Komentnya dong
HAPPY READING 📖
--------------------------------
"Ingat kau ada jadwal pemotretan sebentar lagi. Aku tidak mau kau terlalu keenakan sampai membatalkan waktu pemotretan yang seharusnya kau lakukan seperti kemarin!" Benedict Handryson, menatapi dari bawah sampai atas penampilan model yang tengah duduk di sofa. Wajah yang super tampan teramat dikagumi oleh kaum hawa. Jangan salahkan banyak pria yang iri pada fisiknya yang sempurna seakan Tuhan menciptakannya dengan hati yang bahagia. Tapi siapa sangka, ketika mengetahui sifatnya, mungkin mereka akan termuntah-muntah.
"Ya-ya-ya!" Yang diingatkan hanya memainkan ponsel. Jawaban yang ia berikan sangat kurang puas di telinga Ben, sang manajer.
"Kau serius mendengarku atau tidak, Jay?" Ben berkacak pinggang. Di otaknya sama sekali ia tidak habis pikir bagaimana Jay bisa sesantai itu. Seharusnya pria itu membantu mengurangi kesulitannya dan tidak mencoba menambah beban.
"Aku mendengarmu."
"Ck, jangan lupa. Besok kau juga ada pemotretan di Sao Paulo. Sekitar tiga hari kau menginap. Well, mungkin itu tidak terdengar berat untukmu."
"Hm." Mendengar Jay hanya berdehem, cukup membuat ia emosi. Sekeras mungkin ia menahan diri untuk tidak mengambil ponsel itu lalu membantingnya keras.
"Aku serius, Jay. Kalau kau begini, reputasimu bisa hancur. Banyak gosip-gosip yang mengincarmu. Kalau kau bertingkah begini dan tertangkap kamera, mau diletakkan di mana mukamu?"
"Kau tahu cara mudahnya untuk menggelak berita sampah itu semua, Ben?" Pria yang dipanggil Jay mengalihkan mata yang semula pada ponselnya menjadi ke managernya. Dilihatnya Ben hanya diam lalu ia melanjutkan, "Pencitraan. That's the point!" Lalu kembali ke aktivitasnya semula.
Ben menggelengkan kepala. Rasanya ia ingin menimpa kepala Jay menggunakan batu besar agar bisa sadar. Selama menjadi manajernya, melihat kelakuan Jay yang seperti bocah, menyadarkannya bahwa pria tampan dan kaya bisa bertindak seenaknya. Dan pria tampan saja masih banyak bertingkah.
"Waktu beristirahatmu tinggal lima menit. Setelahnya, kau sudah harus mempersiapkan diri. Jangan membuat kekacauan seperti semalam," peringat Ben. Kejadian semalam tidak akan bisa ia lupakan. Bagaimana tidak, satu scene pun tidak lolos karena pria itu asyik bercanda sampai-sampai beberapa produser kalang kabut melihatnya. Sayang, tidak ada yang protes. Mereka seakan memaklumi Jay melakukannya. Apalagi bakat murni yang dihasilkan pria itu cukup memukau dan karenanya mampu membuat income mereka bertambah.
Jay Gould, dialah sosok itu. Sosok beralis tebal, memiliki bulu mata yang panjang, bibir merah yang, ugh ... seksi dengan belahan di tengahnya, rambut kecoklatan, dan tubuh proporsional dengan lengan berotot disertai perut roti sobek. Warna kulit yang eksotis semakin menambah kesan seksi tanpa ampun.
"Sepertinya aku harus mencari asisten lagi untukmu. Kuharap kau jangan bertingkah dengan mengusirnya atau melakukan hal-hal aneh lagi, Jay. Sulit untuk mencari asisten yang sesuai dengan kriteriamu, sedangkan kita membutuhkannya. Aku tidak bisa terus-terusan mengurusmu seperti seorang ibu. Aku ini manajermu." Ben menuntut. Lelah setiap hari ia harus mengurus keperluan Jay. Yang seharusnya ia lakukan hanya mengatur jadwal pemotretan, jadwal kapan pria itu akan mengambil adegan, memilihkan pasangan ketika diwajibkan untuk menghadiri acara besar, mengatur beberapa outfit yang sesuai dengan keadaan, dan mengikuti ke mana pun pria itu pergi sebagai petunjuk, bukan sebagai babu.
"Listen, aku melakukan itu karena mereka tidak cocok. Kalau kali ini kau mendapatkan asisten yang buruk lagi, aku sama sekali tidak mau menggunakan asisten dan kau menjadi manajer sekaligus asisten tetapku." Mendengar kalimat terkutuk itu, Ben melototkan mata.
YOU ARE READING
Assistant For A Year
RomancePertama kali publish : 14 Febuari 2020 [PRIVATE ACAK] . Dalam masa pencarian asisten, ditemukan sosok bertubuh mungil, cerewet, namun pemalu dan terkadang pendiam oleh Benedict Handryson untuk seorang model seksi yang banyak keinginan, Jay Gould. Pe...
