BAB 1

14 3 0
                                        

Suatu ketika dimalam hari yang tenang, terlihat beberapa rumah berdiri di tengah-tengah hutan belantara. Semua penduduknya tampak menikmati istirahat malam mereka. 

Hingga akhirnya terdengar suara teriakan perlahan semakin banyak dan membuat seisi sebuah rumah bangun dari tidurnya. Semuanya tampak panik dan berlarian menyelamatkan diri.

Beberapa sosok menyeramkan hadir dalam kerusuhan itu. Mereka merupakan kelompok penghisap darah dan sangat haus darah, kaum vampir. Semuanya tampak ketakutan dan perlahan satu persatu dari mereka tertangkap oleh para vampir itu.

"Azura, kau tetap diam disini! Jangan kemana-mana sampai keadaan mulai membaik!" ucap sepasang suami-istri kepada satu-satunya anak mereka.

Sepasang suami-istri itu menyembunyikan anaknya yang berusia 6 tahun di atas atap.

"Tapi, bagaimana?" anak perempuan itu panik.

"Tenang! Ibu dan Ayah akan kembali! Kau jangan keluar sampai keadaan mulai membaik! Mengerti?" mereka perlahan meninggalkan anak perempuan itu.

Tanpa mereka sadari, sosok yang ada di balik sebuah kotak dekat dengan anak itupun perlahan mendekatinya. Keadaan semakin menegangkan dengan darah yang bercucuran di mana-mana.

Sosok tersebut menatap anak perempuan itu dan hanya terjaga. Tubuh anak perempuan itu tampak bergetar ketakutan dan sosok itu semakin dekat dengan anak perempuan itu.

Ia pun memerhatikan leher anak itu dan kini semakin mendekat. Anak perempuan itu tersadar dan perlahan menoleh kearah samping. Betapa kagetnya anak perempuan itu saat menatap sosok berkulit pucat.

Sosok berambut panjang sebahu dan mata yang menyala kini berdiri di hadapannya. Anak perempuan itu hendak berteriak dan dengan cepat sosok itu menutup mulutnya.

"Diam!" ucap sosok itu halus.

Anak perempuan itu menutup matanya dan kini ia benar-benar ketakutan. Lalu sosok itu mengajak anak perempuan itu keluar dari atap.

Ia langsung membawanya menjauh dari serangan para vampir. Tiba-tiba seorang vampir memerhatikan sosok itu dan anak perempuan itu.

"Kau mau kemana?" tanya vampir itu dengan bercak darah di bibirnya.

Anak perempuan itu pun menatap korban yang vampir itu sedang nikmati. Seketika ia menangis sejadi-jadinya saat mengetahui kedua orang tuanya yang kini menjadi korban dari serangan para vampir itu. Sosok itu menutup mulut anak perempuan itu dan tersenyum tipis.

"Aku akan menyiksanya di kastil Tuan! Permisi!" jelas sosok itu.

Kedua mata anak itupun melotot. Lalu anak perempuan itu pun di bawa pergi oleh sosok itu ke sebuah kastil yang jauh masuk kedalam hutan belantara.

Anak perempuan itu ketakutan dan akhirnya mereka sampai. Anak perempuan itu sangat ketakutan dan hanya bisa terdiam.

"Masuklah!" sosok itu tersenyum penuh misteri.

Anak perempuan itu meneteskan air matanya dan hanya menunduk. Lalu sosok itu bersimpuh di depan anak perempuan itu dan tersenyum. Anak perempuan itu menatapnya dan sosok itu menutup matanya.

"Jangan takut! Aku takkan macam-macam denganmu! Siapa namamu?" tanya sosok itu dengan suara datar.

Anak perempuan ini hanya terdiam dan menundukkan kepalanya.

"Tenanglah! Jangan takut! Katakan saja siapa namamu?" katanya lagi.

"Azura!" anak perempuan itu ketakutan saat menatap sosok itu membuka matanya.

Tampak 2 buah mata yang merah menyala kini berada di depan Azura. Sosok itu tersenyum dan tampaklah 2 buah gigi taringnya yang tajam dan putih. Azura menatapnya dengan mata yang melotot.

"Jangan makan aku!" Azura ketakutan.

Sosok itu menatapnya sejenak.

"Hn, tenang saja! Aku takkan melukaimu!" ucap sosok itu.

Azura menutup matanya dan beberapa orang menghampiri mereka.

"Apa yang akan kau lakukan pada anak manusia itu?" beberapa orang yang menghampiri mereka.

"Ya Tuan! Aku akan menyiksanya dan akan menghabisi darahnya! Jadi mohon, Anda bisa keluar sebentar! Jangan menggangguku! Aku akan menyiksa dirinya disini!" sosok itu memegang kedua pundak Azura.

Azura pun ketakutan dan tubuhnya bergetar. Lalu sosok itu memukulnya hingga terluka. Ia terjatuh. Azura pun menangis dan menahan rasa sakitnya. Lalu beberapa orang itupun tertawa jahat.

Petir tampak menyambar dengan keras. Angin kencang yang masuk menerbangkan beberapa kain renda yang menutupi jendela. Lalu beberapa orang itupun keluar dan menjauhi mereka. Sosok itu menatap Azura dan mendekatinya.

"Ampun! Jangan sakiti aku! Aku mohon!" mohon Azura.

"Aku Slavo! Kau tahu aku siapa?" ucap sosok itu.

Azura pun kaget dan menatap sosok itu.

"S..Slavo?! Siapa??" gagap Azura.

"Intinya, aku takkan pernah melukai dirimu! Maaf!" Slavo memegang tangan Azura.

Azura hanya bisa menangis dan menatap Slavo.

"Mari, kuobati!" Slavo memegang kakinya.

"Tapi, bukannya kau mau menyiksa ku?" ucap Azura.

"Sudahlah! Lupakan saja! Hm, sudah! Sekarang kau bisa pergi dari sini! Aku tidak mau kau terluka!" Slavo tersenyum.

"Hah? Mengapa bisa?" Azura kaget saat menatap kakinya kembali seperti semula tanpa luka sedikit pun.

"Sudah, ayo!" Slavo membantunya berdiri.

Lalu ia mengajak Azura keluar dari ruangan itu tetapi ia dicegat oleh beberapa pengawal kerajaan.

"Maaf Penasehat Yang Mulia! Mau Anda bawa kemana anak kecil ini?" tanya mereka.

Seketika mereka berdua terkejut bukan main. Slavo pun tersenyum tipis. Perlahan, mereka pun berbalik arah dan menatap mereka semua.

Azura hanya terdiam. Slavo menggenggam tangan Azura begitu erat. Azura dapat merasakan dinginnya telapak tangan Slavo. Mata mereka tak berpaling dari sosok gadis kecil itu.

"Aku akan membawanya ke tempat penampungan budak di bawah tanah! Aku telah diperintahkan oleh Yang Mulia untuk meletakkannya disana dan akan menghabisinya sebelum matahari muncul! Tenang saja, aku akan menjalankan perintah Yang Mulia!" jelas Slavo.

"Hah?" bisik Azura.

Lalu ia mengajaknya pergi dan berjalan menuju sebuah tempat. Lalu merekapun mengendap-endap menuju pintu gerbang keluar istana.

"Ya sudah, kau bisa pergi dari sini! Ikuti saja jalan ini dan berjalanlah di sepanjang jalan ini! Mama kau akan aman!" ucap Slavo.

"Tapi, bagaimana dengan perkataanmu tadi?" tanya Azura.

Slavo pun bersimpuh di hadapannya. Ia pun tersenyum manis dan menatap kedua mata Azura.

"Tenang saja! Aku takkan pernah melakukan hal itu untukmu gadis kecil yang manis!" katanya sembari memegang kedua pipi Azura.

Azura terdiam menatapnya sejenak dan perlahan tersenyum. Slavo tersenyum hangat padanya.

"Tunggu! Bukankah sudah kukatakan padamu! Tuan Slavo, Penasehat Yang Mulia Raja yang sangat kupercaya!" sang Raja tiba-tiba berdiri di belakang mereka.

Azura kaget dan menatap mereka. Slavo terkejut dan bangkit. Sang Raja menatapnya dengan tatapan tajam. Ia pun bersama beberapa pengawalnya yang tengah menggenggam senjata di tangannya.

"Tuan!" kata Slavo.

"Dasar pengkhianat! Bawa dia!" Sang Raja nampak marah dan menatap mereka dengan kedua mata yang memerah menyala.

Slavo langsung membawa Azura pergi.

"Kejar mereka!" teriak sang Raja kesal.

Princess Azura And Vampire KingdomWhere stories live. Discover now