"So why did you like black coffee?"
"Well, it's bitter, but i enjoyed it. Such as life."
"Then why don't you like it anymore?"
"Because life already tastes too much bitter for me, and i don't need anymore of it in my drink."
(siap-siap ditimpukin pecinta kopi 😂)
.
Hai, kawan!
It's bitter but sweet, aku menyebutnya perjuangan.
Mari aku ceritakan tentang aku dan riba. Maukah kamu duduk sejenak dan membaca sampai selesai?
Hidup di Indonesia, aku terdidik untuk menerima riba sebagai bagian dari gaya hidup.
Hey, rasanya tidak ada yang salah, kok, dengan kredit baju, tas, atau cincin emas. Harga cash sama kreditnya beda? Wajar, lah. Kasian juga kan mereka nungguin lama.
Perlu motor? Enggak ada duit lah, Beb, kalo cash. Kredit aja di leasing. It's easy. Tinggal cari yang pake DP rendah, plus cicilan ringan.
Kartu kredit? Boleh juga. Soalnya sekarang hampir semua belanja online membutuhkan kartu kredit untuk cicilannya. Ya udah, terima juga aja pas ditawarin via telepon. Simple, kan?
Rumah? Alhamdulillah diterima KPR Banknya. Lumayan, karena rumah subsidi, cicilannya flat selama 15 tahun.
Kenapa enggak nabung aja? Duh, Maak ... kalo enggak ngredit, kapan mau punya-punya barangnya? Ini cara nabung yang lebih mudah, lah. Kita, nih ya, kalo enggak dipaksa bayar sama orang, malah enggak jadi-jadi nabungnya.
Tau, kan, hukumnya riba? Tau sih, haram kan, ya, katanya. Ah, tapi, Bu Haji sebelah rumah juga kemarin cerita baru DP mobil di leasing A. Pak Ustadz juga bilang, diterima KPR rumah di kota sebelah. Jadi, masa enggak boleh?
See? Terkadang sebuah dosa jika dilakukan bersama-sama, tidak akan terasa sebagai dosa lagi. Begitupun riba, di negara ini.
Padahal, mengambil keuntungan sekecil apapun dari transaksi utang piutang, dilarang dalam islam. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Fudhalah bin Ubaid radhiyallahu ‘anhu, “Semua utang yang menghasilkan manfaat statusnya riba” (Hadist Riwayat Al-Baihaqi).
Padahal, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat pemakan riba, yang memberi riba, penulisnya dan dua saksinya,” dan beliau bersabda, “mereka semua sama.” (Hadist Riwayat Muslim)
Bahkan, jika kita meminjam uang sejumlah Rp.100.000 kepada teman kita, lalu kita mengembalikannya dengan membawakan seplastik jeruk sebagai kelebihan, maka jeruk tersebut adalah riba. Kecuali, kita memisahkan waktu pemberian, dan mengatakan bahwa buah ini merupakan hadiah.
Sok saleh, lu. Kayak yang ngerti agama aja.
Tidak, Kawan. Bukan begitu. Aku harus menjelaskannya, karena itulah inti cerita ini.
Berbekal pendapat awam mengenai riba, aku terjebak dalam lingkaran setan tak berkesudahan.
Tahun 2012, aku menjual dua unit mobil Avanza Veloz dengan harga di bawah pasaran, dari seorang teman. Sebut saja namanya Mawar. Oleh dua konsumen saya, mobil ini dibayar secara cash. Tentu saja langsung aku berikan kepada Mawar, dengan dipotong keuntunganku sebagai penjual.
It's my fault for being too easy to trust a person.
Rasanya hampir gila ditagih konsumen mengenai mobil yang tidak kunjung diantarkan. Sementara Mawar, adaaaa saja alasannya untuk menunda pengiriman barang. KTP yang tidak sesuai, perusahaan yang mengganti warna mobil, juga seabrek alasan lain yang -- entah kenapa -- masih juga kupercayai.
Pernah, aku dan suami hampir bermalam di halaman masjid di Sentul, karena Mawar menjanjikan mobil towing akan melewati area itu malam tersebut. Kami penasaran dan menahan rasa tidak nyaman untuk berusaha memejamkan mata di mobil tua yang dipinjamkan Bapak, demi bisa mengirim BBM bahwa "mobil sudah dalam perjalanan". Nyamuk menjadi kawan di mobil, cicak menjadi teman di beranda masjid. Aku sedang hamil muda saat itu.
Tahukah kau, kawan? Ditagih itu ... tidak menyenangkan.
Aku dan suami belajar untuk 'lari' dari kenyataan. Kami tahu bahwa ada masalah, namun malah pura-pura tidak ada masalah. Alih-alih menyerahkan masalah pada Allah, selain berusaha menekan Mawar, suami mencoba mengalihkan perhatian kami berdua pada DVD bajakan terbaru, kontrakan di perumahan pedalaman yang baru kami DP satu juta rupiah, juga obrolan ngalor ngidul mengenai masa depan. Sementara aku menenggelamkan diri dalam hobi: membaca buku juga tenggelam dalam imajinasi. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan bersenang-senang. Namun karena perkara mobil yang belum jua nampak ujung pangkalnya, tidur menjadi sangat dinanti. Karena hanya dengan tidur masalah bisa terlupakan sejenak. Sayangnya, hati akan dirundung gelisah setiap membuka mata kembali.
Setahun menanti, alhamdulillah dua mobil sampai juga ke rumah.
STNK pertama atas nama pribadi, yang cuma numpang lewat untuk menjadi hak milik orang lain. Tak mengapa, asalkan masalah selesai. Luarbiasa kelegaanku saat itu.
"BPKBnya mana, Mbak?" tanya suami pada Mawar.
"Oh, itu. Masih di leasing, lah." sahutnya santai.
Kubelai perlahan lengan suami, karena biarpun pantas dihajar, bukan pada tempatnya lelaki memukul perempuan.
"Maksudnya apa?" suami kembali bertanya, dengan kepala -- sedikit -- dingin.
Lalu Mawar menjelaskan, bahwa karena satu dan lain hal, mobil yang sudah dibayar tunai ini terpaksa dicairkan lewat leasing. No other options, dan dengan sedikit ancaman untuk Mawar, kami menerimanya.
Setahun berlalu, alhamdulillah dua usahaku berkembang pesat. Murid di tempat les menginjak angka 200 orang. Sementara bisnis snack pun mulai booming dan membuat keuntungan berlipat ganda.
Qadarullah, setelah itu, Mawar menghilang. Nomer tidak bisa dihubungi. Whatsapp, BBM, dan media sosial mati. Mengejarnya ke rumah orangtuanya, hanya disuguhi tangisan tak berkesudahan. Dari mereka, aku mengetahui sebuah fakta, yang selalu aku kambinghitamkan atas semua masalah kami setelahnya.
Rupanya memang modus Mawar untuk melakukan penipuan semacam ini. Setelah dikumpulkan di kantor polisi, untuk area Bogor Kota saja sudah dimuat 200 orang korban dalam daftar. Sebagian sudah sepakat untuk mengusut secara hukum, bahkan sebagian lain menyewa pengacara bergengsi untuk ini.
Ah ... bitter, honey.
Bitter may taste bad, but you still can feel the sweet after.
Setelah melalui obrolan penuh emosi: amarah, kecewa, saling tuding, dan akhirnya ... kepasrahan, kami memutuskan untuk membayar semua sisa angsurannya, tanpa sepengetahuan para konsumen. Insyaallah, dana sebesar sepuluh juta rupiah per bulan, akan mampu dibayarkan dengan kondisi bisnis yang luarbiasa baik seperti saat itu.
Sejak saat itu, Mawar kami panggil dengan sebutan: Guru Ikhlas.
Perlahan perasaan kami berubah. Bukan lagi marah, melainkan menjadi iba pada Mawar. Meskipun ditipu, namun kami hidup dengan tenang. Bagaimana nasibnya dengan dirongrong ratusan korban yang lain?
Darinya aku dan suami belajar, bahwa apapun dan siapapun masalahnya, hadapilah. Jujurlah. Terangkanlah semua. Tak perlu berlari, karena dengan memalingkan wajah, problema tidak akan mati.
Kalau memang sudah jalannya, terima dan lakoni saja.
Bitter is life, ikhlas is the sweet.
.
Ah ... kawan, masih panjang cerita ini. Bahkan belum memiliki akhir, karena aku masih bernyawa, dan masih mampu menulis kisah ini.
Masih inginkah kamu mengetahui kelanjutannya?
.
#AiyPuspa
Referensi sumber:
(https://konsultasisyariah.com/)
(https://almanhaj.or.id/)
KAMU SEDANG MEMBACA
Katakan Tidak Pada Riba
Non-FictionSepenggal kisah mengenai seseorang yang terjebak riba, dan terkena dampak terburuk darinya.
