Tepat tanggal 9 January 2019 aku merasakan sakit yang teramat sangat di bagian kepala yang membuat ku terbangun dari tidur dipagi hari, tepat nya jam 4 pagi kala itu. Entah mengapa akhir - akhir ini kepala ku sering merasakan sakit yang teramat sangat hingga membuat ku hanya bisa duduk terdiam tatkala sakitnya mulai datang. Ketika mata hari mulai terbit aku memutuskan untuk menuju rumah sakit terdekat untuk memeriksa keadaan ku, apakah aku sedang mengalami sakit yang begitu serius atau hanya sakit kepala biasa yang datang akibat aku sering begadang akhir - akhir ini. Beberapa jam menunggu akhirnya pihak Ct scan memberikan hasilnya kepada dokter yang menangani ku berobat dan membacakan hasilnya kepadaku, karena aku tidak begitu mengerti dengan apa yang tertera di lembaran hasil tersebut. Benar saja apa yang aku takutkan terjadi dan membuat ku tidak percaya dengan hasil tersebut, sehingga aku meminta kejelasan dengan dokter apakah itu benar hasil dari Ct scan ku apa hasil Ct scan orang lain. Sekali lagi dokter menjelaskan dengan serius bahwa memang benar bahwa Ct scan ini adalah milikku bukan milik orang lain, aku sempat terdiam sejenak dan mencoba untuk percaya bahwa hasil tersebut bukanlah milikku. Aku memutuskan untuk kembali ke kost dan membawa hasil Ct scan yang dokter berikan kepadaku, sesampainya di kost kembali aku berfikit bahwa aku baik - baik saja, tidak mungkin aku terkena kanker otak stadium 2. Ya aku baru saja di ponis kanker otak stadium 2 yang membuat ku sulit percaya dan menentang berkali - kali keputusan dokter yang memeriksaku.
~
3 hari berlalu dan aku masih sulit untuk percaya bahwa aku sedang mengidap penyakit yang begitu serius, aku bingung kepada siapa harus ku ceritakan semua masalahku, apakah langsung saja aku ceritakan semuanya kepada orang tua ku. Aku tersentak dan terdiam sejenak tatkala aku teringat dengan masalah yang orang tua ku hadapi sekarang dan membuat ku semakin ragu untuk menceritakan semuanya kepada kedua orang tua ku, apakah mereka bisa menerima masalah baru yang menimpa ku saat ini sedangkan masalah lama yang mereka alami saja belum selesai hingga sekarang.
Setelah sekian lama berfikir aku akhirnya memutuskan untuk menceritakan semua masalahku kepada salah satu sahabat yang lokasi nya tidak di dekatku melainkan dia sedang bekerja di Kupang, dia adalah Kadek Gunawan biasa kupanggil Gun, kami sudah lama kenal melalui sebuah organisasi pecinta alam yang membuat aku begitu menyukai traveling dan photography, hoby yang aku cintai sampai sekarang sampai - sampai aku lupa akan karier ku di dunia kerja karena sibuk traveling terus dan terus. Pesan singkat yang kukirim kepada Gunawan.
"sibuk koe?
Tidak membutuhkan waktu yang begitu lama hingga gunawan akhirnya membalas pesanku.
"Kenapa?....
"Ada yang pengen aku ceritain....
"Enggak kalo khe nggak lama.kenapa? (Khe yang berarti kamu).
Akhirnya dengan keberanian yang cukup aku menelpon Gunawan, dengan nada yang begitu membuat Gunawan bingung sampai - sampai dia bilang, "kenapa khe? Ngehamilin anak orang?
Ya Gunawan dan aku memang begitu kami jarang membicarakan hal - hal yang menyangkut masalah pribadi masing - masing selain jadwal kapan kami traveling bersama. Akhirnya dengan kondisi yang sedang menangis ku beranikan diri untuk menceritakan keadaan ku yang sekarang ini kepada Gunawan, yang awalnya gunawan pun tidak percaya bahwa aku mengidap kanker otak stadium 2, karena beberapa bulan yang lalu aku masih terlihat sehat - sehat saja dan kami berdua baru saja pulang dari malang. Dengan nada serius akhirnya Gunawan bertanya kepadaku " wis udah kamu ceritain ke ibukmu?...
"Belum gun, aku gak berani... soalnya ibukku juga ada masalah sama bapakku...
Berkali - kali gunawan menyuruhku tapi tidak terlalu ku hiraukan, sebab keberanian ku belum ada untuk menceritakannya kepada kedua orang tuaku.
1 jam lebih aku menceritakan semuanya kepada gunawan yang akhirnya bisa membuat ku sedikit tenang dan bisa mencurahkan semua yang aku rasakan saat ini serta tak henti - hentinya aku menangis tatkala aku menceritakan semua masalahku kepada Gunawan. Setelah diriku mulai sedikit tenang akhirnya gunawan bilang kepadaku bahwa, mau tidak mau cepat atau lambat kamu harus menceritakan semuanya kepada kedua orang tuamu wis, karena ini masalah yang serius menyangkut tentang kesehatanmu ucap gunawan dengan begitu serius, aku hanya bisa menjawab dengan kata - kata " iya gun nanti aku coba,,,
Akhirnya aku memutuskan telepon gunawan dan kembali lagi mengumpulkan keberanian untuk memberi tahu kedua orang tua ku yang sedang berada di jakarta, ya aku dan kedua orang tua ku hidup terpisah semenjak aku mulai kuliah di Universitas Dhyana Pura.
Tak lama setelah aku selesai menelpon gunawan handphone ku bergetar, tertulis nama si pengirim "Rina" dengan isi pesan yang mempertanyakan kondisi ku "kak are you ok?
Iya rin aku baik" aja..
"Jangan bohong?
Sejenak aku mulai heran dengan pesan rina yang seolah tahu kalau aku sedang berbohong kepadanya, sempat terpikir olehku apa rina tahu mengenai kondisi ku saat ini? Tidak mungkin rasanya karena seingatku kondisi ku saat ini hanya dokter dan gunawan yang tahu.
Hanya ku balas dengan singkat pertaanyan dari rina saat itu, jujur saja diriku tidak ingin jika keadaan ku saat ini banyak dikatahui orang, sekalipun itu teman - temanku.
Hanya kujawab, iya rin......
Dengan cepat rina membalas jawaban yang kuberikan tersebut.
"Tadi gunawan cerita soal kondisi kakak?
Seolah tidak lagi mau membuang waktu rina langsung mengatakan bahwa tadi gunawan sudah menceritakan kondisi ku saat ini, sehingga tidak ada lagi alasan aku untuk mengelak dari pertanyaan yang rina lontarkan kepadaku.
Tak langsung kujawab pesan singkat dari rina tersebut dan membuat ku sedikit bingung bagaimana aku harus menceritakan semuanya kepada rina? Sempat lama diriku berfikir dan pada akhirnya mau tidak mau kuceritakan semua nya kepada Rina.
Btw Rina adalah orang yang selama ini aku anggap adik sendiri, yah entah bagaimana aku bisa begitu akrab dengannya padahal kami tidak pernah berkenalan seperti halnya orang biasa untuk membuat satu sama lain lebih akrab, mungkin karena rina satu lingkungan kost dengan ku saat aku masih kuliah dulu jadi secara tidak sengaja kami berdua saling sapa satu sama lain yang akhirnya membuat kami begitu akrab hingga saat ini, bahkan tak jarang ku ajak jalan pada saat dia libur yang membuat ku semakin akrab dengannya, bahkan pada saat ku kenalkan Rina kepada gunawan, dia langsung percaya begitu saja bahwa rina adalah adik kandungku.
Ya akhirnya rina tahu mengenai kondisi kesehatan ku hari itu juga setelah gunawan menceritakan semua yang aku alami selama 3 hari ini, rina sempat mengajakku bertemu di suatu tempat untuk membicarakan langsung mengenai masalah ku saat ini, tapi aku menolak ajakan tersebut dengan alasan aku lagi nggak mood melakukan apa - apa, tapi memang benar aku sedang tidak mood melakukan apa - apa, bahkan menjalankan hoby yang aku cintai sekalipun.
YOU ARE READING
Aku & Kanker
Non-FictionAku adalah pengidap kanker otak, Dengan kanker yang ada di dalam kepala sudah menginjak stadium 3 aku selalu berusaha terlihat baik - baik saja walau susah untuk disembunyikan, merepotkan memang .... ibarat bom waktu yang siap meledak kapan saja jik...
