Kulangkahkan kaki memasuki laboratorium biologi. Warna cat di dinding, papan tulis, dan meja tempat dilaksanakan praktikum tampak serasi dengan warna jas lab yang kupakai.
Wajah-wajah di sekitar tempatku baru saja duduk hampir semua terlihat gelisah. Pretest kali ini memang horor, mata kuliah biologi dasar menjadi momok untuk mahasiswa angkatanku minggu-minggu ini.
Bagaimana tidak? Materi di buku panduan praktikum yang banyak sekali karena setiap praktikum ada dua acara, dan setiap acara harus dibuat laporan resmi tulis tangan tanpa diadakan revisi. Jadilah kami mahasiswa bergelar nocturnal dengan kehormatan memiliki hiasan kantung mata hitam karena waktu tidur yang berkurang.
"Han, aku berencana membuat bioplastic berisi spesimen kupu-kupu yang cantik," Zura berbisik padaku, sedikit membuatku heran dengan ide di otaknya yang penuh dengan keinginan menjadi peneliti.
"Buat apa? Materi kita kan herbarium. Ini tentang tumbuhan Zur," jawabku mengikutinya memelankan suara.
"Buat koleksiku." Kali ini Zura berkata sambil menegakkan kepalanya. "Sombong," batinku dalam hati, sedang tanganku masih asyik menggambar tumbuhan yang terhalang lapisan plastik bening dari pandanganku.
Seperti hari-hari sebelumnya, aku pulang dengan diantar Zura membonceng sepeda motor bebek milik lelaki itu. Sepeda motor yang terlalu sering kucaci genap tiga bulan ini karena mulai rewel dan sering mogok, membuatku terpaksa harus mendorongnya.
Sesampainya di rumah, kulihat adikku sedang meniup balon di genggaman tangannya. Kusapa dia dan temannya yang terlihat sedang asyik dengan kereta mainannya, mengabaikan sapaanku.
Aku pun memilih segera mengajak Zura masuk ke rumah, sembari tanganku mengusap pelan kepala dua anak laki-laki itu dan berpamit.
"Han bentar," suara Zura membuat langkahku terhenti.
Aku menoleh ke belakang, tampak kupu-kupu berukuran besar yang hinggap di kereta mainan teman adikku menjadi incaran tangan Zura menangkapnya. Anak itu memang kurang kerjaan, tugas laporan menumpuk masih saja memikirkan hal lain.
"Yey dapat!" Zura bersorak senang, kupu-kupu itu berada dalam genggamannya. "Hana, ambilin plastik! Nggak pake lama!" Aku segera beranjak ke dapur mengambil plastik bening persediaan ibu, sedikit dongkol dengan tingkah Azura.
"Mainanku rusak, huaaaa." Teman adikku terlihat menangis sesenggukan. Kulihat mainan kereta di sebelahnya rusak parah. Apa yang terjadi?
"Eh kenapa?" tanyaku sambil mengelus punggungnya, menenangkan.
"Kak Zura tadi nginjek kereta Zain kak. Saking senengnya dapet kupu-kupu, kaki Kak Zura berjingkrak." Suara adikku menjelaskan. Balon di tangannya mengempis, mungkin dia kaget dan berhenti meniup.
"Lah, kak Zura di mana?" tanyaku lagi, menatap sekeliling. Zura tidak ada di sekitar halaman rumahku.
"Zura!" Aku berteriak memanggil namanya, namun tak ada sahutan. "Kakak cari kak Zura dulu ya dek," pamitku pada adikku.
"Zura!" teriakku semakin keras, tetap tak ada sahutan.
Di jalanan, kulihat orang-orang bergerombol seperti habis terjadi kecelakaan. Jantungku berdegup kencang, Zura?
Aku segera berlari dan menyusup di antara tubuh orang-orang. "Ah, ternyata bukan." Kuhembuskan napasku lega, kembali menyusup di antara tubuh orang-orang untuk keluar dari gerombolan.
"Han," suara berat lelaki memanggil namaku pelan. Aku segera berbalik dan memeluk tubuhnya erat.
"Eh, kenapa?" tanyanya dengan nada heran.
"Kamu dari mana?" Bukannya menjawab, aku balik bertanya pada lelaki itu.
"Ini, kupu-kupu cantik sudah berada di plastik, dan aku membeli kereta mainan baru untuk teman adikmu."
Aku menoleh ke samping, Zain terlihat sudah menghapus air matanya dan tertawa riang bersama adikku.
"Kak, ayo kita pulang." Suara adikku mengajak, tapi Zura meraih tanganku saat aku ingin beranjak.
"Han, aku mencintaimu. Kamu juga kan?" Kata-kata Zura membuatku segera menatapnya, kusadari rasa suka sejak lama meski aku sering mengucap kata penolakan.
