Kenangan Kala Senja

112 7 4
                                        

Awan hitam masih bergelayut senja ini. Tetesan air hujan menyisakan genangan air dihalaman rumah. Aku masih setia mematung sedari tadi. Sejumput kenangan itu datang lagi senja ini. Menyapa ditengah dingin nya angin yang berhembus.

Kenangan itu tidak datang sendiri, namun membawa bayangan dia bersama nya. Mulai ku julurkan telunjuk ini pada kaca yang berembun, mencoba mengukit sisa-sisa bayang nya yang terbawa oleh kenangan itu. Kini kenangan akan dia perlahan melebar. Menjadi terang dan jelas seperti ketika ku ukir bayangan nya sekarang. Hanya saja kini yang aku lihat bukanlah sebuah kenyataan.

Sejumput kenangan itu, yang telah menawarkan ku sekeping hati. Sekeping hati yang tidak pernah ia satu kan pada kepingan hati milik ku. Benar, kamu benar. Karena sekeping hati yang utuh telah ia genggam terlebih dahulu.

Kenangan itu datang bagai kepakan sayap kupu-kupu di halaman. Yang membuat ku terjebak belenggu dalam badai. Yang telah menghubungan sebuah rasa. Rasa hangat yang pernah dia tawarkan ketika pertama bertemu.

Namun kenangan akan tetap menjadi kenangan. Semakin aku membuka kenangan akan nya, maka semua itu akan semakin rapuh dan hancur.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 24, 2014 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Kenangan Kala SenjaWhere stories live. Discover now