Prolog

19 1 0
                                        

  Seberkas cahaya menyelinap dibalik perpohonan menerpa wajahku sehingga membuatku tersadar. Terlihat sosok lelaki paruh baya menampar perlahan pipiku sembari berteriak mencoba membangunkanku. Saat kesadaranku sudah pulih seutuhnya, dengan penuh selidik kuamati lelaki itu. Sosoknya mengingatkanku pada penyanyi rock 80'an dengan sikap flamboyan dan kumis khasnya "Freddie Mercury?" benakku.

  Lelaki Freddie dengan pakian aneh itu menbantuku bangkit dan menyandarkan aku pada sebatang pohon. Dengan sikap tenang tetapi waspada matanya jelalatan mengamati diriku sembari mengernyitkan dahinya. Wajahnya yang waspada nan tegas itu berganti menjadi penasaran. Aku tidak tahu bagaimana pendapatnya tentang diriku, berkali-kali dia menatap pada bagian kakiku—ntah apa yang dipikirkannya.

  "Kau bukan siluman kan? Atau mahluk halus?" ujar lelaki itu "tidak ada manusia biasa yang mau berkeliaran di tempat ini kecuali aku Panulukan Kelik," lanjutnya.

  Aku mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi tetapi kepalaku terasa sangat sakit. Sekuat apapun aku mencoba mengingat hanya sedikit yang bisa kuingat. Aku terjatuh di tebing curam Bukit Tilung, sayup-sayup terdengar seseorang meneriaki sebuah nama "Kaliadro!" mungkin itu namaku. Tubuhku terus menggelinding di permukaan tebing dengan kontur tanah keras, ditambah lagi tumbuhan dengan duri-duri  tajam serta semak belukar tumbuh merambat di permukaan tanah membuat tebing itu serasa seperti neraka. Perlahan kurasakan luka lecet membubuhi sekujur tubuhku ditambah dengan permukaan yang tidak rata membuat beberapa kali tubuhku menubruk tanah, tak elak ada beberapa tulang tubuhku yang patah. Petualanganku di tebing neraka itu berakhir dengan tubuhku tertahan pada sebuah tunggul batu besar dengan perutku tertusuk bagian tajamnya. Kurasakan darah merembes keluar dari celah perutku, perlahan-lahan pandaganku mulai berkunang-kunang hingga akhirnya aku kehilangan kesadaran. Dalam keadaan seperti itu seharusnya aku sudah mati.

  Aku menceritakan semua hal itu kepada pria yang sekarang kuketahui bernama Panulukan Kelik. Namun, apa yang dia katakan padaku setelahnya membuatku tercengang. Tempatku berada sekarang ini bukanlah Bukit Tilung, melainkan Bukit Tebalung. Selain itu Bukit Tebalung dikenal sebagai kawasan yang sangat angker, dimana tidak pernah ada seorang manusia pun yang datang kesini bahkan tokoh silat yang sangat sakti sekalipun. Hal yang menarik perhatianku disini adalah bagian "tokoh silat" seakan-akan hal tersebut sangat lumrah di tempat ini. Selain itu Panalukan Kelik mengaku bukanlah manusia seutuhnya melainkan setengah siluman yang menjadi juri kunci Bukit Tebalung dan sudah hidup selama 187 tahun. Tentu saja semua cerita itu tidak bisa langsung kupercaya.

  "Aku tidak percaya kau benar-benar setengah siluman, aku ingin pembuktian bagaimanapun caranya!" tantangku.

  Terlihat perubahan pada air muka Panalukan Kelik. "Kau membuatku sedikit kesal, andai saja aku tidak sabaran mungkin sudah kupatahkan lehermu. Baiklah jika itu yang kau inginkan!" ucap Panulukan dengan nada tinggi.

  Tampak sinar putih kebiruan menyelimuti sekujur tubuhnya, seketika tubuhnya menjadi licin dan berlendir. Tampak matanya berubah menjadi warna merah. Setelah itu dia memamerkan tubuh menggelikannya itu bak seorang binaragawan. Setelah setengah menit berlalu, sinar putih kebiruan yang menyelimuti tubuhnya perlaham menipis dan dia pun kembali ke wujud asalnya.

  "Kau sudah melihatnya bukan," sombong Panulukan dengan wajah bangganya "sayangnya aku tidak bisa berubah wujud seutuhnya karena aku setengah siluman," lanjutnya lagi sambil bertolak pinggang.

  "Apakah mungkin... kau siluman belut?" tebakku.

  "Haahh?" tampak kekecewaan di raut mukanya. "Kau tidak lihat kumis mempesonaku ini? Dan kau langsung mengambil kesimpulan kalau aku ini sejenis hewan menjijikan itu?Hehh! Aku ini siluman lele," balas Panulukan ketus. Tentu saja tidak mengubah persepsiku kalau itu mahluk yang menggelikan.

  Setelah semua ini tentu saja mau tidak mau aku harus mempercayai ceritanya. Jika saja yang Panulukan katakan itu benar, berarti aku sudah terlempar ke dunia yang berbeda atau kembali ke zaman kerajaan silam. Yang manapun itu cepat atau lambat aku akan segera mengetahuinya. Oh ya aku baru tersadar, luka perutku benar-benar hilang begitu juga dengan luka lecet serta bagian tubuhku yang patah. Bagaimanapun seharusnya aku bersyukur sudah diberikan kehidupan kedua dalam keadaan tubuh yang sehat.

  Untuk memastikan teoriku, apakah ini dunia yang berbeda, atau dunia yang sama hanya saja penggalan waktu yang berbeda aku kembali bertanya kepada Panalukan. "Ngomong-ngomong apakah kau tahu ini tanggal berapa?".

  "Hidup di bukit seperti ini membuatku tidak begitu peduli mengenai waktu, lagipula setengah siluman bisa hidup sampai 300 tahun—tentu saja pergantian tahun tidak begitu terasa bagiku. Kalau hari, dan bulan mungkin aku lupa, tetapi seingatku ini tahun 2016," jawab Panalukan.

  Aku tersentak kaget. Aku mungkin tidak ingat kapan tepatnya saat aku menjemput maut di Bukit Tilung, tetapi sedikit hal yang dapat kuingat adalah ulang tahunku yang bertepatan pada tanggal 22 Februari tahun 2000.  Mungkin saja alur waktu pada dunia ini dan duniaku tidak berbeda jauh, bisa saja saja alur waktunya sama. Hipotesa yang bisa kuambil sementara ini adalah aku berada di dunia lain yang berbeda dengan duniaku. Aku tidak tahu apa yang selanjutnya akan aku lakukan. Untuk sementara ini aku ikut arus saja, mencoba beradaptasi disini.

  "Hey bisakah aku tinggal di tempatmu untuk sementara waktu?" pintaku kepada Panalukan.

  "Tentu saja boleh, bahkan tinggal di sini selamanya juga tidak apa-apa, aku sedikit kesepian tinggal di sini. Ohh ya aku tidak tau siapa namamu anak muda?".

  "Panggil saja aku Kaliandro atau Kal".

You've reached the end of published parts.

⏰ Last updated: Jun 21, 2019 ⏰

Add this story to your Library to get notified about new parts!

BANG KAL: Penebar kelopak merahStories to obsess over. Discover now