Bagian 1

3 0 0
                                        

Pada suatu masa, hiduplah seorang laki laki muda berumur kurang lebih dua puluh delapan tahun. Dia tinggal di pinggiran kota besar. Pemuda itu berwajah sendu dengan alis mata yang agak menurun di kedua sisinya. Bola matanya tidak berwarna hitam tetapi lebih ke abu abu tua dan terkadang seperti berubah menjadi warna coklat tua jika dia sedang berada di bawah sinar matahari. Tubuhnya tinggi semampai dengan rambut ikal yang terpotong rapi sejajaran dengan telinganya. Kulitnya sawo matang, tidak terlalu hitam dan tidak juga kuning langsat. Giginya kecil kecil dan tersusun rapi. Senyumnya ramah dan tatapan matanya selalu berbinar.

Pemuda ini tidak memiliki keluarga lagi, dulu dia dibesarkan di panti asuhan. Tidak ada yang tahu siapa orang tuanya. Tidak pengurus panti, pemilik panti, tidak juga pegawai panti yang dulu menemukannya terletak di dalam balutan selimut baru, bersih dengan beberapa mainan terletak di pinggirannya tersusun rapi di dalam keranjang.

Pemuda ini tumbuh menjadi anak yang baik hati, sholeh dengan tutur kata yang sopan. Sebentar saja dia menjadi kesayangan pemilik panti yang semakin lama semakin uzur. Sedikit demi sedikit urusan - urusan di panti dikerjakan oleh pemuda itu dengan perintah dari pemilik panti. Mulai dari membantu membetulkan atap bangunan, menguatkan kait jendela yang hampir copot, memperbaiki sepatu sepatu hingga mencuci karpet usang yang terletak di ruangan kantor pemilik panti.

Pemuda itu tidak mengeluh sama sekali. Dia mengerjakan semua dengan sebaik baiknya tanpa ada rasa keberatan dan penolakan walaupun dia tahu tidak semua anak panti diperlakukan seperti dia. Semua perintah yang diberikan pemilik panti melatihnya untuk selalu bangun paling pagi disetiap pagi, mengerjakan semua tepat waktu dan terkadang dia dapat mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus. Itu menghemat waktunya. Jadi dia selalu memiliki waktu luang walaupun begitu banyak tugas yang harus dilakukan.

Pemuda itu suka sekali membaca, dia membaca apa yang dapat dia temukan. Koran koran bekas, buku buku sumbangan tentang sejarah, ilmu agama, matematika, kejiwaan, misteri dan semua cerita yang terkadang tidak terlintas dalam pikiran. Setiap buku yang telah dibacanya selalu dikembalikannya dengan kondisi yang lebih baik dari saat ia meminjamnya. Setiap kali membaca ia selalu terhanyut dalam bacaannya dan lalu saat ia tertidur, ia pun bermimpi tentang beraneka ragam cerita yang telah dibacanya.

Pemilik panti sebenarnya sayang padanya, terkadang tanpa diketahui oleh pegawai ataupun anak anak panti yang lain, dia selalu memberikan lebih kepada pemuda itu. Apalagi setelah dia mengetahui bahwa pemuda itu menyukai buku. Terkadang, jika datang sumbangan buku yang berkotak kotak, dia akan membebankan tanggung jawab kepada pemuda itu untuk menyusun dan mengarsipkan seluruh buku buku itu ke perpusatakaan panti. Tetapi sebelumnya, dia memperbolehkan si pemuda untuk memilih dan menyimpan beberapa buku yang disukainya. Si pemuda sangat berterima kasih kepada si pemilik panti dan dari hari ke hari buku buku koleksi pribadinya menjadi semakin banyak.

Terkadang saat membagi makan malam juga seperti itu, si pemilik panti akan menyuruh si pemuda untuk membantu petugas dapur, membagi bagikan makanan untuk seluruh orang yang ada di panti itu dan kelebihan makanan dapat dinikmati oleh si pemuda. Begitu juga dengan pakaian pakaian sumbangan dan hal hal lainnya. Si pemuda selalu menerima lebih dari apa yang diterima oleh anak panti lainnya.

Tapi semua hal ini tidak menjadikan si pemuda menjadi besar kepala, sebaliknya ia malah semakin menunjukkan kepada semua orang di sana bahwa dia dapat bertanggung jawab atas pekerjaannya, dan dia dapat dipercaya. Semua pemberian pemberian itu tidak membuatnya tamak. Dia semakin lebih sering membagi barang barang yang dimilikinya kepada anak anak lain yang membutuhkan. Setiap malam, dia akan menyempatkan dirinya untuk membacakan satu dua buah dongeng kepada anak anak panti yang masih kecil, membetulkan selimut mereka dan mengecup dahi mereka sebelum mereka tidur. Terkadang jika ada anak panti yang rewel karena demam atau sakit perut, dia akan terbangun dan menemani mereka sepanjang malam. Seluruh orang di panti menyukainya. Seluruh pegawai di panti tersebut berharap dalam hati mereka agar memiliki anak seperti dia.

Pada saat dia berumur kurang lebih lima belas tahun, pemilik panti meninggal dunia. Dia mewariskan semua hartanya kepada pemuda itu. Dan keseluruhan hartanya adalah panti asuhan tersebut. Itulah yang diketahui oleh semua orang. Panti itu akan menjadi miliknya dengan satu syarat yaitu dia harus menikah dengan anak perempuan si pemilik panti. Ya, pemilik panti itu memiliki satu orang anak perempuan. Dan tidak ada yang tahu tentang itu hingga dia meninggal dan hingga wasiat dibacakan. Awalnya, si pemuda menolak wasiat itu tetapi keluarga pemilik panti menyarankan padanya untuk mempertimbangkan hal tersebut sebelum mengambil keputusan. Mereka juga berjanji untuk membantu menemukan anak perempuan pemilik panti itu. Hingga akhirnya pemuda itu pun menerimanya.

Sebenarnya keluarga pemilik panti juga tidak ada satupun yang mengetahui tentang anak perempuan itu. Dulu dikalangan keluarga memang terdengar desas desus bahwa pada masa mudanya si pemilik panti memiliki anak diluar nikah. Dia jatuh hati pada seorang pria yang sudah memiliki keluarga, mereka menjalin kasih sayang yang sayangnya terlarang dan berakhir diluar batas. Pria itu juga menyayangi keluarganya sendiri. Dia juga sudah memiliki satu orang anak laki laki dan satu orang anak perempuan yang masih kecil kecil. Sehingga tidak ada jalan lain bagi si pria selain meminta maaf dan meninggalkan pemilik panti yang saat itu masih mengandung.

Tapi si pemilik panti bukanlah perempuan yang mudah putus asa, dia akan menanggung tanggung jawab yang seharusnya merupakan tanggung jawab bersama. Tidak ada yang tahu di mana dan bagaimana dia melahirkan anaknya, dan beberapa tahun kemudian dia kembali ke daerah itu untuk mendirikan sebuah panti asuhan. Karena dia tidak membawa seorang anak bersamanya, tidak anak laki laki ataupun anak perempuan, maka tidak ada lagi yang bertanya tanya tentang desas desus itu dan desas desus itupun menghilang dengan sendirinya.

Keluarga si pemilik panti bukanlah keluarga yang kaya raya, mereka hidup seadanya selayaknya warga pinggiran kota. Mereka jujur dan cara pemikiran mereka sederhana. Tidak ada diantara mereka yang mengetahui bagaimana menjalankan sebuah panti asuhan, mengurus tetek bengek lainnya dan segala hal macam yang berkaitan dengan perizinannya. Pemikiran pemikiran itu memberatkan mereka, dan satu hal dalam pemikiran mereka bahwa mereka pasti akan mengeluarkan uang untuk keperluan sehari hari di panti dan panti asuhan itu bukan milik pemerintah jadi dapat dipastikan tidak ada dana tambahan yang dapat mereka terima seandainya mereka berniat untuk mengambil alih kepemilikan panti itu dari tangan si pemuda. Maka dengan ikhlas mereka pun melepaskan semua itu untuk si pemuda.

Maka, setelah berembuk dengan seluruh pegawai di panti itu, pemuda tadipun memulai perjalanannya untuk mencari anak perempuan si pemilik panti. Adapun penggantinya untuk sementara waktu adalah pegawai senior yang sudah sangat cukup lama bekerja bersama si pemilik panti yang dulu. Dengan berbekal makanan, pakaian seadanya, uang sumbangan yang dikumpulkan dari seluruh pegawai dan satu buah map berisikan dokumen apapun yang berkaitan dengan panti dan almarhumah pemilik panti maka pemuda baik hati itu pun mengatur rencana agar secepatnya dapat berangkat dan (jika ia mujur maka) cepat pula ia akan kembali.


TBC (tergantung request)  ;)

Has llegado al final de las partes publicadas.

⏰ Última actualización: Jul 30, 2019 ⏰

¡Añade esta historia a tu biblioteca para recibir notificaciones sobre nuevas partes!

Kisah tentang PerjalanannyaHistorias para obsesionarse. Descúbrelo ahora