Bagi Yulia, usia dua puluh satu tahun harusnya dirayakan dengan melompat setinggi-tingginya.
Sore itu, pelataran luar ndalem—kediaman luas di dalam kompleks benteng Keraton Yogyakarta—masih menyisakan aroma tanah basah setelah diguyur hujan. Yulia, dengan rambut di kuncir asal-asalan yang bergoyang mengikuti langkahnya, berlari kecil membelah halaman. Rok batik usang yang dimodifikasi di atas lutut membuat langkahnya bebas, kontras dengan para perempuan paruh baya yang berjalan kedang-kedang, anggun dan lambat, dengan kain jarik yang melilit ketat.
"Yulia! Cah ayu, jangan lari-lari! Kamu itu sudah dewasa, bukan anak kecil lagi!" tegur salah satu Mbok yang baru saja keluar dari dapur umum melihat kelakuannya.
Yulia hanya menoleh, memamerkan cengiran lebar hingga matanya menyipit.
"Hari ini Yuli resmi dua puluh satu tahun, Mbok! Berarti kaki Yuli sudah boleh melangkah dua kali lebih cepat!" serunya riang, membuat beberapa abdi dalem yang lewat menggeleng-gelengkan kepala, memaklumi tingkah putri tunggal Pak Mitro tersebut.
Pak Mitro adalah salah satu abdi dalem sepuh yang paling dihormati di kediaman Gusti Pangeran haryo, pemilik ndalem megah ini. Namun, sifat kaku dan penuh tata krama sang ayah sama sekali tidak menurun pada Yulia. Gadis itu adalah pusaran energi; ceria, blak-blakan, dan kadang terlalu polos untuk memahami bahwa di tempat ini, setiap jengkal tanah memiliki aturan.
Yulia mempercepat langkahnya menuju paviliun belakang, tempat ayahnya biasa beristirahat setelah bertugas. Di tangannya, sebotol jamu beras kencur hangat bergoyang-goyang.
"Bapak! Lihat Daniele bawa apa—"
Ucapan Yulia terputus di ambang pintu kayu yang lapuk.
Botol kaca di tangannya lolos begitu saja, menghantam lantai tegel dan pecah berkeping-keping. Cairan putih kecokelatan merembes di antara pecahan kaca, namun Yulia tidak peduli. Matanya melebar menatap sang ayah yang terduduk di lantai, bersandar pada kaki ranjang dengan telapak tangan menutupi mulut.
Di sela-sela jari kurus Pak Mitro, darah segar mengalir pekat.
"Bapak!" Yulia menjerit, seluruh energi cerianya menguap digantikan rasa dingin yang menjalar ke dada. Dia langsung berlutut, mengabaikan pecahan kaca yang menggores lutut polosnya.
"Bapak kenapa? Jangan buat Yulia takut..."
Pak Mitro terbatuk kencang, menyeka sisa darah di bibirnya dengan gemetar. Wajah sepuh itu pucat pasi, namun matanya menatap Yulia dengan tatapan yang sangat dalam, tatapan penuh rasa bersalah sekaligus kepasrahan.
"Yulia... nduk..." suara Pak Mitro serak, nyaris habis.
"Tuhan sepertinya sudah mau menjemput Bapak."
"Enggak! Jangan bicara begitu!" Air mata Yulia luruh seketika, membasahi pipinya yang kemerahan.
"Kita ke rumah sakit sekarang. Yulia carikan bantuan."
Saat Yulia hendak berdiri, tangan kurus ayahnya menahan lengannya dengan cengkeraman yang mengejutkan kuat.
"Dengarkan Bapak, nduk. Waktu Bapak tidak banyak. Sebelum Bapak pergi... Bapak harus memastikan kamu aman. Kamu terlalu polos, terlalu liar untuk dilepas sendirian di dunia ini."
YOU ARE READING
Ndoro Dan Kesayangan Kecilnya (SoobJun | GS)
FantasyYulia (21), gadis polos energik yang menikah dengan anak dari majikannya, Raden Mas Surya Dananjaya Adiningrat (35) yang terpaut usia 14 tahun karena permintaan bapaknya yang sudah sakit-sakitan. Yulia = Yeonjun Surya = Soobin Cerita mengambil pela...
