01. I ↓

1.1K 123 28
                                        

Park Woojin

Tidak tahan dengan sinar matahari, tidak suka hujan, benci cuaca berangin, berlebihan pada sebutir debu.

Pertama, kelasnya. Luar biasa kotor, membuatnya selalu tak nyaman. Berada disamping jendela membuatnya sering diterpa angin, terlebih ketika hujan datang.

Selalu datang paling subuh hanya untuk menyapu bersih lantai kelasnya. Ketika yang lain datang, menanyakan siapa yang menjadi malaikat pembersih, ia tak berniat memberi tau.

Satu orang lagi yang ingin tau apapun itu yang bersangkutan dengannya. Ia benci.

"Woojin-sshi, kau yang bersihkan ini semua kan?"

Perempuan modis mana yang berniat datang cepat ke sekolah hanya untuk bersih-bersih?

Woojin hanya diam. Memperbaiki letak kacamatanya yang sedikit turun. Ia kembali duduk di kursinya.

"Dasar batu. Kalau orang bicara, kenapa tidak jawab?" Si tinggi beralih duduk disampingnya. Mereka teman semeja omong-omong. Woojin sedikit menggeser kursi, menjaga jarak.

"Percuma, aku seperti bicara dengan batu," katanya ketus, lalu pergi begitu saja.

Woojin memandang sinis punggung lelaki itu, untuk sekian kali ia menyeringai.

"Kau pikir kau siapa ingin tau tentangku?" Gumamnya sinis. Pandangannya kembali keluar jendela.

Diluar sana agak gelap, cuaca mendung dan sedikit berangin. Woojin benci, setelahnya ia mengeratkan syal yang terlilit di lehernya.

Ada seseorang dibawah sana. Mereka jalan berdua lagi. Woojin mengulas senyum, mengerikan. Untuk sekian kalinya. Ia mengumpat.

"Lai Guanlin, Park Jihoon."













[       dread

wont ;        ]










Kantin sedang ramai. Lima menit yang lalu bel berbunyi. Semua siswa-siswi berkumpul membentuk kumpulan sendiri. Oh, bukan semua, Park Woojin tak termasuk diantaranya.

"Hai? Aku boleh duduk disini?" Pria ini lagi. Banyak yang bilang dia siswa baru disini. Ya, sebulan lalu memang. Itu sudah lama.

Woojin tak menjawab, ia sempat menoleh, tapi setelahnya mengalihkan pandangannya pada ramen. Ia lanjut makan.

Pria didepannya tersenyum. Lalu duduk di bangku seberang. Duduk disamping Park Woojin?  Oh, kejadian kemarin tidak boleh terulang lagi.

"Kau lapar sekali ya? Lahap sekali makannya," celetuk si pria sambil tertawa kecil.

Woojin jadi tak nyaman. Untuk apa pria ini kesini beberapa hari terakhir? Sering kali Woojin melihat manusia ini berkeliaran di sekitarnya.

"Bukan urusanmu." Desis Woojin tajam. Ia mempercepat kunyahannya, berniat pergi setelah ini.

Si pria tinggi mendelik tak suka melihat Woojin meninggalkannya. Sempat ia ingin menahan, tapi langkah Woojin semakin cepat saja. Apa wajahnya terlalu mengerikan?

"Park Woojin! Namaku Im Youngmin!" Teriaknya berharap didengar.

Woojin tak menoleh sama sekali, tak tau sengaja atau tidak, ia menyemburkan air minumnya ke tempat sampah disebelah. Seperti jijik dengan teriakan tadi, entahlah.

Youngmin tentu kaget. Apa Woojin sengaja?

Sebegitu angkuhnya kah?















[             dread

wont;               ]













Ini hari Jumat. Beberapa siswa akan ikut ekstrakurikuler di sebagian bidang. Diantara semuanya, Woojin hanya mendaftar diri di kelas bahasa. Itu pun dia tak niat. Masuk sini hanya untuk satu hal.

"Mereka bersama lagi." Gumamnya setelah menyapu pandang di lapangan sana.

Ah, kedua orang itu naik ke lantai atas. Kemungkinan ke kelas ini. Woojin segera mengalihkan pandangan. Benar saja, mereka menuju sini.

Woojin melirik sekilas. Guanlin menggenggam tangan mungil itu erat, seakan tak mau lepas.

"Pasangan serasi." Desisnya. Guru datang, ia tak berniat lagi memantangi orang sana.

Beberapa menit berlalu, mereka disuruh mengerjakan tugas. Dua lembar saja membuat kepala pria Park berputar. Ia pusing, tapi masih bisa menjawab. Selagi ia masih mampu mengerjakan sendiri, ia tak akan minta bantuan. Dan tak akan.

"Hei! Bisa pinjam buku paket sebentar?" Bahunya sedikit diguncang, Woojin tak suka yang satu ini juga. Ia berbalik, ada Guanlin di belakangnya.

"Apa?" Ketusnya.

"Kami tak punya buku paket. Kau sudah selesai kan? Boleh pinjam?" Tanyanya baik-baik.

Dasar pasangan tak tau diri. Berdua, tapi sama-sama tidak bawa buku. Pasangan serasi nan sempurna. Woojin salut.

"Tidak."

"O-oke,"



.

.

.

Sawadeekap. Zzz.

Random bgt ini xixixi. Ada pancham ada PacaCham, ada Nielcham. Dasar aku, sosoan buat begini>< chapt 2 bingung lanjutnya.

See ya 🌃

dread, wont; Where stories live. Discover now