Cindy Monika. seorang Gadis polos dengan kadar kebegoan yang hampir sama. gadis dengan berbagai macam kerumitan yang membelit.
Cindy sejak saat itu tidak percaya apa itu komitmen. ia berdiri sendiri. selalu merasa tidak memerlukan lelaki pendamping...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Satu usapan di wajahnya yang tampak lelah. Cindy mematut sekali lagi wajahnya di depan cermin. Tidak buruk, pikirnya.
Baru satu jam yang lalu ia pulang kerja. Ia hanya seorang admin di sebuah hotel yang cukup ternama di kota Jember. Kota kecil tempat ia di lahirkan. Dirinya sekarang sudah berumur 25tahun. Secepat itu waktu berlalu untuknya. Rasanya baru kemarin ia sekolah dasar kenapa sekarang sudah umur 25.
Ia membiarkan rambut sebahunya ia gerai. Jam di pergelangan tangannya sudah menunjukan pukul 6 malam. Masih magrib.
Terlalu malas. Ia bahkan tidak mengganti pakaian nya. Cindy melangkah keluar kamar setelah melempar asal tas ranselnya.
"Maa" panggilnya.
"Opo seh?" (apa sih?) ucap widya. Wanita berumur 55 tahun itu.
"Aku tak metu sek" (aku mau keluar dulu) Cindy melirik kearah adik perempuan nya.
"Nang ndi?" (kemana?) tanya Widya yang sedang asik dengan ponselnya.
"Ngopi" setelah mengatakan itu cindy kembali kedalam kamarnya mengambil tas selempang. Mengambil asal kontak motornya diatas nakas dekat ranjangnya.
"Baleke nggak usah bengi-bengi. Tak kancingin lawang engkok" (pulangnya jangan malam-malam. Di kunciin pintu nanti). Buat widya Cindy sudah biasa keluar, toh anaknya tidak melakukan hal-hal negatif.
"Hmmm" Cindy hanya membalas dengan dehaman saja. "Assalamualaikum" pamitnya.
"Waalaikum salam" widya melirik sekilas anaknya yang nampak sedang mengelurakan motor dari depan teras rumahnya. Cindy anak pertamanya yang sampai sekarang tidak pernah membawa seorang pacar sejak terakhir jaman kuliahnya dulu.
Mungkin kalian berfikir gaya sekali pake acara ngopi-ngopi. Asal kalian tau maksud dari kata ngopi palingan juga duduk di cafe dan yang di pesan juga bukan kopi. Sekarang cindy hanya ingin pergi ke cafe milik teman kuliah nya. dulu ia pernah bekeja disana, hanya 6 bulan saja, waktu itu sambil menunggu panggilan kerja.
Cafe itu berada di daerah sekitar kampus. Biasanya orang sini menyebutnya kampus karena berada dekat universitas, jadi tempat di sekitarnya biar lebih efisien mereka menyebutnya kampus.
Hawa dingin lumayan menusuk tubuhnya. Ia salah, seharusnya memakai jaket tadi. Hanya karena terburu-buru dan terlalu malas memakai jaket ia melupakannya. Kalau dulu selalu akan ada yang marah-marah saat dirinya melupakan benda itu, sekrang memakainya hanya mengingatkan dirinya akan sosok itu.
Ini sudah 5 tahun berlalu. Kenapa sakitnya masih terasa sama seperti 5 tahun yang lalu? Kurasa otak dan hatiku sudah rusak. Bahkan cindy pernah berusaha menyukai lelaki lain, dan itu hanya berhasil pada satu lelaki yang bisa membuatnya melupakan sosok itu sekilas saja. Tapi emang nasib kali ya, lelaki itu bahkan tidak tertarik padanya. Sialan memang.
Tidak tahu apa perjuangannya untuk membuat hatinya berpindah. Nyatanya sepertinya ia memang di haruskan sendiri selamanya mungkin. Karena sampai sekarang hatinya tidak tergarak pada siapapun. Bukan berarti dirinya tidak ada yang menyukai. Tidak tidak, cindy gadis yang cantik, yang menyukainya tentu ada beberapa. Tapi namanya hati sudah tertutup susah untuk di tembus. Tiap ada yang mendekati ia selalu memberi respon menolak. Selalu seperti itu. Menurutnya single itu pilihan, bukan karena jones (jomblo ngenes).