Prologue

108 18 0
                                        

"Versiku ialah bagian menjadi manusia," Seung Wan berkata lembut nan penuh penekanan. "Bumi tanpa luka.. bukannya tidak bisa di bayangkan?"

Sang pewawancara mengangguk puas dengan salah satu sudut bibir terangkat. "Betul juga. Aku sendiri tidak bisa."

Seung Wan tertawa kecil mendengar opini penuh kejujuran dari lawan bicaranya.

"Mau luka dalam diri, mau luka luar diri, semua memiliki fungsinya masing-masing yang kebanyakan dari kita tidak sadar," Seung Wan melanjutkan.

"Lalu cara untuk menyadarinya adalah?" Seung Wan menarik nafasnya sehalus mungkin sebelum mulutnya terbuka lagi.

"Luka sebenarnya tidak pernah hilang, ia
di lalui dengan segenap penyelesaian yang biasanya tidak di iringi dengan pencaritahuan akan alasan keberadaannya di mana itu tidak membuat kita menjadi sesosok yang lebih maju." Setelahnya Seung Wan menghelas nafas, merasa puas akan jawabannya barusan.

Lagi sang pewawancara mengangguk dengan tatapan tersirat kagum yang Seung Wan mampu baca tanpa kemampuan khusus, jelas ia merasa tersanjung dan bangga.

"Sekarang aku mengerti kenapa kau mendapat predikat wanita sempurna, Seung Wan-ssi," dia berkata masih dengan tatapannya sedari lima detik lalu.

Bola mata Seung Wan menatap ke arah lain sejenak selain ke arah lawan bicaranya, terlihat berpikir, menyusun balasan yang paling tepat untuk kalimat yang terlontar.

"Sejujurnya.. aku tidak menyukai kata sempurna, karena.. aku tidak sempurna,"

Si lawan bicara terheran, terlihat dari bola matanya yang membesar selama beberapa saat. "Lantas? Kau ingin orang banyak melihatmu sebagai apa?" Seung Wan tersenyum lebar, bersedia mengungkapkan yang sebenar-benarnya dari keinginannya.

"Hanya sebagai seorang perempuan yang kebetulan mendapat kesempatan untuk berbagi pemikirannya."

Seakan tertular, lawan bicaranya ikut menegembangkan senyum penuh setelah mendengar penuturan Seung Wan. "Ini harusnya tidak di ungkapkan saat ini tapi, aku sungguh penggemarmu."

"Dan aku sungguh berterima kasih,"

"Maka yang terakhir, apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan pada orang-orang?"

Kali ini matanya menyorot ke dalam kamera seraya berucap tenang. "Untuk siapapun yang sedang berjuang, lanjutkanlah. Hiduplah. Bertahanlah."

"Cut!"

Kedua orang yang tadinya terduduk itu lalu terbagun setelah ada indikasi dari salah satu orang lainnya yang berada di dalam ruangan bahwa kamera telah dimatikan.

Jabatan tangan bukan hal yang harus dihindari, maka Seung Wan yang pertama mengulurkan tangannya dan langsung di sambut dengan suka cita.

"Benar aku berterima kasih serta bersyukur atas kehadiranmu dan obrolan yang.. aku bahkan tidak bisa menuangkannya ke dalam kalimat."

Dia meggeleng kecil sembari tersenyum, "Berkata dirimu, aku merasa sangat amat nyaman jadi, terima kasih kembali."

Kontak tangannya lalu terlepas, tidak dengan tatapan mereka yang masih menyatu. Di lanjutkan dengan pertanyaan akan kehadiran Seung Wan di sebuah acara makan malam perusahaan tersebut dua hari lagi.

"Yah, besar kemungkinan aku akan ada di sana,"

"Dengan membawa siapa bersamamu jika aku bisa tahu?"

Perempuan itu lalu menunduk, tatapannya teralih pada lantai. "Itu sudah pasti kakakku."



FOR LIFE ((SEUNG WAN SON))Geschichten, die süchtig machen. Entdecke jetzt