"Apa yang membuat kamu berani menikahi anak saya?"
Chanyeol mengulum bibirnya ke dalam sambil memikirkan jawaban yang sekiranya tidak membuat ia gagal lagi. "Saya bertanggung jawab, om." ujar Chanyeol mantap. Kepalanya yang sedari tadi menunduk kini pelan-pelan terangkat, mencoba memberanikan diri menatap ayah kekasihnya. "Saya bertanggung jawab atas hidup Jeyin, senang dan sedihnya. Saya mampu memberikan Jeyin segalanya."
"Segalanya apa?"
"Pa," Jeyin kini beruara. Ia melihat ayahnya dengan tatapan memohon.
"Jeyin-ah, aku tidak akan membiarkanmu hidup tanpa kebahagiaan."
"Chanyeol itu bahagianya Jeyin, pa." Potong Jeyin cepat. Perempuan dua puluh lima tahun ini memegang tangan kekasihnya, memberi kekuatan masing-masing. "Jeyin mohon pa, Chanyeol bukan orang yang ada dipikiran papa."
Lantas pria itu menatap Chanyeol lekat-lekat. Mencari kebenaran yang diucapkan anak perempuannya, tapi nihil. Bagaimanapun juga, apapun yang dikatakan Jeyin tentang Chanyeol tidak akan mengubah pandangannya terhadap laki-laki itu. Ia tidak akan pernah membiarkan Jeyin hidup dengan kesedihan sampai kapanpun.
"Saya janji om, saya tidak akan mengecewakan Jeyin dan om." ujar Chanyeol dengan suara tegas.
Jeyin menatap ayahnya sekali lagi dan kini ia hampir menangis. "Pa, aku mohon." ucapnya dengan nada bergetar.
Pria itu menelan ludah dengan kasar. Ia diam beberapa saat mempertimbangkan semuanya sebelum ia mengangguk terpaksa. Seketika itu Jeyin langsung memeluknya sambil menangis. "Gomawo ..." gumamnya.
"Terima kasih, om." ujar Chanyeol dengan mata berkaca-kaca.
*****
Bangunan yang menjulang tinggi di kota Seoul menjadi pemandangan Chanyeol malam ini. Ia berada di balkon sambil menikmati keindahan kota kelahirannya dan sepuntung rokok di tangan. Apakah ini sudah cukup? Pikirnya sekarang. Ia mempunyai harta dan Jeyin tetapi mengapa masih saja terasa seperti ada tembok yang mengurungnya.
"Sayang." Chanyeol menoleh ke belakang dan merasakan tangan melingkar di perutnya. "Kenapa?" suara lembut Jeyin dari belakang punggung Chanyeol bergema di keheningan.
Meski Jeyin tak bisa melihat wajahnya karena Chanyeol memunggunginya, namun ia bisa merasakan kegelisahan di dalam hati laki-laki itu. Sebab, benda yang dihisap Chanyeol adalah obat penenang saat Chanyeol merasa sedang tidak baik. Jeyin sudah hapal semua hal tentangnya.
Laki-laki itu menarik napasnya dan mematikan rokok. Tangannya yang semula bersangga pada pagar kini berpindah di perutnya. Memeluk tangan kecil istrinya dan mengusapnya perlahan. "Gapapa," jawab Chanyeol singkat.
"Jangan khawatir, kita bisa melewatinya. Aku yakin kita bisa." ujar Jeyin lalu mencium punggung telanjang Chanyeol. "Kamu percaya itu kan?" sambungnya lagi.
Chanyeol menghela napasnya dengan berat. Ia tahu Jeyin mengerti apa yang dirasakannya sekarang. Perempuan yang ia cintai ini tidak pernah salah menebak dan itu membuat Chanyeol terkadang merasa bersalah terhadapnya. Dengan senyuman, ia berbalik menghadap Jeyin. "Aku percaya. Terima kasih." katanya saat menarik Jeyin dalam pelukan.
Keduanya kemudian menikmati hembusan angin malam dan menyaksikan jalanan kota Seoul dari ketinggian. Semuanya tampak sangat sempurna. Dunia terasa sangat indah dan tidak ada yang bisa meruntuhkan itu. Tidak ada yang mampu memisahkan dengan kekuatan yang mereka miliki. Diam-diam, keduanya mengamini harapan itu di dalam hati.
"Kenapa kamu gak pakai baju? Emangnya gak kedinginan?" ucap Jeyin memecah keheningan lalu tangannya mengusap dada bidang Chanyeol tanpa melepaskan pelukannya. "Badan kamu udah dingin gini."
"Enggak, kan kamunya hangat."
Jeyin menatap Chanyeol yang sedang menutup matanya. "Masuk, yuk?"
"Kenapa?" Laki-laki itu membuka mata dan menatap Jeyin yang hanya sebatas dagunya.
"Kok kenapa? Nanti kamu sakit." ujar Jeyin melepaskan pelukan kemudian menatap Chanyeol kesal. Masih saja tidak memperdulikan kesehatan dirinya sendiri dan Jeyin membenci itu dari dulu.
Chanyeol yang paham Jeyin sedang kesal hanya menanggapinya dengan tertawa kecil. "Yaudah yuk, jangan marah dong." katanya menarik tubuh Jeyin ke dalam kamar dengan memeluknya dari belakang.
"Kamunya bandel banget."
"Iya, sayang. Maaf." Chanyeol duduk di atas kasur lebih dulu lalu menarik Jeyin untuk duduk di sela-sela kaki panjangnya kemudian ia mengambil ponselnya yang tadi ia tinggalkan di atas bantal.
"Mau ngapain sih?" ucap Jeyin sembari ingin melepaskan diri dari dekapan suaminya. Namun Chanyeol menahannya dengan cepat. "Yeol, aku mau tidur."
"Bentar dulu. Sini aja bentaran." katanya sambil membuka sebuah aplikasi di ponsel.
"Ngapain sih?"
"Kita nobar."
Jeyin mengernyitkan kening dan melihat aplikasi yang dibuka Chanyeol. "Nobar apa?"
Chanyeol mendekatkan mulutnya ke telinga Jeyin, lalu berbisik. "Ituan, mau ya?"
"IH!" Spontan Jenyin mencubit paha Chanyeol. "Gamau, jorok."
"Aduh yang sakit tau!" Protes Chanyeol sambil mengusap pahanya dan meringis kesakitan. "Liat nih merah."
"Bodo." ujar Jeyin lalu merangkak menjauhi tubuh Chanyeol. "Aku bilang gak mau." katanya saat tangan Chanyeol menariknya lagi ke dalam pelukan.
Laki-laki itu mengunci tubuh Jeyin dengan kedua kaki dan sebelah tangannya. "Mau kemana sih kamu? Diem aja sini." ucap Chanyeol mulai kesal karena Jeyin terus melepaskan diri.
"Aku gak mau, Yeol. Aku mau tidur."
"Tidurnya gini aja. Kamu gak mau aku peluk, ha?"
Jeyin diam beberapa saat. Wajahnya tertekuk karena percuma saja jika ia melawan. Chanyeol punya tubuh dan kekuatan lebih besar. "Yeol, aku gak mau nonton begituan." suaranya melemah, seperti memohon.
"Ya ampun, yang. Aku becanda doang." kata Chanyeol dengan nada antusias. Ia tidak percaya Jeyin benar-benar bersikap demikian. "Gak mungkin lah aku ajak kamu nonton itu. Eh tapi sebenarnya gapapa sih."
"Ih!" Jeyin memukul pelan lengan Chanyeol.
"Iya engga. Udah sini tidur." Kemudian Chanyeol membenarkan posisi agar lebih nyaman dan menarik Jeyin ke dadanya. "Aku tuh mau buka aplikasi lagu. Tidurnya ditemenin lagu kesukaan kamu."
Jeyin seketika menggeser kepalanya sedikit untuk menatap Chanyeol. Ia ingin tersenyum tapi rasa kesalnya masih belum hilang. Setelah itu mulai terdengar suara vokalis band Blossom bernyanyi, ketika itu Chanyeol pun juga menatap Jeyin dan mendekatkan wajahnya.
"Good night." Bisiknya lalu melumat bibir Jeyin dengan lembut seolah kata-kata cintanya tersalur disana.
YOU ARE READING
Forgive
Romance[MATURE CONTENT | HARAP BIJAK] What's mine, is mine | Copyright©2021, Ficypen
