Dilara La Luna

6 0 0
                                        

Pantai itu masih beraroma segar. Lara berguling-guling diatas pasir putih yang lembut, sengaja ia penuhi tubuhnya dengan pasir yang lengket oleh garam laut setengah basah.  Tertawa-tawa, membiarkan bikini cerahnya lusuh disengat ultraviolet ramah khas pagi hari. Atau mungkin saja bukan bikininya, melainkan memanggang kulit putihnya yang lupa memerah.

Dion hanya melihatnya dengan tatapan aneh, dengan cintanya yang juga aneh pada Lara. Ini bulan madu pertama mereka, setelah sibuk merayu jadwal-jadwal menyebalkan yang enggan ditolerir. Ia masih tidak habis pikir, mengapa ia harus menikahi wanita hilang akal ini, kecuali hanya untuk menikahi bokong besar dan payudara yang tak tampak itu. Ia tidak mengerti, apa ini jebakan atau anugerah. Hanya memutar mata yang bisa ia lakukan ketika memikirkannya. Yang dia tahu ia bahagia dengan Lara, walau entah kenapa.

Lara melempar bola pasir ke Dion. Tidak kena. Dion hanya menjulurkan lidahnya.

"Ini seperti pantai pribadi!" Lara berteriak menghadap langit.

"Kau suka?"

"Masa iya tidak?"

"Sini kemari." Dion memberi isyarat dengan tangannya. Mereka berhadapan, membelai pipi Lara.

"Kau kotor, mari kita mandi."

"Berdua?" Mata Lara berbinar. Dengan wajah datar, Dion menghela nafas. Ditariknya tangan Lara. Lara terdiam kaku.

"..."

"A... apa?" Lara memalingkan wajah merahnya. Dion bungkukkan dirinya, menempelkan bibirnya pada tangan Lara.

"Kau duluan. Sendiri." Lara menanggapi dengan dahi mengkerut.


***

-Atas waktu yang telah datang, kau hadir di mimpiku. Tanpa harus dalam nyata, kaulah nyataku. Untuk Lionel Dion yang dalam kasihku, dalam engganku, engkau menjadi seorang mati yang telah hidup kembali di dalam lubuk lemah insan ini. Setelah reinkarnasi pilu yang kurasa tak berkesudahan. Aku tak pernah ingin engkau ada. Tapi kau ada, memaksa tidak inginku sirna. Kau racunku, canduku, imaji dalam mabukku, dalam pembunuhan yang paling membuatku bahagia. Singkat kata, singkat cerita, sialnya aku telah jatuh cinta padamu.-

Selesai membaca kata terakhir dari puisi Lara, garis itu terus memanjang tidak lagi menunjukkan detak. Dion diam, ia tidak menangis. Mau tanpa bisa. Lara suka air, suka bermain air, tapi Lara sangat bodoh. Ia tidak bisa berenang. Dion bisa. Tapi laut lebih tertarik untuk membunuh Lara yang malang. Karena Dion tidak menangis, sekarang ia lebih memilih tertawa meninggalkan Lara yang terbaring kaku.

"Kau siapa?" Ia melihat seorang gadis termenung di kursi panjang di depan kamar Lara.

"Aku? Pengasuh Luna..." Dion bingung karena ia menjawab dengan mata terpaku pada lantai.

"Tidak maksudku nama."

"Karina." Ia pun menoleh dan tersenyum lembut.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jul 27, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

LimaStories to obsess over. Discover now