"Aku suka sama kakak.. hm..kakak mau gak pacar—" gadis itu tersenyum malu.
"Gak."
"Eh? Kenapa, kak?"
"Lo tuh jelek, culun, gendut lagi. Sadar diri napa. Gue baik sama lo aja cuma karena kasian." Pria itu menatap gadis di depannya dingin.
Gadis itu menangis, dia menangis karna tidak menyangka kakak kelas ramah yang ia sukai sejak 4 tahun lalu itu berpikir begitu tentangnya.
"Ingus lo tuh, keluar." Pria itu kini menatapnya dengan pandangan jijik dan berbalik pergi tanpa memedulikan adik kelasnya itu.
Gadis bernama Naomi itu hanya menangis dan menangis. Rintik-rintik air turun dari langit, seakan ikut bersedih dengan peristiwa yang dialami Naomi.
"HUAAA...!! emangnya kenapa kalo aku jelek, culun, gendut? Emangnya kenapa kalo aku gak pinter dalam pelajaran dan olahraga? Bukannya kakak selalu ngebela aku kalo di-bully? Salah aku apa?!" isaknya.
Penolakan yang sangat singkat itu membuat sebuah luka di hati Naomi. Padahal ia sudah memberanikan diri untuk mengatakan perasaannya.
Naomi tetap tidak percaya apa yang baru saja dialaminya itu nyata. Ia berkali-kali mencubit pipinya untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi.
Naomi pulang ke rumahnya dengan terhuyung-huyung. Ia melamun.
"Iyaaa—eh, kak Naomi? Kok baru pulang jam segini? Terus.. kok matanya merah, kakak habis nangis, ya? Kakak juga hujan-hujanan?" Hana yang membukakan pintu untuk Naomi langsung melemparkan berbagai pertanyaan.
Naomi hanya diam dan tersenyum. Ia memeluk adik perempuan kesayangannya itu. Mereka terdiam, Hana balas memeluk Naomi tanpa mengerti apa yang terjadi pada kakaknya.
"A-ayo kak, duduk dulu." Naomi menuntun kakaknya ke sofa dan membuatkannya teh hangat.
Ia memutuskan untuk tidak bertanya apa-apa mengenai peristiwa yang baru dialami Naomi. Hana memang yang paling dewasa daripada kedua kakaknya, walaupun ia yang paling kecil dan baru berusia 12 tahun.
"Kakak kalo ada masalah cerita sama Hana aja.. siapa tau Hana bisa kasih solusi." Hibur Hana. Naomi tersenyum dan berterima kasih. Hana memang selalu tau cara membuat suasana hatinya lebih baik.
"Halah, lebay banget sih. Lo juga, Hana. Baik banget sama tuh gentong minyak. Palingan juga dia baru ditolak. Wkwkwk." Alex tertawa mengejek.
"Kak Alii! Gak boleh kayak gitu sama kak Naomi." Tegasnya.
"Hahaha... emang, si playboy selalu bener, yah.." Naomi tertawa hambar. Ia mulai menangis lagi.
"Tuh kann!! Kak Alex, sih! Kasian kak Naomi nya!" Hana mengusap-usap pundak Naomi lagi.
"Dihh, kok salah gue? Itu mah emang si gentong minyak aja yang alay. Hahahah." Alex mengambil handphone-nya dan memainkannya santai sambil berjalan ke kamarnya.
Naomi memegang tangan Hana, bermaksud menghentikan aktifitas adiknya yang mengusap-usap pundaknya sejak tadi. Ia tak ingin merepotkan adiknya,
"Makasih ya, Hana. Kakak gapapa, kok. Kakak mau ke kamar dulu ya, sekalian mau mandi. Tadi hujan-hujanan soalnya." Naomi berusaha untuk tersenyum.
Hana mengangguk, tapi ia tetap khawatir. Naomi beranjak ke kamarnya dan mandi. Naomi melamun sepanjang hari.
Ia lalu menelepon ketiga sahabatnya, mereka berempat saling curhat. Naomi menangis di telepon, ia menumpahkan kesedihannya pada sahabat-sahabatnya.
YOU ARE READING
Dear Myself.
Non-FictionCantik, pintar, dingin, jutek, kaya raya, dan memiliki tubuh yang indah. Itulah Naomi Fransisca. Setidaknya itulah yang orang ketahui tentangnya. Tapi, gadis itu memiliki masa lalu yang mengenaskan, mulai dari keluarga, teman, harta, semuanya yang t...
