01

29 5 9
                                        

Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.


"Jangan terlalu menarik."
-Gavin



Semerbak wangi petrichor menyerbu ke penjuru bumi, genangan air tak sedikit memeta jalan setapak yang dibuat begitu apik. Disisinya terdapat beberapa bangunan tidak begitu tinggi namun cantik. Satu, dua aku menghitung detik dimana aku memulainya dengan kurva bibir keatas. Semuanya begitu indah. Ditambah kehadiran seseorang yang begitu kurindukan, sibuk memandangi hewan kecil panjang berbulu coklat muda -marmut.

Angin membawa feromon pemuda ini memenuhi rongga dada yang seketika membuat degup jantungku berantakan, selalu. Apalagi ketika mata hazel itu menatap mengintimidasi beberapa pasang mata pemuda lain yang kerap melirikku. Tatapan elangnya yang begitu aku sukai.

Otakku mungkin akan terus memujanya hingga waktu yang terhingga, sebelum pribadi bernama keluarga Adhlino dibelakangnya itu mendekatkan diri, "Jangan terlalu menarik." Pemuda ini begitu posesif namun aku menyukai sifat itu.

Bagaimana ya, aku merasa layaknya sesuatu yang sangat berharga untuknya. Dan seketika itu juga aku menggeleng lirih, terkekeh untuk penuturan yang aku rasa tidak masuk akal.

Sungguh, aku ini beruntung sekali memilikinya. Menjabarkan seorang Gavin tidak akan pernah cukup kertas dan waktu bagiku. Ia layaknya bumi dan oksigen tempat dimana aku hidup. Jadi, bagaimana aku dapat hidup adalah karenanya, Gavin Adhlino.

 Jadi, bagaimana aku dapat hidup adalah karenanya, Gavin Adhlino

Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.

***


Hari tidak begitu terik begitu kami menginjakkan kaki. Aku mendongak pada langit untuk mencari keberadaan surya yang seharusnya tengah bertengger pongah dan gagah disana. Namun aku semakin menyipitkan mata kala tidak menemukannya disudut manapun. Kemana perginya?

Aku mengenakan dress bunga-bunga yang awalnya memang tidak ingin menantang matahari yang nyatanya malah langit berwarna senada denganku, abu-abu.

"Aku ingin ice cream," ujarku yang bersambut alis menukik oleh pribadi disampingku.

"Seriuosly? Ini mendung dan kau baru saja sembuh dari flu."

Ya, ya memang agak aneh. Atau memang aneh. Tapi, Hey! Memangnya ada aturan yang mengharuskan ada waktu tertentu untuk melahap gumpalan manis dan dingin tersebut? Aku tidak peduli dan mengangguk saja.

Pemuda itupun membawa langkahnya mendekati penjual, sebelumnya kami sempat berdebat kecil. Hanya tiga langkah. Namun ekor mata pemuda itu sesekali mengawasi sekitarku berdiri, layaknya bocah berumur lima tahun dari seorang konglomerat yang siapapun ingin menculik guna diperas hartanya.

"Jangan duduk disana, itu terlalu jauh dariku. Nanti kalau ada apa-apa, takutnya aku tidak sempat dan kehilanganmu," begitu ucapnya saat aku akan mendudukan diri pada salah satu bangku depan toko. Seketika aku melotot yang baginya hanya angin lalu.

Yang benar saja! Jaraknya bahkan kurang dari dua meter dari antrian. Disini juga cukup ramai, jadi jika ada yang ingin macam-macam setidaknya akan ada banyak sekali saksi.


Kalian fikir, apa yang bisa terjadi padaku?

"Apa-apaan? kau mengharapkan sesuatu yang buruk menimpaku?!" Gavin menarik tanganku lembut, menuntun.



Dan kembali berucap, "Tunggu disini sebentar ya, jangan terlalu dekat. Kau tidak ingin diganggu oleh mereka bukan?" aku ingin protes, tadi ia tidak boleh terlalu jauh dan sekarang juga dilarang terlalu dekat. Maunya apa sih?!

Namun belum aku sempat melontarkan kekesalan, pemuda itu sudah berbalik meninggalkanku menuju antrian. Dan disitu aku baru mengerti, ternyata ada sekelompok pemuda berbaris acak tertangkap basah menatapku, membuang pandang ke arah lain begitu terburu setelahnya.

Pemuda beraroma hujan itu kembali dengan satu cone ice cream, menyodorkannya padaku yang tidak langsung aku sambut. Mengernyitkan dahi menatapnya.

"Kenapa cuma satu?" tangan bebasku diambil untuk menerima, yang ku ikuti dengan mataku.

"Belum ingin," aku hanya diam dan semakin tidak mengerti begitu aku mulai memakan gumpalan berwarna merah muda itu, Gavin kembali berucap, "nanti saja."

"

Ops! Esta imagem não segue nossas diretrizes de conteúdo. Para continuar a publicação, tente removê-la ou carregar outra.


LIMERENCE✔[Completed]Histórias para pegar e não largar. Descubra agora