Waktu itu hari yang sama seperti sebelumnya. Sendu,sepi, dan terasa sangat biasa. Itu- itu saja yang kulalui. Bangun pagi, bersiap ke sekolah, pulang kerumah,mengerjakan pr, lalu tidur. Hari-hari membosankan setelah aku putus dari dia. Dia kakak kelasku, aku tak terlalu suka dilarang ini itu. Selagi hal itu positif seharusnya dia mendukungku, bukan melarang dan menganggap itu tak penting. Dan hal ini yang menyebabkan hubungan ini diputus secara sepihak. Jujur aku sedih tapi masih ada sahabat-sahabat yang selalu memberi semangat padaku. Mereka bilang, "Udah Zi move on, laki-laki kan tidak cuma satu ada milyaran jumlahnya. Kami mengerti kalau kamu sedih tapi jangan berlarut. Kamu harus seperti gula larut cepat karena air panas, tak tampak tapi semua orang bisa merasakan manisnya." " Iya zi, yang artinya juga biarpun ditempa dengan berbagai rintangan kamu akan tetap kuat dan bisa."
Butuh waktu memang untuk merelakan segalanya, sehingga waktu terus berjalan sehingga muncullah dia. Dia teman sekelasku namanya Azam. Manusia terunik yang pernah kutemui dan kukenal. Mengenalnya sudah lama dia salah satu sainganku sewaktu sd dan madrasah. Di desaku selain ada sekolah umum khusus pagi hari, juga ada sekolah agama khusus sore hari. Desaku masih sangat kental dengan nilai religius.
Tapi ketika lulus sekolah dasar kami bersekolah di tempat yang berbeda, aku bersekolah di smp dan dia di mts. Tetapi masih di sekitar desa kami letaknya. Kami dipertemukan lagi di MA Swasta setelah lulus SMP.
Akhir-akhir ini aku jadi dekat dengannya. Azam humoris, dan yang kulihat semua teman wanitaku sangat nyaman jika berada di dekatnya.
Aku jadi sering curhat dengannya terutama masalah percintaan ku yang kandas. Aku tak menyangka yang awalnya hanya teman curhat bisa menumbuhkan hal- hal mistis seperti rasa sayang, dan nyaman. Yah aku menyebutnya hal mistis karena dia datang dengan sendirinya.
Tepat tanggal 09- 11-2012 dia mengajakku berpacaran melalui sms. Aku sangat senang saat membacanya, tetapi aku hanya ingin tahu dia serius atau tidak denganku. Besok tembak aku di depan teman-teman dan besok tanggalnya sangat cantik. Oke kamu tunggu saja besok ya, tuturnya . Esok hari tgl 10-11-2012 kami resmi berpacaran dia mengatakan didepan semua temanku. Aku sangat bahagia, setelah itu dia begitu menjagaku dan berjanji apapun yang terjadi kami akan tetap bersama.
Ay dan yank itu panggilan kesayangan kami. Lebay memang tapi begitulah adanya. "Ay, besok aku kemah pramuka di buper, pamit ya." Azam hanya tersenyum. "Kok cuma senyum- senyum saja si Ay, ngomong kek apa kek, nanya gitu." Senyumnya makin lebar. Aku memonyongkan bibirku, tanda tak suka dan meletakkan kepalaku di meja. Dengan lembut dia membelai kepalaku yang terlindung hijab. "Iya hati-hati disana, harus jaga diri." Aku hanya tersenyum simpul. Aku tahu akan ada banyak hal menyenangkan yang akan kami lalui bersama.
Sampailah aku bersama teman-temanku di bumi perkemahan yang berjarak kurang lebih satu jam dari desaku. Saat malam hari melaksanakan upacara, aku melihat sosok yang sangat aku kenal. Ya dia Azam, dia berbaris di bagian pembina pramuka. Aku sangat terkejut,sekaligus senang. Setelah upacara selesai. Teman-temanku mengerumuninya. "Tak sangka sudah jadi pembina saja kawan."ujar bima. "Cuma modal pinjam baju kakakku saja." "Ikut lomba bareng kan kita?" "Kalau kau boleh Bim." ujar Azam sambil menggerlingkan matanya padaku. Membuatku tertawa, setelah sedikit senggang kami menghabiskan waktu bersama sampai api unggun itu hanya menyisakan bara saja. "Sudah ayo masuk ke tenda sana, pasti sudah ngantuk berat kan?" "Nggak kok b aja." jawabku sambil menyenderkan kepalaku di pundaknya. "Tapi aku yang ngantuk yank. Hehehhe" "Kamu mah gitu." "Kan aku jujur sama kamu yank." "Yaudah barengan aja ay." "Jangan yank, nanti kamu hamil, kalo kita barengan." "Apa si Ay,dasar mesum. "ujarku sambil menoyor kepalanya sambil tertawa. "Aku berharap hari ini nggak cepat berakhir ay." Kulihat Azam hanya tersenyum simpul.
2 hari kemudian kami pun pulang, dan bersekolah seperti biasa. Aku dan Azam punya kebiasaan membersihkan kelas di pagi hari sebelum teman-teman masuk sekolah. Kunci kelas aku yang pegang, jadi kami bisa bersenda gurau dan bercerita atau paling nggak menghujat para netizen yang iri melihat kami.
Suatu siang tiba-tiba kamu nanya pertanyaan yang buat aku sama sekali tidak tahu akan membawa perubahan untuk hubungan kita kedepannya bisa jadi lebih baik atau sebaliknya. Yang aku harapkan semoga kita tetap baik- baik saja ya ay.
"Zivana Anastasya kamu masih sayang nggak sama si Anton?" "Nggak Ay, memang kenapa?" "Nanya aja zi."
"Nggak biasanya kamu nanya gitu, kalau udah di tahap pertanyaan pasti ada sesuatu ayo bilang apa?" " Aku cuma takut saja kamu berubah, dan jadi gak sayang juga ke aku yank, kyak kamu ke si Anton". " Kamu ngomong apaan si ay, itu kan si Anton yang ninggalin aku, disini tu yang jadi korban tu aku kali ay bukan dia." "Yaa aku cuma takut saja yank, kalau suatu saat aku yang jadi korbannya , dan kalau sampai itu terjadi gimana?" Aku hanya terdiam menatapnya. Tak pernah aku memikirkan sesuatu serumit itu. "Kamu apaan si ay, ngomong kayak gitu. Kamu mau ninggalin aku yah?" "Aku tu nanya ke kamu yank, kalau suatu saat kamu berubah, dan lebih menyayangi hal lain dibanding aku, aku harus gimana sama kamu? Apa aku boleh gak sayang juga sama kamu dan ninggalin kamu, seperti yang kamu lakukan ke Anton?" "Aku gak sejahat itu ay aku gak bakalan ninggalin kamu, selama kamu gak jahat, dan khianati hubungan ini. " "Yank itu sama sekali gak ngejawab pertanyaan aku." "Oke ay, sederhananya gini kamu boleh ninggalin aku dan gak sayang sama aku kalau aku berubah dan khianati hubungan ini. Aku juga mau itu berlaku juga buat kamu. Jadi kita bisa saling percaya ya ay. Gimana?" " Coba jawabnya gini yank gak mesti muter-muter kan? Aku setuju yank."
Kita selalu bersama, dan selalu mendukung kegiatan satu sama lain. "Yank besok aku lomba nyanyi, doakan aku ya semoga gak grogi. Sumpah aku takut sekali yank." Aku tersenyum menatapmu yang selalu gak bisa diam kalau lagi takut, mondar mandir kesana kemari. "Udah ay stop kamu lihat aku." Kamu menatapku dan bilang. "Aku tetap takut tu yank." Dan itu membuat tawa kami berdua pecah. "Orang serius juga ,Abimana Azam Abdillah becanda mulu deh." " Orang mana yang serius si yank? Kok aku gak lihat. " Ya aku ay." "Aku siapa si yank?" "Zivana Anastasya, Azam. Kenal kan Zam?" "Maaf mbak saya gak kenal, bilang salam kenal ya, dari namanya sepertinya orangnya cantik. Terus bilang mau gak jadi pacar saya. Saya lagi jomblo ni." Setelah mengucapkan hal absurd itu kamu melarikan diri takut aku menoyor kepalamu seperti biasa kalau kamu sedang amnesia. Dan seketika kamu sudah lupa dengan hal yang kamu takutkan. Kamu benar- benar unik Zam.
YOU ARE READING
Kokoh
RomanceAku tidak tahu harus mulai darimana ay. Kau tahu ay? biasanya kamu yang selalu tahu. Iya kamu tahu bagaimana caranya menceritakan ini. Tentang aku, kamu, dan kita. Apa ay? jadi harus aku sendiri yang cerita. Oke deh kalau kamu memaksaku.
