Kurebahkan tubuhku diatas kasur sembari merenggangkan otot-ototku yang mungkin sudah kaku karena terlalu banyak mengangkat barang-barang berat. Aku sedang mengemasi barang-barangku. Ya, aku akan pindah dari rumah bibiku ini. Aku sudah menumpang selama kurang lebih enam bulan lamanya. Aku merasa tidak enak dengan bibiku. Meski bibiku sudah mengatakan bahwa dia tidak keberatan, tetap saja aku merasa tidak enak. Aku ingin mandiri, aku tidak ingin bergantung pada orang lain. Walaupun itu bibiku atau keluargaku yang lain, bahkan orang tuaku.
"Nana-ya apa kau capek? Sini biar bibi bantu. Kau istirahat saja". Suara bibiku membuyarkan lamunanku. Aku sedikit terkejut.
"Sedikit. Tidak usah bibi, aku bisa sendiri. Kau saja yang istirahat. Apa punggung bibi sudah sembuh? Biar aku periksa, lagi pula keponakanmu ini seorang dokter jadi percayakan padaku". Aku mengerlingkan mataku menatap bibi.
Bibiku terkekeh melihat kelakuanku.
"Ya aku percaya padamu kau adalah dokter yang hebat. Kau tidak perlu khawatir denganku, punggungku sudah tidak sakit lagi".
"Syukurlah kalau begitu. Bibi tidak perlu kerja berat-berat lagi. Bibi harus banyak istirahat".
"Iya, aku mengerti. Baiklah, bibi kekamar dulu jika ada yang kau butuhkan panggil bibi saja. Selamat malam Nana-ya". Sahutnya kemudian meninggalkanku keluar. Aku membalasnya dengan senyuman.
Aku melanjutkan mengemas barang-barang ku karena besok aku harus pindah ke apartementku yang baru. Setelah enam bulan aku bekerja di salah satu rumah sakit di Seoul, akhirnya aku bisa membeli apartement yang tidak jauh dari tempatku bekerja. Aku bersusah payah mengumpulkan uang agar aku bisa memiliki tempat tinggal sendiri. Orang tuaku tidak bisa membantu banyak dan aku juga tidak ingin merepotkan mereka. Orang tua ku tinggal di New York, Ayahku hanya bekerja menjadi seorang karyawan disalah satu perusahaan. Sedangkan ibuku hanya ibu rumah tangga biasa. Ayahku harus menghidupi aku, ibuku dan juga adikku.
Aku menatap langit-langit kamarku.
Aku ingat bagaimana aku saat pertama kali menginjakkan kaki di Seoul. Aku yang hanya berbekal alamat rumah bibiku menyusuri jalanan kota Seoul yang tidak kalah ramai dengan daerah tempat tinggal ku di New York.
Tuuutt..tuutt...
Dering dari ponselku sedikit mengejutkanku. Kuhelakan napas kasar dan mengambil ponselku yang terletak diatas nakas samping tempat tidurku. Siapa yang kurang kerjaan menelpon ku malam-malam begini.
Doyoung is calling...
Semua kekesalanku sirna seketika setelah melihat nama seseorang terpampang di layar ponselku. Langsung ku angkat telepon darinya.
"H-halo". Yak! mengapa aku jadi gugup seperti ini.
"Halo. Reina-ya apa aku mengganggumu? Apa kau tadi sedang tidur?" Sahutnya dari seberang sana.
"Eh--Tidak. Tidak sama sekali. Aku belum tidur. Aku tadi sedang mengemas barang-barang yang akan ku bawa ke tempat tinggal ku yang baru. Ada apa Doyoung-ssi? Tidak biasanya kau menelepon ku malam-malam begini. Apa ada masalah? "
"Hmm" Terdengar helaan napas. Mungkin.
"Sebenarnya aku hanya memastikan kau baik-baik saja. Kau pasti sangat kecapean kan?" Lanjutnya setengah gugup.
Aku tidak tahu persis apa yang dia maksud. Tidak biasanya dia menanyakan keadaanku seperti ini, bahkan ia sampai menelepon ku malam-malam begini. Seperti ada beban di nada bicaranya.
"Maksudmu? "
"Tidak. Maksudku kau kan seharian ini sibuk mengurus banyak pasien, ditambah lagi setelah pulang dari rumah sakit kau harus mengemas barang-barang yang akan kau bawa besok."
"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir. Lagi pula ada bibi yang membantuku tadi."
"Syukurlah."
"Doyoung-ssi apa kau baik-baik saja? Dari nada bicaramu sepertinya kau ada masalah. "
"Bukan apa-apa. Sungguh. "
Aku tahu mungkin kau butuh waktu untuk menceritakannya padaku.
"Jika kau ada masalah jangan segan-segan menceritakannya padaku. Aku bisa menjadi pendengar yang baik. Siapa tahu aku juga bisa membantumu. Jangan lupa kita adalah temankan?" Ya, hanya sebatas teman. Tidak lebih.
"Terimakasih Reina-ya. Terimakasih telah menjadi temanku. Sebaiknya kau tidur saja. Aku akan menutup teleponnya. Ini sudah hampir tengah malam. Goodnight. "
"Sama-sama. Aku akan tidur kalau begitu. Goodnight Doyoung-ssi"
Kukembalikan ponselku ketempat semula. Satu nama langsung terlintas di kepalaku.
Kim Doyoung
Seorang laki-laki bermarga Kim yang akhir-akhir ini menjadi penghuni otakku. Atau bahkan mungkin hatiku.
Dia memiliki pribadi yang lemah lembut, pekerja keras, ramah pada semua orang. Selalu berhati-hati jika berbicara. Dia tidak mau lawan bicaranya merasa tersinggung atas perkataannya. Dan satu lagi, dia memiliki wajah yang sangat tampan. Itulah sebabnya dia menjadi idaman para wanita. Tak terkecuali diriku.
____
Akhirnya aku sampai ditempat tinggal baruku. Tubuhku rasanya ingin remuk saja. Setelah seharian mengurus pasien aku harus memindahkan barang-barang ku ke apartement yang baru. Untung saja ada yang membantuku. Siapa lagi kalau bukan Kim Doyoung. Sekarang aku memang tinggal di gedung apartement yang sama dengannya. Ahh senangnya.
"Kau terlihat sangat kelelahan. Minumlah." Dia menyodorkan sebotol air mineral padaku. Tak butuh waktu lama aku langsung menyambar minuman itu dan meminumnya. Ia hanya terkekeh melihat kelakuanku.
"Bagaimana dengan pasienmu tadi?" Tanyanya kemudian.
Aku tahu dia membicarakan pasien yang mana. Pasti ibu-ibu rempong yang tadi membawa anaknya yang sedang demam. Dia mengatakan bahwa anaknya tidak mau ditangani olehku dan hanya mau ditangani oleh Dokter Doyoung yang notabenenya adalah dokter spesialis gigi. Aku tahu itu hanya akal-akalan ibu-ibu itu. Aku dan Doyoung berkali-kali menjelaskan bahwa Doyoung adalah dokter spesialis gigi. Tetapi ibu-ibu itu tidak mempercayainya. Dia malah mengomel tidak jelas diruang UGD dan menjadi perhatian semua orang. Rasanya ingin kusumpal mulutnya dengan tensimeter.
Setelah seorang suster membawa name tag milik Doyoung keruang UGD akhirnya dia percaya. Name tagnya memang tidak sengaja ia tinggalkan di ruangannya. Dasar dokter ceroboh. Untung sayang. Ehh.
"Aku langsung memeriksa anaknya. Karena perdebatan yang terjadi aku sampai lupa jika anaknya lah yang membutuhkan penanganan. Dan untuk ibunya, aku sudah menyuntikkan obat bius padanya." Sekesal itu aku padanya. Tapi tenang itu hanya bercanda. Tidak mungkin aku menyuntikkan obat pada sembarang orang. Bisa-bisa aku langsung lepas jabatan.
"Jjinja? Kau benar-benar melakukannya? " Tanyanya. Padahal ia tahu jawabannya. Ia tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawabanku tadi. Dan sampai ada air yang mengalir dari kelopak matanya. Dia memang orang yang gampang tertawa. Tidak ada yang lucu pun ia tertawakan. Benar-benar aneh. Tapi dia masih normal kok.
"Ya! Aku hanya bercanda. Dan kau berhentilah tertawa. Suara tawamu sedikit menyebalkan. "
"Arasseo"
"Apa kau lapar? " Tanyanya kemudian. Ia berdiri untuk merenggangkan otot-otot nya.
"Aku tidak terlalu lapar. Aku sudah makan tadi. Jika kau lapar aku bisa menemanimu mencari makanan. Kau tahu sendiri aku baru pindah di apartement ini, jadi tidak ada persediaan bahan makanan apapun disini. "
"Baiklah. Tapi kau harus ikut makan. Aku akan mentraktirmu. Kajja!" Tanpa persetujuan dariku, ia langsung menarik pergelangan tanganku menuju kearah parkiran tempat mobilnya terparkir.
"Ya! Lepaskan tanganmu." Aku berteriak agar tanganku terlepas darinya. Jika seperti ini terus aku tidak tahu apa aku besok masih hidup atau tidak karena kesehatan jantungku terganggu akibat perlakuannya padaku.
______
Annyeong!! 😊😊
Ini fanfic pertamaku gaess
Huhuuu😭😭
YOU ARE READING
My Reason To Life
FanfictionI know everything happens for a reason, but sometimes I wish I knew what the reason was
