REMBULAN

13 2 5
                                        

Ad perpetuam rei memoriam – untuk peringatan sepanjang masa.

"Lihat, dia sungguh seperti rembulan," ia tersenyum penuh haru.

Mungil sekali, wajahnya masih merah menyala. Bekas darah di sekujur tubuhnya belum dibersihkan dengan sempurna. Hanya sehelai handuk dililitkan untuk membalut tubuhnya yang masih suci itu. Baru sekitar lima belas menit yang lalu persalinan berlangsung lancar, dengan sempurna tentunya. Wanita itu terus menerus mengucapkan rapalan doa setelah putranya selesai di adzankan oleh pria yang dicintainya pada telinga kanannya.

"Akankah ia menjadi dokter seperti ayahnya nanti?" suaranya masih terdengar samar dan lemah, namun ia tetap banyak bertanya. Wanita itu bahagia luar biasa. Ia merasa baru saja mendapatkan anugerah pemberian Tuhan yang tiada terkira.

Pria di sampingnya mencium keningnya. Hangat sekali. Kehangatan itu sungguh menjalar hingga mampu menggetarkan relung hatinya. Bulir-bulir air mata jatuh seketika, beberapa darinya meluncur dengan cepat.

"Kita akan menyaksikannya tumbuh dewasa bersama–sama, Anita," tuturnya lembut, kemudian Pria itu mencandainya, "lagipula, belum tentu keinginan Putra Mahkota setelah dewasa malah ingin menjadi dokter yang handal sepertiku."

Wanita yang kerap dipanggil Anita itu tertawa.

"Aku harap seperti itu," senyumnya berangsur-angsur memudar, "Tapi, apakah aku diizinkan untuk terus melihatnya hingga ia tumbuh dewasa nanti?"

Alih-alih, bukannya menjawab, pria itu mengusap kelapa Anita, pelan.

"Kita namakan siapa?" tanyanya.

"Candra," Anita menjawab cepat, "Candrakumara–yang berarti putra rembulan. Karena katamu malam ini sedang purnama, bukan?"

Pria itu mengangguk.

Benar, malam ini sedang purnacandra atau bulan purnama yang sedang puncak-puncaknya–terlihat paling terang di tahun ini. Keindahannya terlukis begitu indah pada bumantara. Menerangi gelap malam yang dilumat masa. Beberapa penduduk bumi pun memilih untuk rela memandanginya lamat-lamat di malam yang dingin seperti ini, ada yang menikmati secangkir teh hangat sambil memandanginya, ada yang mengabadikannya bersama lensa kameranya, bahkan ada yang menyimbolkannya sebagai pertanda bahwa meski jarak memisahkan, bukan berarti dua sejoli benar-benar terpisahkan, karena mereka masih berada di bawah atap langit yang sama. Banyak yang mengambil kesimpulan kalau bulan adalah kebaikan dan pembawa kebahagiaan. Meski tak jarang pula sebagian malah mengabaikannya karena terlalu berkutat pada kesibukan dunia. Seharusnya, jikalau mereka mendongakan kepala sejenak, mereka pasti akan paham makna keindahannya yang sebenarnya.

Andai saja.

"Tetap dengan tambahan Gahara di belakangnya?" tiba-tiba pria itu memecah lamunan.

Suasana lenggang.

Mata Anita menyipit. Lekukan tersungging lagi pada bibirnya. Ia sungguh seperti malaikat tanpa sayap. Cantik sekali, kulitnya putih bersih, rambutnya hitam panjang dan bergelombang. Ia adalah malaikat untuk putranya yang baru saja terlahir di bumi. Senyuman itu pun sebagai jawaban untuk pertanyaan suaminya barusan.

Anita meraih putranya. Ia menimang–nimang sambil tetap berbaring di kasur rumah sakit dengan warna alasnya yang serba putih, dengan bercak darah yang tak dihiraukannya. Ia menghirup dalam-dalam wangi khas putranya yang baru saja lahir belasan menit lalu.

Kemudian ia berucap, "Semoga Candrakumara putraku tersayang ini mampu menghadapi hiruk pikuk bumi yang semakin menua ini, semoga. Seperti Ayahnya, Kalandra."

****

Candrakumara terbangun, air mata meluncur cepat di pipi kanannya. Tepat setelah ia memfokusan pandangan, hamparan taman bunga kebun belakang rumahnya terpampang sempurna ketika sore hari menjelang. Matahari tidak lagi panas menyengat, namun kini telah menjadi hangat. Langit sore semakin angkuh 'tuk menunjukan lembayung senjanya, seakan berkata pada manusia kalau malam hari akan datang dan rembulan akan menggantikan hadirnya. 'Pun taburan bintang yang kadangkala tampak indah jika awan hitam tidak berusaha egois lagi dan menutupinya.

"Can, kamu nangis?" tanya seorang gadis seusianya, kaget.

Candrakumara mengusap ujung matanya yang berair.

"Aku baru saja mimpi tentang diriku sendiri," Candrakumara menjawab sambil berpikir ulang, berusaha untuk mengingat, "tapi sayangnya, aku lupa."

Gadis itu memetik bunga berwarna merah muda di sampingnya, kemudian berucap, "mimpi 'kan memang seperti itu, semakin diingat semakin lupa."

Benar, semakin diingat, semakin lupa.

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Oct 14, 2021 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

BUMANTARAWhere stories live. Discover now