Diklat

9 0 0
                                        

Heuuuhhh, ini hutan dingin amat ya? Serem ihh. Itu beneran di pohon-pohon belakang gak ada apa-apa? Kok merinding sih. Pake sarung tangan sama minyak kayu putih aja kali ya, siapa tahu merindingnya karena efek udara dingin.

Positif thinking, Tita. Positif thinking.
Jangan mikir aneh-aneh. Lagian setan juga mikir-mikir kalo mau gangguin kamu. Banyak ruginya daripada untungnya.

Ahh, weekend ini Nurra dan Rey pasti sedang ngemall berdua tanpa aku. Enak sekali diklat lapangan mereka masih minggu depan. Huufftt..

Hari ini hari pertama diklat lapanganku bersama BEM. Sejak siang sampai sore, acara pembukaannya masih wajar. Belum ada sesi disiksa-siksa senior seperti pada umumnya terjadi di acara diklat. Entah kalau nanti malam dan besok. Tapi denger-denger sih kalau diklat BEM enggak begitu konsepnya. Mereka lebih menekankan pendidikan disiplin dan orientasi kenegaraan. Semoga saja benar. Malas sekali kalau harus mengikuti drama senioritas saat diklat lapangan.

Sejauh ini, aku juga masih bisa senyum-senyum selama diklat. Bagaimana tidak senyum-senyum kalau ada Mas Randy seliweran dimana-mana. Dan dengan seragam lapangannya hari ini, dia bukan hanya ganteng, tapi GANTENG BANGET!!

Peduli setan dengan pasal 1 ayat 1 tempo hari. Itu tidak berlaku untukku. Berlakukan saja itu untuk anggota yang tidak bisa membedakan urusan pribadi dengan urusan organisasi. Pacaran, ngambek-ngambekan, kemudian dua-duanya gak mau hadir pada saat rapat organisasi. Padahal agendanya penting. Padahal mereka saat itu PIC yang krusial. Jadi kacaulah semuanya.

Sebel! Rupanya gara-gara ada orang seperti itulah asal mula dibuatnya pasal 1 ayat 1. Sungguh merugikan generasi selanjutnya..

"Perhatian semuanya! Setelah sholat maghrib, segera berkumpul di lapangan tengah. Kita lanjutkan materi hari ini. Mohon tepat waktu agar tidak terlalu malam tidurnya nanti. Terima kasih!"

Itu suara Mas Randy dari toa. Ngasi instruksi aja keren banget Ya Allah..

Dengan semangat 45, aku bergabung bersama teman-teman anggota baru dari jurusan lain di lapangan tengah. Sudah ada api unggun yang menyala besar di tengah lapangan.

Setelah pembukaan dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, kami duduk melingkari api unggun sesuai kelompok masing-masing. Kelompok terdiri dari 7-8 orang dengan 1-2 anggota cewek di dalamnya. Ya, anggota tahun ini memang kebanyakan cowok.

Pukul 18.30 acara diskusi dimulai. Tema malam ini adalah peran mahasiswa sebagai kontrol kebijakan pemerintahan. Di kelompokku, ada lima anggota cowok yang kebetulan paham sekali hal-hal begini. Lucky me sih, pasrah saja apa kata mereka. Biarkan mereka menyalurkan bakat mereka di acara diskusi kali ini.

Lima belas menit setelah diskusi dimulai, aku diam-diam beringsut mundur mendekati pohon di belakang barisanku. Sepertinya bersandar ke pohon ini enak, lumayan sambil menunggu mereka menyelesaikan debatnya.

"Hai.."

Astaghfirullah setan!
Ehh, setan bukan??

"Kamu ngapain malah nyender ke pohon begitu? Sakit?"

Omaigad!!
Mas Randy!!
Sejak kapan dia di sebelahku?

"Randy."
Katanya sambil mengulurkan tangan.

"Tit.. Tittta.."
Aku tergagap menjawab sambil menjabat tangannya.
Hangat sekaliiiiii... Duuhh, mau dong salaman gini terus. Tangannya gedhe, tanganku yang kecil jadi hilang kalau digenggam dia.

"Aku tahu kamu Tita. Adeknya Mbak Nany sama Mbak Fifi, kan?"
"Eh, hehe. Bukan. Cuma adek kos kok."
Amazing, dia tahu siapa aku lho sodara-sodara. Yang lain aja pada enggak tahu.

Ya ampun, mimpi apa semalam? Kok bisa aku diajak ngobrol sama Mas Randy? Ini gimana ceritanya ada senior yang duduk di barisan belakang? Bukannya seharusnya dia ngumpul sama teman-temannya?

Lingkar LuarWhere stories live. Discover now