OO :- [A] Wooseok, Kim

135 14 5
                                        


          Wooseok kembali tersenyum saat menatap lamat seorang pria jangkung di hadapannya yang tengah serius mengerjakan sesuatu di atas tumpukan kertas yang berceceran. Wajah itu menjadi 2x lebih tampan jika dilihat-lihat dalam keadaan raut yang serius, lengkap dengan bulir keringat kecil menetes di tiap pelipisnya.

          Seakan menyadari dirinya tengah di perhatikan, pria di hadapannya terdiam sejenak lantas mendongak perlahan. Mata tajamnya menangkap tatapan jernih Wooseok yang masih asyik menaruh atensi pada dirinya hingga kedua mata itu bertemu. Manik gelap tajam yang hangat itu memantulkan bayangan Wooseok yang masih mempertahankan senyumnya bagi si pemilik mata.

          Oh ayolah, siapa pun tahu bahwa Wooseok sangat pelit tersenyum. Bahkan saat sedang berfoto atau saat membagikan selebaran acara fakultasnya kepada orang-orang yang tentunya ia dituntut menjadi ramah, bisa di tebak bahwa Kim Wooseok tidak akan tersenyum semudah itu. Namun hanya butuh satu per sekian detik untuk membuat senyum Wooseok terbit saat dirinya melihat senyum lebar secerah matahari milik kekasihnya, karena memang pada nyatanya senyum lebar itu bersifat menular.

          "Disuruh tidur malah senyam senyum gak jelas. Tiduuuurr Wooshin sayaaang~"

          Tangan panjang itu bergerak menuju pipi Wooseok, mencubit lembut pipinya dengan gemas kemudian diakhiri dengan elusan lembut di sana. Senyum lebar kekasihnya kembali hadir diiringi tawa kecil sebagai bukti betapa menggemaskan oknum bernama Kim Wooseok. Dan untuk seper sekian detik, Wooseok yang masih asyik cemberut karena kesakitan atas cubitan lembut itu, kembali menerbitkan senyumnya lagi. Sangat manis.

          "Aku juga mau," Wooseok merengut kesal saat kekasihnya itu kembali fokus pada tumpukan kertas yang masih memenuhi meja sembari sesekali menyuap ice cream vanilla ke dalam mulutnya.

          "Apa?" Raut bingung tercetak jelas, lengkap dengan kening mengkerut si lawan.

          "Ice cream!" Wooseok mencebikkan bibirnya, ia butuh sesuatu yang manis karena mulutnya terasa sangat pahit. Namun kekasihnya malah terkikik di hadapannya sekarang, bukannya menuruti permintaannya.

          "Wooshin sayaaang, kamu tuh lagi sakit, panas kamu belum turun. Aku kan udah nyuruh tidur dari tadi biar cepet sembuh, malah diem ngeliatin aku ngerjain revisi, biar apa coba aku tanya?"

          Telapak tangan itu bergerak merapikan rambut Wooseok perlahan dengan penuh kasih sayang. "Eh sekarang malah mau ice cream, yang bener aja deh kamu. Sembuh aja belum malah mau yang macem-macem."

          Wooseok merengut kesal, bibirnya mencebik kemudian merengek pada kekasihnya.

          "Aku tuh mulutnya paiiit huhuhu . . Ngga mau bobo maunya ice cream!" Wooseok menatap lelaki yang masih betah tersenyum di hadapannya.

          "Hhhh . . Tapi abis makan ice cream janji tidur ya?"

          Mendengar penawaran yang nyaris mustahil itu membuat Wooseok dengan segera menganggukkan kepalanya dengan sangat antusias.

          Namun yang terjadi malah kotak ice cream itu diambil kekasihnya pergi menjauh dan kembali diletakkan ke dalam freezer sambil sesekali iseng melahapnya, Wooseok kembali merengek kesal akan perlakuan jahil kekasihnya.

          Kemudian dengan telaten, tubuh jangkung itu membawa tubuh mungil milik Wooseok yang tenggelam dibalut selimut kuning tebal menuju kasur, membuat Wooseok semakin merengek. Wajah merah padam Wooseok menyembul diantara lipatan selimut saat mendarat di atas kasurnya, kacamata bundar yang merosot masih asyik bertengger di hidungnya. Lengkap dengan bibir cherry nya yang mencebik mengeluarkan rengekan.

Boon ;-  WeishinWhere stories live. Discover now