Rintik-rintik hujan turun, membasahi kota Jakarta. Menemani kesunyian diantara aku dan dia. Sejak pertama kali kami menduduki tempat ini, tak ada satu pun yang berusaha untuk mencairkan suasana.
Aku menghela napas, ini sudah sering terjadi. Sangat sering. Tapi aku selalu tidak perduli. Membutakan diri dari segala kenyataan yang ada. Aku hanya berusaha untuk mempertahankan dia, mempertahankan hubungan kami.
Tapi, terkadang, aku lelah juga,
Karena yang berjuang hanya aku.
Sedangkan yang diperjuangkan, tidak pernah perduli.
Atau bahkan, dia tidak tahu bahwa aku sedang memperjuangkannya?
Aku tidak tahu.
Sudah hampir lima bulan kami berpacaran, dan hal ini tak pernah tak terjadi. Selalu terjadi. Haruskah aku akhiri semuanya? Haruskah aku mulai membuka mata dan menerima segala kenyataan yang ada? Yang selama ini berusaha aku hiraukan? Jika iya, maka akan ku lakukan sekarang. Ya, sekarang.
"Aku-" ucapanku terhenti karena dia juga mengatakan hal yang sama.
Aku tersenyum canggung. "Kamu aja dulu."
"Gak," dia menggeleng, "kamu dulu aja."
Aku menghela napas, mencoba meyakinkan diri bahwa yang akan ku lakukan itu benar. Memang benar. "Kita... udahan aja ya?" suaraku memelan.
Matanya sedikit membesar, mungkin kaget. "K-kenapa?" kali ini suaranya juga ikut memelan, sama sepertiku.
Miris, aku terkekeh getir. Nyaris menangis. "Buat apa juga? Kamu sukanya sama Ana. Bukan sama aku. Dan seharusnya, aku ngelakuin ini dari dulu. Bukan sekarang. Tapi mau gimana? Awalnya aku berusaha yakinin diri kalau kamu bisa pelan-pelan nyoba buat sayang sama aku, tapi apa? Sia-sia. Gak ngerubah apapun. Kamu tetep sayang sama Ana, dan aku tetep pacar kamu yang sama sekali gak kamu sayang. Jadi.. yah, aku nyerah kali ini, aku buka mata aku yang sebelumnya aku tutup dari kenyataan bahwa ...," jeda, aku menarik napas pelan, "kamu sayang sama Ana, dan akan selalu begitu."
Air mata yang sedari tadi ku tahan, terjun bebas dari mataku. Hanya setetes, tapi disusul tetes-tetesan lainnya. Aku menyerah, benar-benar menyerah.
"Tapi...," dia menutup kembali mulutnya yang tadi membuka, tak jadi melanjutkan.
"Tapi apa?"
"Tapi aku udah terlanjur janji sama diri aku di awal, aku bakal berusaha untuk sayang sama kamu," lirihnya, menundukkan kepala.
Hatiku teriris.
Kenapa?
Kenapa baru sekarang dia bilang?
Disaat aku udah yakin untuk mundur?
Aku menghela napas, memijat pelipisku. Pusing.
"Maaf aku buat kamu bingung. Selama ini aku berusaha buat ngehilangin perasaan aku buat Ana. Dan kayaknya berhasil. Kali ini, giliran aku berusaha buat sayang sama kamu Isla," Iqbaal menggenggam tanganku. Menatapku dalam. Oh Tuhan, aku tak tahan jika begini.
"Tapi.."
"Kumohon Isla, biarkan aku berusaha untuk menyayangimu," bujuknya.
Menghela napas pasrah, aku mengangguk. "Sayangi aku, setulus aku menyayangimu."
*
a,n
soooo, hai! aku punya 'pekerjaan' lagi nih haha, jadi ini Cuma one shot aja. ga dinext-next gituu. maap kalo garing ha ha, aku baru buat oneshot kayak gini soooo maap kalo aneh x
26 Oct 2014
16:22
YOU ARE READING
Fangirl.
FanfictionHanya berisi One Shot(s). Request bisa di kolom komentar, sertakan nama dan judul lagu. Thanks x Copyright © 2014 by SAHABATCJR. All right reserved.
