Nafasku terengah tak karuan. Setelah berlari sejauh 300 Meter sampai juga akhirnya di halte bus ini. Nyaris sekali rasanya, telat 5 menit saja aku akan ketinggalan bus dan harus rela terlambat sampai 30 menit.
Baru saja sampai, beberapa gadis seusiaku serempak menoleh ke arahku. Aku tetap merasa sangat risih di perhatikan oleh para wanita seperti itu. Aku menyeka keringatku dengan punggung tanganku lalu kembali berdiri tegak menstabilkan nafasku. Sekarang aku menyesal bergadang semalaman menemani Ryu bermain game.
Suasananya tak ada yang berbeda setiap kali sampai di sini. Anak–anak berseragam sekolah berdiri berjajar, beberapa pria duduk sembari memainkan ponsel mereka,lalu ada juga beberapa orangtua yang membaca koran dan berbincang. Aku kembali menghela nafas panjang, menetralkan pernafasanku, menunggu tumpanganku juga.
Sebuah bus berhenti. Berdesakan adalah satu lagi suasana pagi hari yang tak pernah berubah. Aku memasuki bus lalu berdiri sambil menggenggam pegangan yang menggantung di samping kepalaku. kalau dulu, aku selalu bisa dapat tempat duduk. Kini, aku lebih memilih berdiri dan memberikan tempatku ke siapapun yang lebih membutuhkannya.
Dalam perjalanan, memperhatikan aktifitas sekitarku adalah hiburan tersendiri untukku. Saat ini di hadapanku duduk 2 orang murid sekolah dasar, seragam merah putihnya terlihat sedikit kebesaran. Mereka tampak sangat menikmati perjalanan mereka. Kedua anak itu membicarakan berbagai hal, mulai dari pelajaran di sekolah mereka, hingga mengabsen satu per satu judul video game yang pernah mereka mainkan. Aku tersenyum, hampir semua video game yang mereka bicarakan, aku pernah memainkannya juga.
Bosan dengan pembicaraan anak sekolah dasar, pandanganku kini beralih ke pojokan paling belakang deretan kursi bus. seseorang duduk santai, melihat ke arah jalanan kota yang di lalui sembari menyesapi gelas kertas yang tak dapat ku tebak isinya. Mungkin kopi, atau mungkin juga teh, bisa susu bahkan bisa saja obat sakit perutnya. Aku terkesiap —dan berusaha menahan tawa, saat pandangan pria itu dan pandanganku bertemu, siapa sangka orang tersebut adalah senior ku. Astaga! Aku berusaha tersenyum walau sangat gugup, mungkin wajahku sangat tak enak di pandang saat ini. Tapi ia hanya mengangguk dan mengembalikan pandangannya ke jalanan.
Syukurlah. Kini hatiku berdebar. Tak kusangka harus bertemu dengannya lagi sepagi ini. Aku sangat ingat pria itu. Dia adalah Saputra, seniorku. Dan aku yang sekarang adalah Reza, bentuk lain dari diriku yang dulu pernah jatuh hati dengannya, yang dikenal dengan nama Arisa.
YOU ARE READING
Between Us
RomanceNama? Baru. Wujud? Baru. Tapi hati... tetap yang lama. Arisa sedang bersiap meninggalkan kota lamanya, merapikan hidup yang penuh kenangan, saat sebuah kalung misterius mengubah segalanya. Dalam sekejap, ia menjelma menjadi sosok laki-laki bernama R...
