Akhirnya, dari sekian menantu, Winda sukses merebut hatiku. Pandai sekali dia membuatku senang, berbeda dengan menantuku yang lain. Perempuan berbadan mungil berkulit hitam manis itu tak banyak bicara. Dan itu yang aku suka. Menantuku yang lain cerewet, suka membantah, malah menggunjingkanku ke tetangga.
Kemarin baru saja Winda menelfonku dengan suaranya yang ramah membuatku makin memujanya.
"Hape Mama mau diganti nggak?" ujar Winda di telfon sore itu setelah beberapa menit bicara basa basi.
"Buat apa?" Aku balik bertanya, padahal ingin segera menjawab 'iya'.
"Kata Bang Bram, Mama ingin hape yang bisa main pesbuk," jawabnya membuatku terkekeh senang.
"Sebenarnya iya, hape Mama ini cuma bisa untuk terima telfon."
"Nanti pas gajian, Winda belikan hape baru ya, Ma ... tapi yang biasa aja, yang penting Mama bisa main pesbuk." Kata-katanya sukses membuatku bangga. Betapa pintarnya menantuku ini mengambil hatiku, kepandaian ini yang tak dimiliki menantuku yang lain. Semua menyebalkan di mataku.
Winda dinikahi Bram anak keduaku 2 tahun yang lalu, setelah menyingkirkan istri pertamanya Dela. Perempuan udik tak tau diri yang suka membantah perkataanku sebagai mertuanya. Kehadiran 2 orang cucu darinya, tak mampu meluluhkan hatiku. Saat Bram memutuskan menikahi Winda secara diam-diam, lalu mencari cara mencampakkan Dela, aku bersorak gembira. Itulah resiko jika tak bisa mengambil hatiku. Paham?
Kehadiran Winda seperti oase di hidupku yang gersang. Aku punya 5 orang anak, semuanya sudah menikah. Si sulung perempuan, punya suami pengangguran, kerjanya di rumah mengasuh anak, sementara putriku yang harus bekerja dari pagi hingga menjelang malam baru sampai di rumah. Itu membuatku sinis pada menantu pertamaku itu. Untungnya mereka tinggal jauh dariku, kalau tidak, sudah kubuat dendeng menantu pemalas tak tau diri itu. Nantilah kuceritakan perangai si Yudi yang pemalas dan tak bergairah menjalani hidup itu.
Anak ketigaku, si Iwan begitu juga, punya istri namanya Leni sombongnya minta ampun, baru punya uang sedikit, sudah berlagak sok kaya di hadapanku. Sudah sering kunasehati dia, tapi dia malah menjawab ketus akhirnya nasehat itu berubah jadi caci makiku padanya. Kalau sudah begitu, si Leni tak akan mengunjungiku sampai berbulan-bulan lalu menghasut anakku untuk memusuhiku pula. Benar-benar menantu durhaka.
Berbeda lagi dengan si Romi anak ke empatku, dia anak yang dulu paling kusayangi, karena lama menjadi bungsu. Tapi diusianya yang baru menginjak 21 tahun, dia sudah ngotot mengawini pacarnya, perempuan kampung yatim piatu yang umurnya belum 20 tahun saat dikawini Romi. Aku murka, tanpa izinku mereka tetap menikah. Kuharamkan menghadiri pernikahan mereka.
Lalu si Bungsu, Fera, lagi-lagi dapat suami yang tak tau diri, tak tau sopan santun, mereka juga menikah tanpa restuku. Suaminya hanya preman tak ada pekerjaan, dan aku tak rela.
Bisa dibayangkan bukan bagaimana rasanya ketika aku mendapat menantu seperti Winda? Aku bangga dan bahagia, sering kubahas dengan suamiku tentang anak dan menantu kami, memang hanya Winda yang menyenangkan hati kami, semoga begitu selalu ....
Bersambung ....
YOU ARE READING
Menantu Kesayangan
General FictionKalau punya mertua yang selalu memandang apa saja yang dilakukan menantu-menantunya kira-kira gimana ya rasanya? Kok ada mertua seperti itu? kisah ini akan diceritakan dari segala pov para anak dan menantu.
