Start

12 3 1
                                        

Peringatan, mohon baca deskripsi terlebih dahulu sebelum membaca isi cerita :v

Arguenic Hall.
00.23 AM.

"Tsk! Ternyata ini di luar dugaanku!" gumamnya kesal begitu menyadari dirinya di kelilingi oleh begitu banyak monster. Liur mereka yang menetes ke tanah tanpa henti, semakin membuat jijik saja.

Namanya adalah Ryo, mungkin terdengar aneh tapi itulah namanya. Rambut hitam mengkilap dengan poni depan yang berpotongan acak-acakan. Dengan baju hitam yang dilapisi jubah hitam bergaris-garis biru laut.

Ryo mengakhiri tebasan terakhirnya. Membuat semua monster di sekelilingnya mengenai critical damage lalu mati. Meskipun begitu, nampaknya ia telah memilih lawan yang salah. Kekuatan yang dimiliki laki-laki itu saat ini masih belum dapat menandingi orang itu.

Suara misterius muncul dari atas sebuah bangunan yang cukup tinggi. Ryo spontan menoleh dan berjaga-jaga. "Siapa kau?" Ryo langsung berekspresi datar, begitu melihat seorang bocah turun dari atas sana. Ternyata hanya anak-anak, pikirnya.

Tak diduga anak itu malah mengeluarkan sebuah senjata yang terlihat sangat membahayakan.

“Hei, mau apa kau?” tanya Ryo histeris. Bocah yang jauh di hadapannya memiringkan kepala sedikit, dengan raut wajah yang teramat polos.

“Kau yang menantangku bertarung, bukan?” suaranya sangat kecil, lembut, dan kekanakan. Ryo mengerjap, memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. "Black Beehive, Sinner Swordsman, akulah orang itu. Masih banyak lagi julukan yang kupunya tapi aku yakin kau lebih mengenalku sebagai Grell si Tangan Tuhan."

Tidak disangka, siapa yang dapat menduganya. Bahwa rupanya Grell si Tangan Tuhan yang sering dielu-elukan karena kekuatannya yang hebat itu adalah seorang bocah.

Grell memiliki rambut hitam yang tertutupi tudung jubah berwarna hitam bergaris-garis tosca yang juga menutupi baju putihnya. Sepatunya mirip sepatu boot kecil berwarna hitam dengan hak tinggi yang kecil. Pedang bersarung warna hitam yang di pegangnya berukiran emas. Dilihat dari dekat pakaian Ryo dan Grell terlihat sama hanya saja warnanya yang berbeda sedikit.

"Heh, kudengar pedang itu terbuat dari item emas dragonzelle?" tanya Ryo yang bersikap santai meski pedang Grell sudah berada di ujung tenggorokannya. Ya, entah sejak kapan anak itu secepat angin sudah sedekat itu dengannya.
Pedang tersebut mengkilap, nampak penuh perjalanan melalui pembantaian dengan garis-garis tosca di tepian pedang tersebut. Apakah itu tand kutukan atau semacamnya, hanya Grell yang tahu.

Dragonizelle adalah duplikasi tingkat tinggi dari item dragonite. Kekuatan yang dimilikinya bahkan melebihi daripada dragonite itu sendiri. Bagi orang awam mungkin item ini cukup langka namun bagi Grell cukup mudah mendapatkannya. Selain sangat kuat, item hasil duplikat itu dapat menghasilkan racun yang sangat mematikan. Mungkin sekarang adalah saat yang tepat bagi Ryo untuk mundur, tapi sepertinya hal seperti itu tidak akan terjadi.

Grell tertarik. Sudah lama tidak ada orang yang dapat menembus pertahanan tempatnya. Anak itu memutuskan untuk memberikan sebuah kesempatan untuk berbicara. Grell pun menarik pedangnya, membuat Ryo meneguk ludah payah.

"Biarkan aku bertanya, kenapa kau menyerangku?" tanya Grell. Suasana hening sejenak, hanya desir angin yang meniup rambut dan jubah mereka. "Aku tidak suka orang yang berbohong" sela anak itu.

Ryo nampak menimang-nimang dengan penuh pemikiran. Akhirnya laki-laki itu menyerah dan bicara, "Memangnya apa lagi yang diinginkan oleh seseorang yang menyerangmu? Menjarah harta bukan? Aku ingin semua barang-barangmu" jelasnya. Grell hanya menaikkan kedua alisnya. "Biasanya para pemain hebat seperti kau punya barang-barang yang hebat dan langka, bukan?" lanjutnya.

Grell diam sejenak. Namun kedua matanya yang beriris cokelat gelap itu memberikan tatapan tajam. Kemudian sebuah senyuman licik terpatri di wajahnya.

"Kudengar kalian menyebutku sebagai monster dan bukan manusia," Grell menggantungkan kalimatnya, "kalau misalnya aku iseng berkata begini bagaimana? Aku adalah cheater" sekali lagi Grell tersenyum bagaikan iblis kecil yang mencekam.

Kedua mata Ryo membulat sempurna, tanpa sebab bulu romanya merinding dan seakan-akan mati rasa. Sepersekian detik kemudian badai pasir muncul di antara mereka. Dengan sekali tebas, Grell membuat angin topan yang sangat besar sehingga membuat Ryo terpental sangat jauh.


***

Monasty Cave.
01.56 A.M.

Setelah cukup lama tidak sadarkan diri, Ryo akhirnya terbangun dan menemukan dirinya di dalam jurang yang gelap. Ya, laki-laki itu berada di dalam sebuah dungeon.

Teringatlah kejadian beberapa jam silam, Ryo terdiam sesaat seperti berpikir. “Kuat sekali dia... tunggu...” Ryo masih mengumpulkan jiwa-jiwanya yang belum terbangun. Lalu saat sudah sadar sepenuhnya, “Dia itu cheater!?” pekiknya terkejut.

Entah mungkin karena aura kehadiran Ryo yang mengganggu atau karena suaranya yang sangat memecahkan gendang telinga, para monster dungeon mulai bermunculan. Mungkin lebih tepatnya mereka terundang oleh teriakan barusan. Ryo langsung bersiaga dan mengeluarkan pedangnya dan bersiap untuk melawan.

Tanpa sebab bayangan Grell melintas di kepala Ryo begitu saja. Sembari bergumam rendah, dengan geram pedang itu diayunkannya. Saat hendak melawan monster-monster tersebut, tiba-tiba saja pandangannya berubah.

•You are disconnected•

TBC.

Versi lengkap ada di buku yaa =^=

https://www.guepedia.com/Store/lihat_buku/NDM0Mg

https://www.tokopedia.com/guepedia/futuristic-fantasy-disorganized-game

https://www.bukalapak.com/p/hobi-koleksi/buku/novel/1xmjrm7-jual-futuristic-fantasy-disorganized-game?keyword

https://shopee.co.id/Futuristic-Fantasy-Disorganized-Game-i.3104041.2397990710

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=2229708384006396&set=a.1375179096126000&type=3&theater

https://www.instagram.com/p/Bzh6Zftn5Ut/

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 17, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

Futuristic Fantasy, Disorganized GameStories to obsess over. Discover now