Apa salahku sampai kau harus melupakanku?
Aku tak masalah jika awalnya kau tak mempercayaiku. Aku tak masalah akan itu.
Aku selalu berusaha membuktikan jika aku baik-baik saja selama kau tak terluka.
Ternyata, dengan cara ini... malah membuatmu semakin terluka, ya?
Maafkan aku. Aku sangat berharap bisa bertemu denganmu.
Bisa berbincang walau kau tak pernah merespon seperti apa yang ku harapkan.
Terkadang, ekspektasi itu membosankan. Memikirkan apa yang tak akan terjadi membuat ku merasa tak hidup.
Tapi, aku selalu berharap yang terbaik.
Sedang apa kau sekarang?
Apa kau mengingatku?
Kenapa ketika aku mulai menemukan cahaya, kau selalu saja menggapai kegelapan?
Seburuk itukah aku yang berusaha membuka pintu kenangan dimana dirimu selalu tersenyum jika melihatku?
Apa aku terlalu buruk untuk memperbaiki segala kesalahan yang pernah kubuat?
Jangan menangis. Kumohon jangan menangis!
Ini salahku!
Tetap tersenyum. Aku tak suka melihatmu murung.
Untuk mu, cahaya indah yang pernah kutemui, jangan pernah menyentuh kenangan lagi. Aku takut, kau tak akan bisa keluar dari lubang yang pernah kubuat.
Lubang dalam dan gelap bagai tatapan mata yang pernah kau lemparkan ketika kau merasa bahwa diriku terlalu jahat untuk dimaafkan.
Ini aku, dan akan selalu menantimu walau kau memang tak akan pernah kembali.
--Jeon Jaden
***
Pria itu mengucek matanya pelan. Menguap sekali lagi sebelum benar-benar membuka mata selebar yang ia bisa guna melihat biasan cahaya matahari yang menembus kaca jendela. Tunggu, tapi siapa yang--
"Sudah, cepat bangun. Oma sudah membuat sarapanmu. Jangan telambat lagi."
Pria itu hanya menolehkan wajahnya kearah wanita yang memanggil dirinya sendiri sebagai Oma--wanita paruh baya yang sedang terduduk di pinggir ranjang.
"Jaden, bangun! Atau Oma akan mengambil air."
Sampai kalimat sang Oma memenuhi rungunya, pria yang di panggil Jaden itu langsung bangkit. Tapi tak bersemangat seperti yang di harapkan sang Oma. "Apa yang kau harapkan di setiap pagimu, Jeon?" tanya sang Oma.
Jeon Jaden mendongak kearah sang Oma, lalu tersenyum. "Pelukan." kata Jaden kalem sambil tersenyum menggemaskan.
"Kau sudah berumur dua puluh dua tapi tingkahmu tak pernah berubah." wanita paruh baya yang masih mempunyai energi empat lima itu langsung memeluk sang cucu lembut. "Mandi dulu, atau sarapan? Kakek sudah menunggu di bawah." kata sang Oma.
Jaden melepaskan pelukan secara sepihak, "Mandi dan sarapan. Aku harus berangkat secepatnya." kata Jaden sambil mengambil bantal kepalanya, lalu memeluk bantal itu kuat-kuat.
Pakk!!
"Aww!! Kenapa dipukul?!" tanya Jaden sambil mengusap lengannya yang kena pukul oleh sang Oma.
"Katanya harus cepat. Tapi masih memeluk bantal?! Mandi sekarang!" perintah sang Oma.
Jaden menganggaguk ketika sang Oma mulai melangkah meninggalkan kamarnya. Si pria menyemburkan nafas lega karna sang Nenek yang sudah pergi. Ia kembali mengambil ancang-ancang ingin merebahkan tubuhnya lagi, dan memeluk guling kesayangannya. Tapi, setiap gerak-geriknya terhenti tatkala sang Nenek memasukkan kepalanya ke kamar Jaden sambil berucap, "Jadilah anak baik khusus untuk hari ini. Karna orang tuamu akan sampai ke London siang ini." sambil mengedipkan sebelah matanya dan langsung melenggang pergi.
ESTÁS LEYENDO
Setting Me Free
FanfictionIts okay about my life and your. Only setting me free, you will free. How about me? I'd run.
