1.000,-

54 11 1
                                        

Halaman pertama Diary Neverland.


"Hei.
Aku merindukanmu.
Aneh? Tentu aneh. Bagaimana tidak? Aku bisa bertemu denganmu setiap harinya.

Masih ingat, aku pernah bilang kalau melihatmu tertawa adalah kebahagiaan tersendiri bagiku? Iya, sampai sekarang pun masih sama.

Jadi, apa alasanku merindukanmu? Padahal setiap haripun aku bisa melihatmu tertawa.

Jadi kenapa?
Oke, untuk kali ini saja, izinkan aku untuk jujur pada diriku sendiri. Aku pikir, aku hanya...
Aku merindukan saat-saat aku merasa kamu milikku.

Katakanlah aku egois!
Tapi aku tidak pernah suka berbagi hal-hal yang menjadi milikku saat ini.

Iya, aku memang egois!
Aku menganggapmu bagaikan barang yang bisa kumiliki, padahal tidak demikian.
Aku mengklaim kamu sebagai milikku, walau aku sadar...

Aku siapa?

Terkadang aku berfikir,
Disini aku yang selalu berpikir positif bahwa caramu memang berbeda dari yang lain,
Atau aku hanya berusaha menampik kenyataan dan menghibur diri,
Bahwa semakin kesini...

...aku jatuh sendirian..."

Kuletakkan pulpenku. Kuseka air mata yang mulai membasahi pipiku. Oke, ayo lanjut lagi menulisnya.

"Ohya, dan apa kamu ingat?
Aku pernah bilang kalau aku suka sendirian.
Aku mohon, jangan percaya!
Tolong lebih percaya pada ucapanku kali ini.

Maaf, tapi...
Aku bohong untuk itu.

Aku tidak pernah suka sendirian.
Aku benci sendirian.
Aku takut sendirian.

Maka dari itu...
Terlalu berlebihankah jika aku minta kamu untuk terus...

...menemaniku..?"


Neverland, 2019
Tinkerbell

Diary Neverland Where stories live. Discover now