"Ibu, ada jalan keluar, 'kan?"
Eunhyo memperhatikan ibunya yang masih berdiam diri sembari fokus menyorot pergerakan layar pada benda persegi dalam genggamannya; sebuah game pemacu adrenalin yang selama tujuh tahun terakhir menjadi kegemaran pribadi. Kabarnya, pengerjaan proyek yang satu itu menghabiskan banyak dana akan tetapi belum juga rampung hingga sekarang. Banyak kendala setiap kali akan melakukan pengumuman perilisan. Sebagian pekerja di WGMP01—sebuah perusahaan yang mengembangkan game VR—merasa putus asa dan bahkan sempat terjadi polemik pada kalangan atas.
Para pemegang kursi tertinggi silang pendapat untuk menghentikan pengerjaan project yang tidak memiliki harapan tersebut. Namun sebagian memilih untuk mempertahankan sebab ibunya,yang duduk pada kursi perancang game bersikeras untuk melanjutkan proyek istimewa. Dengan dukungan sebagian rekan dan juga peralatan seadanya. Perusahaan menggunakan aset berharga untuk tujuan lain, tujuan yang lebih utama; mengesampingkan proyek yang tengah ibunya kerjakan selama tujuh tahun terakhir.
"Ada, Hyo." Ibunya—Choi Eunha—menyahut kemudian menjukkan ponsel padanya. "Tentu saja dalam sebuah game akan ada penyelesaiannya. Coba lihat," Satu jari Ny. Choi menunjuk layar bagian samping, yang mana terdapat gedung-gedung pencakar langit berbeda warna. Tampak lebih hidup dari pada gedung lainnya yang sebagian berlumut dan mengelupas. "Ini adalah Whise, jalan keluarnya ada di sini. Bagian lain tentu kau sudah tahu, bukan? Aku masih bingung kenapa tokoh-tokoh di sini tidak bergerak menuju Whise? Mereka hidup dan tidak bergerak."
Eunhyo memperhatikan juga dengan seksama. Dilihat dari ketinggian desparitas pada tiap bangunan kentara jelas, tetapi apa maksud ibunya barusan? Bukankah tokoh-tokoh di dalam sana dikendalikan pemain?
"Kenapa Ibu tidak kendalikan mereka? Ibu, kan, pemainnya?"
"Kau sudah begitu lama tidak memainkan game ini. Beberapa tahun terakhir ibu mengubah pengendalinya. Karena kemungkinan game VR ini akan diluncurkan dengan lingkungan nyata, bukankah akan lebih baik jika kita biarkan saja mereka bergerak sendiri mencari jalan keluarnya? Mereka tidak hanya menikmati, tetapi sebagai petualang yang sesungguhnya."
Eunhyo mencerna kemudian mengangguk secepatnya. Sepertinya dirinya sudah cukup dibekali banyak hal perihal permainan yang sedang ibunya kerjakan itu. Barangkali hapal di luar kepala. "Ibu melewatkan penjelasan ini tiap malam. Aku tidak mendengar adanya perubahan rencana dari proyek ini. Kupikir versi satu lebih bagus. Gedung-gedungnya juga tidak terlalu menyeramkan."
"Justru karena itu, kami memutuskan untuk mengubah tema konsep menjadi horor dan lebih menegangkan. Akan tetapi sepertinya ibu harus benar-benar merelakan proyek ini lebur saja. Tidak ada kemajuan apapun, tokoh utamanya tidak bergerak jauh dan seakan-akan menikmati hidupnya dalam kota itu. Ibu harus fokus pada proyek baru yang sedang dikerjakan perusahaan."
Eunhyo menyayangkan keputusan itu, sebab dirinya tahu apa yang begitu berharga bagi Ibunya tujuh tahun terakhir. Tetapi menatap peluang keberhasilan yang terus menurun tiap harinya juga perlu diperhatikan, seandainya bisa Eunhyo ingin melakukan sesuatu demi menyelamatkan keruntuhan ini. Lalu, mau bagaimana lagi? Dirinya juga tidak mengerti apa-apa di bidang serumit ini. Eunhyo hanya mahasiswi yang kejar tayang dalam belajar hanya karena konformitas saja. Bukan karena benar-benar ingin. Sebab, dari pada hidup dengan isi kepala seperti sang ibu, Eunhyo berharap memiliki hidup normal seperti sang ayah. Makan, pergi bekerja, main hingga malam, dan berujung pulang. Hidup sederhana.
"Ibu," Eunhyo memicingkan mata menelisik satu paras yang terekspos pada layar ponsel dengan rambut gondrong dan wajah kusut masai. Ada pemandangan kota yang ibunya desain dalam sebuah permainan. "Siapa dia?"
Eunha mengikuti kemana telunjuknya mengarah, kemudian senyum sendu terhias di sana. Layu sekali dan tanpa semangat. "Dia pemeran utamanya, barangkali akan berakhir mati karena terus berporos pada pusat kota. Tidak beranjak untuk mencari kehidupan lain. Namanya, Jeon Jungkook."
Eunhyo hanya mengangguk, tidak akan ada yang bisa bertahan lama dalam kota mati, bukan? Sekali pun itu hanya dalam permainan.[]
This story is purely imagination. Not concerned with figures that I make visual supporters. Once again, this story contains sensitive adult content. Please be wise to choose reading.
Elderwrite - Vy
Purple you💜
KAMU SEDANG MEMBACA
PROBLEMS; EMPTY ONE
FanfictionJungkook dalam konteks kehidupan yang mati. ©Elderwrite 05 Sept 2k19
