Pulangkan Aku dari Masa Lalu

1.5K 104 91
                                        

Kepada: wardah.selalucantik@gmail.com
Subjek: Catatan terakhir

Dear, Dedek cantik dan baik hati. Catatannya sudah kurevisi sesuai koreksianmu, semoga nggak ada revisian lagi. Plis!

Lampiran: Catatan Istri Pertama

Email terkirim

Lega. Ini sudah lima kali aku merevisi catatan yang diminta Dedek Wardah—sebenarnya aku sangsi memanggilnya Dedek. Catatan itu sudah ditulis sejak  Ranjang Sebelah diwacanakan terbit.

Karena terlalu berat buatku, akhirnya terkatung-katung. Tulis-menulis pernah kutekuni dulu waktu Aliyah, tapi tidak pernah menulis catatan kisah piluku. Catatan yang setiap kali diminta revisi, masa lalu berpantulan.

Seperti saat ini. Rasanya hati ini tercerabut dari ketegarannya. Lunglai dalam pengandaian.

"Seandainya ya, Lin, aku dulu ndak bilang iya waktu Mas Byan bilang Ummah nyuruh kita nikah. Mungkin Dedek Wardah ndak akan menyiksaku dengan kenangan-kenangan menyakitkan itu." Kukirim pesan ini ke Nalini, teman masa Aliyah dulu yang baru dipertemukan kembali.

"Huss. Ngomong opo kuwi. Ingat, fainna lau taftahu amalasy syaitoni. Kata andai itu bisa membuka (pintu) perbuatan setan. Masih ingat, kan, hadis ini?"

Kututup aplikasi pesan daring setelah menjawab pesan Nalini dengan emotikon senyum, menyulih ekspresiku saat ini. Tersenyum. Lucu, Lini selalu menyentilku dengan petuah berdalil.

"Turu, Nis?"

"Dereng, Mi. Ada apa?"

Umi masuk bertepatan saat aku merebahkan diri di kasur. Dia duduk di sembiran dipan. Dari rendah bahunya, aku bisa menebak ada yang meberatkan pikirannya. Semoga bukan lagi tentang taaruf-taaruf kemarin.

"Kok, ndak metu? Ndak sumpek toh, tinggal di kamar tok." Pasti ini mukadimah Umi buat membuka obrolan sama seperti lalu-lalu. Yang tadinya berniat mendengar apa pun—selain perjodohan tentunya—dari Umi, sekarang tiba-tiba kantuk lebih berkuasa.

Kupunggungi Umi yang masih mengamatiku bagai bocah umur sepuluh tahun.

"Nis—"

"Kalau soal taaruf, Nisa lagi ndak pengin bahas, Mi. Kapan-kapan saja kalau Nisa sudah siap," selaku sebelum Umi bicara lebih banyak tentang laki-laki yang mau dikenalkan.

"Buyamu di sini. Kamu ditunggu di ruang tamu."

Buya? Ada apa?

Entah seberapa besar wibawanya, mendengar nama Buya kantukku ambyar.

"Jarene ada yang mau disampaikan langsung ke kamu." Umi menambahkan, seolah kalimat terakhirnya alasan terkuat aku harus menemuinya.

Buya hanya dua kali datang ke rumah ini semenjak mengasuh pesantren. Pertama, waktu pertunanganku dengan Mas Byan. Kedua, waktu akad nikah. Ah, lagi-lagi bayangan tentang hari itu bergelantungan di benak. Seperti tunas, senantiasa berkembang dalam ingatan.

Kedatangan Buya terlalu langka, tentu kali ini ada sesuatu yang mendesak.

"Ada apa, Mi? Ummah ndak sehat ta? Atau Mas Byan kenapa-kenapa?"

Ya Allah, bahkan nama itu masih begitu fasih terucap lidah ini. Seolah-olah masih menjadi hakku yang wajib dipastikan keadaannya. Dan nama itu sukses membuat Umi memelotot, antara terkejut dan marah. Mungkin Umi menyadari, betapa dalam anaknya menyimpan nama itu.

"Ini bukan tentang Ummah atau Mas Byanmu. Ini tentang kamu. Gantio kelambi seng rapi, terus metu!" Umi beranjak setelah mengultimatum.

Tentang aku?

SINGLE KEDUA: Catatan dari NisaHistórias para pegar e não largar. Descubra agora