Prolog

5 1 1
                                        

Angin menyeruak menembus dedaunan, langit mengintip menggunakan bola mata oranyenya, riuhnya angin dipecah oleh suara-suara bising dari sana-sini kejauhan. entahlah, suaranya yang memang bising atau aku yang tidak terlalu memedulikan keadaan sekitar, daripada suara luar aku lebih fokus pada suara di telingaku yang mengiang ringan, sambil berlari kecil aku melewati angin, daun dan banyak ocehan manusia. Aku terlalu mencintai diri sendiri hingga lupa, disekitar akan ada pula yang mencintaiku seperti aku mencintai diriku, lelah jika harus terus-menerus seperti ini, namun ini jalan kehidupan yang aku pilih dan harus dijalani hingga aku harus istirahat untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya.
Aku mengerti jika hidup memang tentang timbal balik, namun jika kamu sering memberi dengan maksud ingin diberi lagi itupun tidak salah, itu sama saja timbal balik. Aku dan hatiku pernah merasakan sesuatu yang bisa dibilang bertolak belakang dengan apa yang dinamakan timbal balik, Aku selalu memberi sedangkan dia hanya menerima tanpa mau memberikan balik. Pada akhirnya aku memvonis diriku tamak padahal aku tidak minta banyak.
Malang sekali aku, karena memberi hanya untuk meminta, yang aku beripun tak mengindahkan pemberian ku, hingga akhirnya aku harus mengabaikan pemberian-pemberian lain akibat salah memberi. Kasihan sekali aku, ragaku, dan hatiku.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Aug 01, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

JanuariWhere stories live. Discover now