"Put, Putri bangun dong sayang, ini udah jam setengah sepuluh lho" ucap mamah membangunkanku.
"Iya mah." aku menjawab dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya.
Sebenarnya aku baru lulus SMA dan sudah diterima di salah satu universitas, jadi aku tidak sesibuk teman-temanku yang sedang mendaftar kuliah. Bahkan bisa dibilang hari-hariku gabut. Jadi aku memilih untuk bangun lebih siang dari biasanya.
Aku memiliki seorang sahabat, nama dia Tini. Entah kenapa kita bisa sedekat ini. Tapi yang jelas dia adalah teman sharingku.
Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Aku sudah bersiap untuk pergi menemui Tini. Seperti biasa aku menjemputnya dan mengajaknya ke tempat favoritku yaitu ke caffee es krim langgananku.
Dari kemarin dia ingin menceritakan sesuatu, tapi aku tidak sempat menemuinya. Akhirnya hari ini dia akan memberitahukan sesuatu. Ya walaupun aku merasakan sesuatu yang tidak baik.
*** (flash back)
Aku sedang berlatih vokal dengan Kak Intan dan teman-temanku lainnya.
"Btw udah jam satu aja nih, kita makan siang dulu aja ya. Kakak minta tolong Elan sama Putri beli makan ya, rames aja gapapa, ini uangnya" sambil menyodorkan uang Kak Intan menyuruh aku dan Kak Elan pergi membeli makan siang menggunakan motor.
Awalnya aku merasa segan karena sebenarnya aku tidak begitu dekat dengan Kak Elan, tapi aku pikir hanya membeli makan siang tidak jadi masalah dan akupun tau kalau Kak Elan sebenarnya laki-laki yang baik dan sopan.
Disepanjang perjalanan suasana canggung begitu terasa. Aku malas menghadapi suasana canggung sebenarnya, tapi apalah daya aku dihadapi dengan suasana canggung dengan Kak Elan. Walaupun Kak Elan awalnya memecahkan suasana canggung dengan basa basi bertanya suatu hal padaku.
Namun, ada saat dimana suasana hening sejenak, dan akupun terpaksa mulai berbasa basi menanyakan sesuatu yang sebenarnya tak aku pedulikan jawabannya.
Entah mengapa di sepanjang perjalanan walaupun canggung tetapi aku merasakan sesuatu yang tak bisa kupahami. Entahlah aku tak memahami perasaan ini.
Malam haripun tiba, aku mengecek whatsappku, dan ada satu pesan dari Kak Elan. Entah mengapa aku merasa senang ketika Kak Elan mengirim pesan, ya walaupun isi pesannya mengenai pertanyaan seputar pelajaran ekonomi.
Sewaktu SMA aku memang mengambil jurusan IPS, Kak Elan pun tau. Jadi terkadang Kak Elan mengirim pesan untuk bertanya seputar pelajaran ekonomi kepadaku. Walaupun sebelumnya Kak Elan pernah mengirim pesan untuk bertanya pelajaran ekonomi, tapi entah mengapa malam ini berbeda, aku merasa senang.
Pada hari-hari berikutnya jika aku bertemu Kak Elan, entah mengapa aku sangat semangat, seperti ada perasaan rindu yang terpendam. Tapi akupun masih belum memahami apa yang sedang terjadi pada diriku.
***
"Permisi, Tini." panggilku keras dari pintu gerbang rumah Tini.
"Iya bentar Put, aku sisiran dulu, masuk aja put ga dikunci pintu gerbangnya." balas Tini dari dalam rumah.
Aku mematikan motorku dan masuk. Belum selangkah maju dari pintu gerbang, Tini sudah muncul di hadapanku dan sudah tidak sabar menceritakan sesuatu hal yang besar menurutnya.
"Ke caffee es krim kan ya Put?" Tini bertanya.
Akupun mengangguk menjawabnya.
"Ok let's go, es krim im coming" seru Tini dengan bersemangat.
Selama di jalan, aku merasa Tini akan menceritakan sesuatu yang berhubungan dengan Kak Elan. Entahlah benar atau tidak, tapi aku merasa sangat yakin tentang ini.
Sesampainya di tempat es krim, aku langsung bertanya pada Tini "kamu mau es krim rasa apa, Tin?"
"Rasa yang pernah ada, ada ga Put?" tanya nya dengan bercanda.
"Ga ada Tin, adanya rasa coklat, stroberi, green tea, sama vanila" ucapku menghiraukan candaannya.
"Hehehe, green tea aja deh Put" jawabnya serius kali ini.
"Kak ice krim green tea nya dua topingnya oreo semua." pintaku pada seorang pelayan di caffee itu.
"Giliran toping aja kamu paham ya Put kalo aku sukanya toping oreo." celetuk Tini padaku.
Iya kalau toping es krim aku bisa ingat, tp kalau rasa es krimnya aku sering lupa.
Suasana di caffee ini sangat nyaman. Tempat duduk yang tidak terlalu berdekatan satu sama lain membuat caffee ini di gemari banyak orang karena sangat strategis untuk mengobrol, iya seperti aku dengan Tini saat ini.
"Put duduk sini aja" Tini bergegas duduk di pojok ruangan.
"Pojok banget nih Tin?" balasku
"Iya Put, gapapa. Biar greget aja" ucap Tini
"Gimana Tin, mau cerita apa? Keliatannya penting banget." tanyaku
"Kamu tau ga Put? Aku lagi suka sama cowo." ungkapnya dengan malu-malu.
"Oh siapa Tin?" tanyaku singkat
"Aku gak tau kamu kenal apa engga, tapi kayaknya kamu kenal deh, namanya kak..."
Belum sempat menyebut nama orang yang Tini suka, pelayan caffee menghampiri meja kita mengantar pesanan es krim yang membuat Tini berhenti berbicara.
"Makasih mas." ucapku pada pelayan itu.
Saat aku memakan suapan pertama es krim yang aku pesan, Tini melanjutkan pembicaraan tadi "namanya Kak Elan Put."
Aku diam sejenak setelah Tini menyebut nama itu. Entah mengapa tiba-tiba aku merasa tidak ada gairah untuk mendengar kelanjutan cerita Tini. Iya bisa dibilang tidak ingin mendengar lagi. Aku tidak memahami mengapa aku merasa sedih disaat sahabatku sedang merasa senang.
Jangan lupa :)
Vote, Like and Comment
ESTÁS LEYENDO
Dalam Diam, Diam Seribu Bahasa
Novela JuvenilMenyukai satu orang yang sama dalam waktu yang bersamaan? Itu hal yang sering terjadi, termasuk pada Putri dan sahabatnya. Namun, apakah akan berakhir pedih? Pastinya hal itu tidak diharapkan Putri hingga akhirnya Putri memilih mengalah dan beralih...
