Namanya Rengga.
Rengga Dwi Gantara.
Kami adalah teman sedari Sekolah Menengah Pertama.
Kala itu aku yang memang sakit-sakitan sejak kecil sedang terduduk lesu di pojok kelas sembari mengeratkan jaketku. Memang kebiasaan yang sejak dulu dilaksanakan adalah adanya apel sebelum dan selepas kegiatan Masa Orientasi Siswa yang sekarang telah berganti nama menjadi Masa Orientasi Peserta Didik.
Namun sialnya, aku selalu tak dapat kabur dari pelaksanaan apel yang amat menyebalkan itu, menyebabkan kepalaku kerap pening dan pandanganku berkunang-kunang saat apel berlangsung. Lantas kurasakan ada pergerakan di sebelahku yang sedari awal memang kosong. Ia adalah yang pertama menyapaku, satu-satunya orang yang mau menghampiriku.
"Lo sakit?" Tanyanya dengan suara tenor yang lebut.
Kepalanya menyandar di meja hendak meniruku. Ku lihat ia mengedipkan mata dengan bibir tipis yang begitu menarik atensi.
"Ga," jawabku seadanya.
Refleks ditempelkan telapak tangannya pada dahiku seraya menggaruk tengkuknya yang aku yakin 100% tidak gatal sama sekali. Aku yang belum terbiasa melakukan skinship dengan orang asingpun mendadak linglung. Untungnya, laki-laki disebelahku ini peka sehingga ia langsung mengucapkan maaf.
"Ekhm nama gue Rengga, kalo lo?" Ucapnya menghalau canggung yang tiba-tiba mendera kami.
"Kelia," jawabku canggung sembari menyambut uluran tangannya.
"Salam kenal ya, Kelia! Kalo lo mau gue bisa anter ke UKS, yah kalo lo mau sih... Kalo ga mau juga gapapa kok suwer." Ucapnya dengan nada bicara imut yang dibuat-buat.
Responku adalah senyuman ringan yang Rengga balas dengan tawa riang. Dan dengan segera saja aku terpesona pada mata sipitnya. Atau mungkin dirinya?
Sejak saat itu kami berteman dekat. Rengga yang dengan lapang mencurahkan seluruh kisah hidupnya padaku. Dari momen bahagia sampai saat terpuruknya, tak ada yang luput ia ceritakan padaku.
Dari ia yang tidak pernah merasakan uforia saat naik wahana roler coaster, ia yang selalu bermimpi tentang gadis di ladang jagung atau bahkan passionnya menjadi seorang dokter andal telah aku hapal diluar kepala.
Atau bahkan fisiknya, bibir yang tipis melengkung indah saat tersenyum. Alis yang lurus menukik tajam bak perosotan saat berpikir. Dan mata yang teramat elok, akan menyipit seperti ditelan bumi saat tersenyum ataupun tertawa.
Jadi bagaimana mungkin aku tidak suka berdekatan dengan dia?
Ia periang. Tawanya yang renyah membuat siapa saja akan ikut tertawa kala melihatnya. Suaranya yang merdu mampu menyedot banyak pujian dari yang mendengarnya. Kejujuran dan kedisiplinannya membuat ia didapuk menjadi ketua kelas tiga tahun berturut-turut. Poin plusnya ia ramah dan jenius.
Setelah bertumpuk kelebihan dalam dirinya, bagaimana bisa aku tidak menyukainya?
So guys, mari ku perkenalkan.
Ia adalah Rengga, temanku sebangku.
Ia adalah Rengga, sahabatku.
Ia adalah Rengga, pengisi masa mudaku.
ČTEŠ
Antara
TeenfikceMasih menjadi misteri kenapa kita lebih memilih untuk mengejar orang yang tidak menyukai kita dan malah mengabaikan orang yang menyukai kita?
