''Pagi sayang. Morning kiss.''
Seorang laki laki mendaratkan ciumannya di Pipi tisha. Ciuman yang begitu berharga daripada setoples Chocopologie,cokelat termahal di dunia yang berharga Rp 29,1 juta untuk 454 gram. Mendadak pipi Tisha memerah,hal yang selalu terjadi saat laki laki itu melakukan ciuman alih alih morning kiss.
Seperti pipinya yang tidak bisa berbohong,senyum Tisha pun mengembang jujur,''Pagi Dev. And thanks for the breakfast.''
Dev adalah pacar Tisha. Dari awal masuk ke sekolah ini mereka berpacaran. Mereka adalah teman SMP satu sama lain,sekolah di SMP yang sama,walaupun ada di kelas yang berbeda.
Tanpa perlu menyembunyikan tawanya,laki laki disampingnya tertawa renyah. ''Tenang saja,itu gratis. Aku yakin kau juga merasa hangat. Aku suka warna pipimu.''
Aw...ini tidak membuat blushingnya hilang sama sekali. Pipinya pasti sekarang bertambah merah seolah olah 5 liter darah dalam tubuhnya berpindah tempat ke pipinya!
''Thankies. Mama dan Papa sudah pulang?'' ia menoleh ke samping. Dev..Kenapa dia merasa laki laki di sampingnya semakin tampan? Wajah maskulin,tatanan rambut keren dan eye smilenya benar benar sempurna.
Orang tua Dev memang tipe orang tua yang senang melakukan perjalanan bisnis. Tapi mereka tidak benar benar melupakan sesuatu yang harus mereka berikan kepada Dev,yaitu kasih sayang. Mereka bisa mengatur jadwal kerja mereka demi Dev,mereka tidak pernah meninggalkan acara acara sekolah yang menuntut orang tua murid untuk datang.
Dan Tisha bersyukur karena itu. Terlalu banyak orang tua yang jauh lebih memperhatikan bisnis mereka daripada anak mereka. Jadi hal itu merupakan hal yang patut di syukuri,Dev pun pernah berkata seperti itu.
''Sudah,pulang jam lima sore kemarin dan kami pergi bersama ke lapangan kota untuk melihat sunset.'' Dev mengelus kepala Tisha lembut.
Sentuhan ini begitu manis untuk dilewatkan begitu saja. Sentuhan ini patut dinikmati. Tisha menyenderkan kepalanya ke bahu bidang Dev. ''How lucky I am.'' Tisha mengatakannya sambil menutup mata.
Dev mengecup kepala Tisha. Tidak peduli mereka sedang ada di kelas. Sekarang masih cukup pagi dan baru beberapa teman mereka yang ada di kelas. Mereka pun tidak peduli. Tidak ada yang mengusik urusan orang lain disini.
''Bagaimana kalau kita menikah setelah lulus SMA?'' Hal yang berkali kali Dev katakan kepada Tisha. Walaupun pembicaraan ini hanya angan angan,sebenarnya dalam hatinya Dev tetap berharap tentang hal itu.
''Kau. Dev Fergan. Kau hanya boleh menikahiku ketika kau sanggup membiayai hidupku tanpa ada campur tangan bantuan materil dari siapapun. Kau harus berusaha keras,jangan merepotkan orang tuamu untuk menghidupiku nanti. Mereka sudah cukup bekerja keras,mereka sudah cukup membiayaimu. Nanti,saatnya kita menikah kau lah yang harus membantu mereka juga seperti kebaikan mereka yang selalu mereka berikan kepadamu. Dan...berjanjilah tentang hal itu.''
Wanita ini. 17 tahun. Tapi fikirannya dewasa. Mampu berpikir panjang dan selalu memiliki good manner. Orang tua dev bahkan kagum dengan Tisha. Percaya atau tidak,berkali kali orang tua Dev mengutarakan keinginan mereka untuk menikahkan Tisha dengan Dev.
''I promise that. You can keep my word. Anything for my Lady.''
Senyum Tisha mengembang. Apalagi ketika Dev lagi lagi mengecup pipi Tisha seolah olah setiap senyuman yang menguar dari wajah Tisha harus ia beri penghargaan berupa ciuman. Dev merasa ini sudah seperti kebiasaan.
''Good boy. Mama papa apa kabar? Mereka kan baru pulang,harusnya kamu suruh mereka istirahat.''
''Bukan aku yang menyuruh mereka pergi ke lapangan kota. Mereka memang ingin ke sana,katanya ingin melihat matahari terbenam. Dan kabar mereka baik baik saja,jangan khawatir.'' Kini dev mengalungkan lengannya di leher Tisha.
''Kenapa aku jadi ingin bertemu mereka ya?''
Dev berpikir,orang tuanya juga sering berkata seperti itu. Tisha sudah pernah bertemu orang tua dev. Tapi lagi lagi karena pekerjaan merekalah yang membuat Tisha jarang bertemu mereka.
''Ini kebetulan atau apa? Mereka juga ingin bertemu denganmu kemarin. Mereka sampai memaksaku menjemputmu untuk bertemu dengan mereka. Tapi kau jam lima baru pulang ekskul piano kan?''
Kemarin memang orang tua dev meminta seperti itu. Tadi pagi bahkan mereka mewanti wanti Dev untuk kesekian kalinya untuk membawa tisha ke rumah.
''Mungkin jodoh,'' Tisha terkekeh dengan alasan konyolnya sendiri,''aku bahkan pulang jam 6 sore kemarin.''
''Kau tidak lelah?''
''Tentu saja aku lelah. Tapi jika itu memang hobi,rasanya tidak terlalu lelah.'' Setiap hari Tisha pulang sore karena ekskul piano. Namun karena itu adalah hobi,ia tidak merasakan terlalu lelah,malah dia selalu bersemangat untuk hari hari esoknya.
Alunan piano yang klasik dan lembut juga bisa membuat Tisha merasa nyaman walaupun berkali kali Tisha merasa bulu kuduknya meremang,awalnya ia takut tapi mungkin itu karena melodinya. Ia terlalu menghayati melodinya,ini yang selalu dia katakan pada diri sendiri.
*****************
Author's Note
Sebenernya udah bikin 3 part,tapi ragu buat update. Yang ini juga gua tau kok kalo kependekan,dan lagi lagi cuma bisa minta maap hahaha. Please vote and comment demi kelangsungan hidup author *wth* Hope you like it! :)
YOU ARE READING
Deadly Wedding Dress
Teen FictionSemua orang akan bahagia jika cita cita dari masa kecilnya menjadi kenyataan. Tapi masih bisakah Tisha merasa bahagia jika cita cita yang selalu diinginkannya malah berbalik menjadi hal yang paling menakutkan? Hal yang hampir membuatnya gila? Just t...
