Prolog

24 7 0
                                        

P r o l o g

"IBU! Ibu! Lihat, aku berhasil!" ucap seorang anak kecil kepada ibunya.

Sang ibu yang sedang minum teh di sore hari yang cerah itu pun bertanya pada putri kecilnya.

"Berhasil apa Sayang?"

"Lihat ini, aku berhasil menggambar wajah Pangeran Muda," kata anak kecil itu.

Gambar itu bukanlah hasil goresan anak kecil pada umumnya. Gambar itu penuh perhitungan, dengan pengukuran akurat yang hanya bisa diciptakan oleh tangan mungil itu.

"Wah bagus sekali gambarnya," kata sang ibu sambil mengelus-elus kepala putri semata wayangnya itu lalu mendudukkan putrinya di pangkuannya. Sebetulnya ia sedikit cemas, namun hal yang dikhawatirkannya itu tak terlalu penting untuk dipikirkan.

"Ibu, kenapa akhir-akhir ini para pangeran terlihat sedih? Apa ada sesuatu di rumah mereka?" tanya anak kecil itu dengan polosnya.

"Sedih? Hmm, mungkin mereka saling berebut mainan lagi seperti biasanya, pasti mereka akan kembali seperti semula," kata sang ibu.

Anak di pangkuannya hanya mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti dan tidak bertanya lagi. Ia pun mengambil beberapa kue kering di atas meja dan memakannya sementara ibunya menerawang jauh ke arah kerajaan. Sang ibu berharap semoga kerajaan tetap damai tanpa kerusuhan sedikitpun.

"Tapi Ibu, kapan aku bisa melihat Pangeran Muda secara langsung? Aku tak bisa menggambarnya dengan sama persis jika hanya meraba wajahnya, " tiba-tiba gadis itu mengatakan hal yang seharusnya tak ia katakan.

"Kita ditakdirkan untuk berada di tempat yang jauh dengan pangeran, Sayang. Kita harus bersyukur dengan ini," sang ibu hanya bisa menenangkan anaknya lewat kata-kata yang takkan mungkin dimengerti oleh anak kecil seumurnya.

"Baiklah, Bu." anak itu menyerah dengan segala keingintahuannya.

Tak terasa langit sudah berubah warna menjadi biru gelap. Sudah saatnya ibu dan anak itu untuk kembali ke istana kecil mereka. Namun tak lama setelah mereka masuk, sang ayah datang dengan tergesa-gesa dari pintu depan. Sang ibu yang heran dengan tingkah suaminya pun bertanya,

"Suamiku, ada apa?"

"Tidak ada waktu lagi, kita harus pergi," jawab suaminya.

Sang ibu terkejut bukan main. Matanya membulat. Ia menatap ke arah suaminya dan hanya dibalas sebuah anggukan pasti. Putrinya yang sedang ia gendong pun bertanya,

"Ayah, Ibu, ada apa?"

"Ah tidak apa-apa Sayang, Ayah hanya berpikir kita harus ke rumah Kakek sekarang, kau sudah rindu padanya bukan?" kata sang ayah lalu mengambil putrinya dari gendongan istrinya.

"Iya rindu!" jawab si putri dengan semangat.

"Kalau begitu ayo kita pergi," kata sang ayah sementara sang ibu mengambil tas yang sudah disiapkannya jauh-jauh hari.

Sebelum pergi, sang ayah membisikkan sesuatu ke telinga anaknya,

"Aku sangat menyayangimu, anakku."

Putri kecil itu tak tahu dan keheranan mengapa orang tuanya bertingkah aneh saat ini. Ia juga tak tahu bahwa sebenarnya mereka pergi bukan untuk berkunjung ke rumah kakeknya. Keluarga kecil itu pergi karena hanya mereka yang tahu rahasia apa yang dimiliki oleh kerajaan ini. Rahasia besar yang dapat memusnahkan dan meleburkan segala sesuatu yang ada di kerajaan ini.

Dan tepat pada hari ini, di istana yang berdiri megah di pusat kerajaan, sedang terjadi kudeta.

***


Halo semua, Shiro sama Charlote ceritanya debut nih :v
Cus lanjut ke chapter 1, jangan lupa krisar dan vomentnya ya😁

RIVOLTAWhere stories live. Discover now