PROLOG

17 1 0
                                        

Gadis itu terlihat berlari penuh semangat. Tas besar yang tak sepadan dengan tubuhya terlihat terguncang keras. Wajahnya benar-benar sumringah. Ia memegang selembar kertas tebal. Sebuah harapan kecil yang akan ia tunjukan kepada orang tuanya. Harapan akan dipuji oleh mamahnya.  Tak jauh dari pertigaan komplek, ia tiba di sebuah rumah kecil dengan dinding berwarna abu berpadu putih.

Ia membuka ikatan tali sepatunya dengan tergesa. Ia tak peduli lagi walau napasnya menderu tak beraturan. Kabar bahagia ini harus segera di sampaikan.

“Mah, Sasha pulang. Mah? Mamah?”

Mata gadis itu berkeliling mencari sosok mamah yang sedari tadi di panggilnya. Ia menelisik ke setiap penjuru rumah. Hingga akhirnya ia berdiri di depan sebuah pintu putih. Ia membukanya perlahan.

“Mah?”

Orang yang dipanggil nya mamah menoleh. Ia terlihat sedang membuka sesuatu. Mamah menatap gadis itu lamat-lamat.

“Mah, tau nggak? Jeng jeng jeng.. lihat mah, Sasha menang lomba puisi tingkat sekolah”

Gadis itu terlihat menggebu-gebu menyampaikan berita bahagia itu. Sekali lagi mamah hanya diam dan menatapnya lamat-lamat. Wanita itu berdiri sambil membawa sebuah map besar.

“Jadi karna lomba itu semua nilai kamu turun?”

Gadis itu terdiam. Wajah senangnya berganti mendung seketika. Ia menundukkan wajahnya.

“Tapi Sasha menang mah, lomba puisi, loma kesukaan Sasha”

“Sudah berapa kali mamah bilang? Mamah nggak suka kamu ikutan hal-hal nggak jelas kayak gitu. Itu cuma tulisan Sasha, nggak akan berguna untuk masa depan kamu. Itu cuma kalimat yang di tulis di atas kertas dan akhirnya di buang ke tempat sampah”

Gadis itu mulai menangis tanpa suara. Ia menggenggam erat kertas tebal yang dijadikannya sebuah buih harapan beberapa menit yang lalu.

“Masa depan kamu itu masih panjang. Mau jadi apa kamu dengan nulis tulisan nggak jelas kayak gitu? Hahhh?!! Mau ikutan jejak papah kamu yang nggak jelas itu? Hahh??!!! “

Gadis itu masih menangis dalam diam.

“Jawab Sasha! Jawab mamah!” ucap mamah sambil menguncang tubuh Sasha.

Jelas sekali hal itu membuat tangis Sasha semakin pecah. Tangisannya semakin kencang dan nada bicara mamah benar-benar terlewat batas. Mamah menatap nanar ke arah tangan Sasha.

Kertas tebal yang sedaritadi di genggam erat oleh Sasha. Mamah merenggutnya secara paksa, Sasha berusaha memberontak. Ia mencoba melindungi kertas berharga itu. Namun naas, dalam hitungan detik kertas itu berpindah tangan dari tangan Sasha.

“Kertas ini? Kamu mau nunjukin kertas ini ke mamah? Ini Cuma sampah. Mamah nggak akan bangga walau kamu punya ratusan tumpuk kertas kayak gini”

SREKKKK...

Tangis Sasha semakin menjadi-jadi. Ia mencoba menghentikan mamah, namun kertas itu sudah di koyak menjadi lembaran-lembaran kecil. Mamah pergi meninggalkan Sasha yang masih menangis.

Sasha terduduk, ia mencoba mengumpulkan kembali robekan-robekan piagam pernghargaannya. Ia menangis, kali ini tak sekencang tadi. Ia menangis, menatap pilu kertas-kertas yang ingin ia banggakan tadi.

SashaStories to obsess over. Discover now