"Woy kok malah di kunci sih pintunya. Gue mau keluar njir." ucap Kanaya yang akan keluar kelas tetapi di cegah oleh temannya. Temannya tetap dalam menghadang Kanaya keluar.
"Lo budeg. Minggir." ucap Kanaya kasar.
"Ada sesu-" perkataan temannya terpotong karena ada teman lelaki yang bernyanyi. Kanaya membalikan badannya melihat siapa yang bernyanyi. Teman temannya bergerombol. Kini Kanaya dan lelaki tersebut berhadapan.
Waktu pertama kali
Kulihat dirimu hadir
Rasa hati ini
Inginkan dirimu
Hati tenang mendengar
Suara indah menyapa
Geloranya hati ini tak kusangka
Rasa ini tak tertahan
Hati ini
Selalu untukmu
Lelaki tersebut berada dihadapan Kanaya dengan memegang jari Kanaya. Kanaya hanya diam dengan tampang polosnya.
"Gue tau ini terlalu cepat buat lo. Tapi gue beneran sayang sama lo. Gue nyaman saat lo ngehibur gue saat gue emosi. Lo merubah hidup gue. Dulu gue bar bar jadi baik. Ini berkat lo." ucap lelaki tersebut yang bernama Daniel. Sedangkan Kanaya melongo. Melihat penuturan Daniel yang selalu dia anggap teman.
Ealah Kuda nil baper. Wadouh gue tanggung jawab gak ya. Tapi di lihat wajah Kuda nil sih tampan dan tulus ke gue. Gumam Kanaya dalam hati.
Terima... Terima. Teriakan menggemang di telinga Kanaya. Kelas sedang jamkos. Semua kelas di tutup rapat.
"So, mau jadi pacar gue?" tanya Daniel dengan membawa boneka beruang. Wajah Kanaya takut. Kanaya takut boneka. Menurutnya boneka, bisa bergerak,berjalan,bahkan bisa berbicara.
Lumayan punya pacar ganteng. Batin Kanaya.
"Ya gue mau jadi pacar lo." jawab Kanaya yang nyaring di telinga Daniel. Daniel menyerahkan boneka beruangnya. Kanaya menerima dengan was was.
"Semoga dengan adanya lo. Gue bisa bahagia. Thank you so much."
***
Bel pulang berbunyi. Semua siswa berlarian pulang. Tidak halnya dengan kedua insan yang bertengkar hanya hal yang sepele.
"Gue antar lo pulang ya." kata Daniel yang di hadapannya Kanaya. Kanaya yang sedang membereskan bukunya menatap Daniel.
"Duluan aja. Gue di jemput sama sopir." jawab Kanaya melanjutkan memasukan bukunya.
"Gak bisa gitu. Sekarang gue pacar lo. Jadi gue yang akan antar lo pulang." jelas Daniel.
"Harus?" kini Kanaya siap dengan tas punggungnya.
"Y-ya harus."
"Gak usah lo duluan aja. Gue juga tadi udah telpon sopir buat jemput. " Kanaya merasa risih. Walaupun Daniel bukan yang pertama. Tapi belum ada rasa sayang ataupun cinta tumbuh untuk Daniel.
"Beneran?"
"Yaudah sono." usir Kanaya yang mendorong Daniel untuk menjauh.
"Iya. Ntar kalo udah sampe rumah kabarin."
