambil menarik batang hidungku.

Papa ku terbaik deh, yes, kamu menang Alina. Mueheheh.

"Nggak pengen meluk Abang, nih?" ucap bang Agil sambil merentangkan tangannya. Aku pun dengan antusias langsung memeluknya.

"Bang .. "

"Hmm .. "

"Rendang buat Alin mana?"

🌹 🌹 🌹 🌹

Assalamualaikum, pembaca yang Budiman. Aku bawa cerita baru nih, rencananya sih cerita yang dulu mau aku unpub aja, nggak tau kenapa ngerasa nggak cocok aja buat cerita remaja kek gitu.

Intronya segini aja ya. Capek hehehe.

Salman dari Author yaks. Lopyu semuaaaah.

Jangan lupa vote and comentnya di tunggu ya.

The power Of Jodoh (END)Where stories live. Discover now