Suara bis terhenti di depan rumah, injakan kaki satu per satu keluar dari bis. “Ayah…!!!”, jeritan gembira serta pelukan bahagia seorang Gadis kecil kepada Ayahnya. Tetesan air mata Ayah dan Gadis kecil itu menetes dengan bergantian, karena sudah lama tidak berjumpa. Gadis kecil itu bernama Azizah. Gandengan tangan seorang Ayah membawa Azizah ke dalam rumah yang larut keharuan dalam kebahagiaan.
Ayah itu pulang dari Negara Makkah ke Negara Indonesia setelah menerima kabar bahwa Istrinya telah pulang ke Rahmatullah. “Ayah, kenapa menangis ???”. azizah tidak tega melihat Ayahnya meneteskan air mata atas kepergian Bundanya. Azizah teringat sesuatu atas pesan Bunda ketika belum dipanggil untuk pulang, “Bunda berpesan kepada Azizah, Azizah harus menjadi anak yang baik, soleha, harus bisa mewujudkan cita-cita agar bisa menggerakkan Dunia, dan tolong sampaikan ke Ayah ketika sudah sampai, Bunda minta maaf atas kesalahan Bunda selama ini, dan tunjukkan dan ajaklah Ayah dimana makam Bunda nanti.”.
Air mata Azizah menetes ketika mengingat pesan dari Bunda. “Ayah, mari Azizah antar ke tempat Bunda, soalnya Bunda berpesan kepada Azizah untuk mengantarkan Ayah”. Ayah mulai sedikit tersenyum meskipun masih terlihat raut kesedihan dalam wajah Ayah. Azizah dan Ayah menaiki mobil dan di dalam mobil terjadi perbincangan antara Ayah dan Azizah, “Bunda berpesan apa saja kepadamu sayang ?”
“Bunda pesan, Azizah harus jadi anak baik, soleha, harus bisa mewujudkan cita-cita”
“Azizah hafal berapa juz dalam Al-Qur’an ? cita-cita Azizah apa ?”
“Alhamdulillah, Azizah hafal 3 juz Ayah, Azizah ingin menjadi seorang Dokter seperti Ibnu Sina Ayah”
“Ayah doakan semoga apa yang kamu cita-cita kan dapat tercapai yang penting kamu rajin belajar agar Ayah dan Bunda senang”
“Iya Ayah, Insyaallah”
“Sekitar 6-7 Menit kemudian, di dalam mobil”
“Alhamdulillah”. Ayah dan Azizah turun dari mobil karena sudah sampai di tempat Bunda. “Ayah, kenapa menangis ?”, Azizah terdiam dan ikut meneteskan air mata sesaat melihat tempat Bundanya beristirahat. “Bismillahirrohmanirrohim”, bacaan doa Ayah untuk Bunda. “Ayah, yang sabar ya.. disini Azizah masih bersama Ayah, Allah pasti telah memberikan Bunda tempat terbaik disana, di Surganya Allah”.
Ayah larut dalam kesedihan yang mendalam, bahkan ada suara Adzan berkumandang Ayah juga tidak mendengarnya. “Ayah.. Ayah.. Ayah.. mari kita shalat dulu pasti Bunda disana menunggu doa dari Ayah dan juga Azizah”. Tangan manis Azizah menggoyangkan tangan Ayahnya tapi Ayahnya tetap tidak merespon. Azizah berdoa agar Allah mengingatkan Ayah agar shalat terlebih dahulu. Azizah terus mengajak Ayahnya untuk segera shalat, Azizah sangat senang karena ayahnya akhirnya mau diajak sholat. Setelah sholat Azizah dan Ayahnya pulang kembali ke rumah untuk beristirahat.
Malam harinya, Azizah belajar untuk persiapan seleksi Olimpiade IPA besok yang diadakan di sekolahnya. “Ayah, Azizah minta doanya, besok Azizah akan berkompetisi Olimpiade IPA di sekolah.”
“Iya sayang, Ayah doakan, jangan lupa berdoa sama Allah dan doakan Bundamu juga”
“Na’am Ayah”
“Ya Allah, berikanlah aku yang terbaik, kelancaran, serta kemudahan dalam mengerjakan soal Olimpiade IPA besok yang diselenggarakan di sekolahku, berikanlah tempat yang baik disisimu untuk Bunda”, Azizah berdoa sesuai dengan kata hatinya sambil meneteskan air mata. Seusai belajar, Azizah tidur dan berniat untuk bangun pagi agar bisa melaksanakan shalat tahajjud dan shalat subuh dengan Ayahnya.
“Krrrriiiiinnnggggggg……”, Alarm berbunyi pukul 3 pagi. Azizah terbangun dan segera berdoa dan mengambil air wudhu. “Ayah, bangun ayah, shalat tahajjud”. Gadis kecil itu mempersiapkan tempat yang dibuatnya untuk shalat dengan Ayahnya. “Sayang, mari shalat, jangan lupa minta yang terbaik kepada Allah ya”
“Iya, Ayah”
“Allahu Akbar”, takbir pertama shalat tahajjud. Seusai shalat mereka pun berdoa, “Ya Allah.. sesungguhnya dzat yang paling kuat adalah engkau, maka lindungilah aku, ayahku, bundaku, dan semua umat muslim, serta berikanlah aku selalu yang terbaik”. Tetesan air mata Gadis Kecil itu mengiringi setiap doa dan angin yang berhembus pelan.
Tepat pukul 6 pagi, Azizah berangkat ke sekolah dengan diantar Ayahnya naik mobil. Sesampai di sekolah, Azizah berpamitan kepada Ayahnya. Setelah semua siswa masuk ke ruang kelas, mereka diberi arahan dan lembar soal untuk mengerjakan soal Olimpiade IPA tersebut. “Ya Allah, berikanlah aku yang terbaik”, Gadis kecil itu berdoa tiada henti-hentinya kepada Allah. Kompetisi Olimpiade IPA pun dimulai.
“Selang sekitar 2 jam pengerjaan soal Olimpiade IPA”
“Alhamdulillah”, Olimpiade IPA telah selesai. Azizah selesai mengerjakan, tidak langsung pulang, ia ingin melihat dahulu pengumuman di papan pengumuman. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya pengumuman pun dikeluarkan. Azizah berlari dan melihat apakah ada namanya di pengumuman tersebut. Azizah bingung dan deg-deg an karena belum menemui namanya hingga akhirnya ia menangis terharu karena namanya bertempat pada urutan ke 2 Olimpiade IPA. “Alhamdulillah Ya Allah, terima kasih karena engkau telah mengabulkan doaku”.
Azizah tidak sabar memberikan kabar baik ini kepada Ayah. Bel pulang pun berbunyi, Azizah berlari dan menjerit senang kepada Ayahnya. “Ayah, Azizah berhasil, Azizah berhasil”
“Selamat ya sayang, berdoalah sayang dan beritahu Bundamu bahwa apa yang kamu inginkan tercapai”
“Iya, Ayah. Terima kasih Ya Allah. Bunda, Azizah berhasil mewujudkan apa yang Azizah inginkan dan yang Bunda pesankan ke Azizah”
Merekapun menaiki mobil dan berbincang-bincang dengan santai.
“Selamat ya sudah berhasil, Ayah ikut bangga dengan kamu yang sudah berjuang demi mewujudkan Impianmu, mari kita ke tempat Bundamu, kamu ceritakan semua kepada Bundamu agar Bundamu bahagia”
“Iya, Ayah. Ayo kita ke tempat Bunda, aku tidak sabar ingin menceritakan semua kepada Bunda”
“Azizah sayang Allah, Ayah, Dan Bunda.. I Love You So Much”
“Iya itu baru anak kesayangan Ayah”
-End
YOU ARE READING
Harapan Seorang Bunda
Short Storycerita ini mengisahkan tentang impian besar seorang bunda kepada putrinya. tetapi bundanya tersebut telah wafat dan tidak dapat menemani putrinya untuk mencapai cita-citanya. akhirnya, ayahnya lah yang baik selalu menemani dan memotivasi putrinya sa...
