Maaf🌠 (Yujin)

2.4K 100 2
                                        

Warn, weird/typo




WE NEED TO TALK
(Meskipun dengan bahasa tubuh)


⬇️⬇️⬇️

"Bodo amat, ngga mau denger."

Baekjin baru saja sampai apartemennya dengan wajah tertekuk. Ia melihat sang kekasih yang sedang berjalan ke arahnya yang masih berada didekat pintu masuk. Pulang dari kegiatannya di toko bunga milik sang Ibu, Baekjin tidak dapat menahan kekesalannya hanya karena melihat salah satu postingan brand pakaian ternama yang menampilkan foto kekasihnya bersama model wanita. Siapa yang tidak kesal jika yang kau lihat itu adalah foto sang kekasih yang sedang memangku seorang gadis bule dengan bibir yang menempel.

Ya, meskipun hanya menempel. Tapi semestinya Yuri bisa menjaga kepercayaannya. Hei demi Tuhan, kekasihnya itu sama sekali tidak memberitahunya mengenai tema pemotretan tersebut. Ia hanya memberitahunya bahwa project kali ini melibatkan model papan atas dari Rusia. Padahal semalam mereka menghabiskan waktu bersama.

"Sayang, nggak gitu. Aku cuma profesional aja ciuman sama model itu. Aku bahkan tidak tahu kalau pose tersebut adalah bagian dari konsep photoshot kali ini. Seandainya aku tahu, aku pasti akan izin atau langsung menolak tawaran ini."

Yuri berusaha meraih tangan pemuda yang telah dua tahun ini menyandang gelar sebagai kekasihnya. Pemuda yang ia ajak berkenalan di Hongdae saat ia memutuskan berjalan-jalan sendiri, tepat setelah penandatangan kontrak dirinya dengan Esteem Entertaiment. Tempat ini adalah tempat Baekjin rutin melakukan busking setiap minggunya. Bisa dibilang saat itu, cinta pada pandangan pertama? Awalnya Yuri hanya kagum dengan keahlian B-boying dari Baekjin, namun saat dipenghujung show. Baekjin tersenyum sangat manis untuk menyapa semua orang yang telah hadir menonton, dan pada saat melihat itu juga detak jantung Yuri berdetak lebih cepat.

"Aku bilang aku ngga mau dengar penjelasan kamu. Terserah kamu mau sama siapa aja! Aku ngga peduli."

Yuri mengenal baik tabiat pacarnya yang sangat keras kepala, namun sepertinya kali ini ia sangat marah besar. Yuri mencoba sabar, ia juga tidak boleh ikut terpancing emosi.

"Jin-ah, sayangku. Hei dengar, tadi kan sudah kujelaskan kejadiannya. Aku juga berada dalam posisi tidak bisa menolaknya karena proses setting telah berjalan, dan aku sudah menyetujui tawaran tersebut. Bahkan aku telah memarahi manajerku yang tidak kembali mengecek konsep pemotretan tadi. Kau pasti paham posisiku kan?"

Baekjin terdiam. Ini bukan pertama kalinya Yuri berbuat seperti itu saat mereka telah berstatus sebagai sepasang kekasih. Ia tentu mengerti pekerjaan dan status sosial Yuri yang menuntutnya untuk 'bisa dimiliki oleh orang banyak.' Hanya saja, Baekjin memerlukan waktu untuk meredam emosinya, maka dari itu ia meminta waktu sendiri pada kekasihnya. Berbanding terbalik dengan sifat Baekjin, Yuri jauh lebih tenang saat menghadapi sesuatu namun ia cenderung ingin cepat-cepat menyelesaikannya agar masalah tidak terlalu larut memonopoli pikirannya.

"Aku butuh waktu, Hyung. Tolong tinggalkan aku sendiri dulu."

"Kita harus bicara sekarang," ujar Yuri dengan penuh penegasan.

Katakanlah Baekjin memang keras kepala, namun nyatanya Yuri lebih keras kepala dan tak terbantahkan. Mungkin sesekali Yuri akan dengan sukarela pergi keluar, namun sepertinya kekasihnya saat ini tidak akan melakukan hal tersebut. Baekjin kelewat hafal sifatnya. "Baiklah, aku yang akan pergi."

Rahang Yuri kembali mengeras. Ia mengatupkan giginya kuat dan mengepalkan jari tangannya, guna menahan amarah. Hal ini ditujukan agar jangan sampai berkata atau melakukan hal yang tidak-tidak dan dapat menyakiti kekasihnya.

"Aku bilang tid-"

"Aku hanya akan ke rumah Saebom Hyung sebentar. Aku akan kembali lagi." Sungguh Baekjin hanya berniat untuk mendinginkan pikirannya, sekaligus membahas beberapa hal mengenai project duet street dance mereka. Tanpa sangka Yuri memberikan tatapan yang berbeda. Baekjin berpikir, apa dia salah bicara? Namun sebenarnya, ini bukan hanya perihal ia yang terkesan menghindar dari masalah, tapi juga perkara rumah siapa yang akan ia kunjungi.

Oh Saebom. Tetangga, sekaligus teman masa kecil Baekjin. Sosok yang paling Yuri benci. Lelaki yang dengan mudahnya membuat kekasihnya tertawa lepas. Sosok yang Baekjin selalu anggap sebagai sahabat dekat, padahal kenyataannya lelaki itu memiliki perasaan terhadapnya. Yuri sangat tahu, pandangan Saebom sama dengan miliknya saat mereka memandang lelaki mungil yang kini menyandang status sebagai kekasihnya. Dan hal itu adalah perasaan cinta, tatapan penuh damba. Namun, entah Baekjin mengetahuinya atau tidak, yang jelas Yuri benci melihat Saebom yang bisa dengan mudahnya menikmati waktu bersama kekasihnya dengan penuh tawa.

Baekjin menghela nafasnya kasar. Ia tahu jika saat ini Yuri tidak bisa dibantah. Maka harus ia yang mengalah. Baekjin melangkahkan kakinya, meletakan tasnya di sofa, lalu mendekat ke arah lelaki yang jauh lebih tinggi darinya dalam diam. Tangannya terulur untuk mengusap rahang Yuri yang mengeras sembari menatapnya dalam.

"Kendurkan ini, gigimu bisa sakit nanti."

Yuri membawa Baekjin ke dalam pelukan erat setelah melihat senyuman yang kekasihnya berikan seiring dengan perkataan yang terucap. Kepalanya menghirup wewangian dari ceruk leher kekasih kecilnya, dengan pergerakannya membawa tubuh kecil itu terombang-ambing ke kanan dan ke kiri dalam pelukannya.

Baekjin balas mengusap punggung kekasihnya.

"Hyung, aku sesak." Yuri terkekeh mendengar penuturan kekasihnya.

"You're such a naughty baby boy." Dengan tangan yang masih bertengger di pinggang ramping si kecil, Yuri memberikan bisikan seduktif dan tiupan kecil ke telinga kekasihnya.

Pikiran Baekjin menguap, seiring dengan usapan lembut di perutnya. Sentuhan Yuri sangat lembut, sepertinya emosinya telah surut. Baekjin memamng srlalu lemah dengan afeksi yang Yuri berikan dan kebetulan juga mereka sudah seminggu tidak melakukan kegiatan itu. Mungkin akan bagus jika melakukannya saat ini.

Baekjin menginginkannya sekarang.

"Hhh, no, I'm not. But I want your punishment Daddy." Mata Baekjin menatapnya polos, sesuatu yang dapat diartikan sebagai suatu tantangan untuk Yuri.

Yuri tersenyum miring. Melihat mata kekasihnya yang sayu dengan wajah yang memerah. Baekjin menggigit bibir bawahnya kasar. Berusaha meredam suaranya akibat dari usapan dari tangan kekasihnya yang kini merambat mengusap perutnya, dan terus naik untuk bermain di kedua dadanya.

"Ahh huuhh Daddy, please."

"Yes, you will get a punishment Baby Boy."

Tubuh Baekjin terangkat, dengan kaki yang ia mengelung di pinggang lelakinya. Kedua telapak tangan Yuri dengan tepat menangkup kedua bongkah bokongnya. Diiringi ciuman panas, mereka berjalan ke kamar. Ciuman Yuri mengganas, bahkan ia menggigit leher putih kekasih kecilnya hingga berwarna merah pekat. Tubuh kecil itu oleng diiringi ringisan dan desahan yang menjadi satu.

Syukurlah, Baby Boy kita berhasil mendarat dengan selamat di ranjang kebesaran saksi cinta keduanya.

Ah, jika dilihat dari ekspresinya, sepertinya malam ini Daddy akan bermain dengan kasar. Poor you Baby Boy.

Ya, mari biarkan keduanya menyelesaikan kesalahpahaman mereka dengan berbagi kehangatan. Berbicaranya esok saja dengan kepala yang telah dingin(?) atau bisa nanti, dalam sesi pillow talk. Hehe









❤❤❤❤❤


Aku padamu yang ngasih vote!

Sekian dan teraurakasih!💙

PDXShip!Mga kuwentong kahuhumalingan mo. Tumuklas ngayon