Adamma Brunella Afsheen
Gadis berambut coklat yang berusaha melawan dirinya sendiri.
Adam Brunella Aileen.
Laki-laki berambut coklat yang berusaha melawan hatinya sendiri.
-》》》----------------------------------------------->
Sempetin baca prolognya...
Ruangan berukuran 4×6 meter itu, selalu sama keadaannya. Beberapa peralatan berjejer rapih di dinding kayu jati. Tidak ada jejak tumpahan bumbu seperti garam, ataupun noda minyak di kompor. Sedangkan di pusat ruangan, meja makan dan empat kursi kayu sederhana menambah kesan vintage dan aesthetic secara bersamaan.
Cahaya dari luar masuk melalui celah-celah ventilasi. Membentuk garis-garis cahaya, menampakkan samar-samar wajah seorang gadis yang memerah dan berantakan. Tubuhnya gemetar dan terlihat jelas sorot takut dengan jejak air mata di wajahnya. Bergerak pun tidak bisa. Itu karna dominasi penuh seseorang di ruangan itu.
Plak!
Di depannya tubuh jangkung, dengan sorotan garis cahaya dari samping seolah sengaja terfokus pada kedua matanya. Menatap tajam namun dengan seringai mengerikan. Tangannya tetap fokus menulis sesuatu pada buku dihadapan gadis itu. Lebih tepatnya rumus-rumus.
"Bagaimana? Kau sudah mengerti adik kecil?" Tidak ada jawaban dari lawan bicaranya.
Dia menarik lembut dagu gadis itu, mau tidak mau harus mendongak dan menatap wajahnya.
"Hey ayolah jangan jadi pemalas! Aku akan mengajarimu sampai jadi master sepertiku haha." Tawa sumbang yang sangat buruk. Sedetik kemudian raut wajahnya berubah datar. Jengah dengan kebisuan, laki-laki itu menampar adiknya sekali lagi. Mengabaikan si gadis yang meringis tertahan.
"Aku akan pergi selama seminggu. jaga rumah dan saat aku kembali, kau sudah harus menguasai itu!" Ujarnya sambil berlalu. Langkahnya terhenti sebentar.
"Jika tidak, aku punya cara baru untuk menghukummu." Sambungnya dengan suara rendah dan dingin. Suasananya ikut membeku!
Sikap kasar dan otoriter memang sudah mengakar dalam dirinya. Hanya perasaan puas yang dia dapat, namun itu menyenangkan baginya. Memiliki sebuah kelainan aneh, dan hanya adik perempuan yang dia miliki sekarang. Apa yang bisa dia lakukan?
Dia yang seharusnya di motivasi, di bimbing, dan di perhatikan orang-orang tedekatnya. Namun siapa?
Kebanyakan dari mereka, sangat perfeksionisdan pandai berbicara. Mengandalkan Tampang dan kecerdasan sebagai topeng untuk berbaur dengan sekitarnya. Namun kenyataannya, tidak ada yang bisa menembus dinding yang menutupi real character dan berhasil masuk kedalam teritorialnya secara mendalam. Kalau pun ada haha, kau tak akan keluar dengan tenang!
Hanya ada gadis 16 tahun yang tinggal seatap dengannya. Terpaksa, dia harus maanfaatkannya. Hanya untuk menuntaskan hasratnya. Tidak! Itu tidak bisa di sepelekan. Karna bagi orang-orang seperti mereka hasrat seperti itu akan sangat menyiksa jika tidak bisa terpenuhi. Lalu apa kabar dengan orang lain?
Melihat sang kakak yang sudah hilang di balik pintu, dia berusaha beranjak dari kursinya. Namun baru dua langkah, dia langsung jatuh. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain kembali menangis tersedu-sedu. Wajahnya sudah mati rasa dan kakinya seperti sudah tak bertulang. Sedangkan perasaannya, sudah tidak bisa terdefinisi. Ruangannya kembali sunyi, hanya suara tangis tertahan dan jam dinding yang terus berdetak menunjuk angka romawi XII dan III.
Perlu di ingatkan bahwa mereka hampir tidak bahkan memang, sudah kehilangan rasa simpati dan empati terhadap sekitarnya. Dan seperti dia, yang terobsesi terhadap sesuatu yang tidak biasa.
Matematika.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.