Alanta, gadis yang hidup di tengah kehancuran terpaksa menyelami dunia penjahat. Bermula dari laki-laki bernama Leon yang menunjukkan arah ke kehidupan mafia. Mengajarinya arti hidup dalam sudut pandang berbeda.
ALANTA
LEON
DAVEEN
JOAN
AUDI
WILLE
WA...
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.

Gelap, sunyi, dan penuh dengan kebuntuan. Ya, itu yang dirasakan oleh seorang gadis bernama Alanta. Ia berputar, mencoba mencari arah lagi untuk kaki melangkah.
Namun, setiap jalan yang ia lalui hanya mengantarnya pada kesesatan. Sudah seharian ini gadis itu terjebak dalam hutan, akibat melarikan diri dari begal di tengah perjalanan. Pandai sekali para penjahat itu membututinya dari kota hingga ke desa, dan saat tiba di jalan yang dikelilingi hutan, di situlah aksi mereka dimulai.
Alanta tak bisa berbuat apa-apa selain lari ke hutan. 'Lebih baik mati di tengah rimba daripada menjadi pemenuh nafsu dua laki-laki begal itu', pikirnya saat itu. Hingga saat kaki sudah tak mampu melangkah, keajaiban datang dengan menampakkan sebuah rumah besar di tengah hutan. Tanpa pikir panjang, Alan menghampiri, berharap sang pemilik rumah mau berbaik hati padanya. ****
Asap rokok mengepul ke udara dari mulut seorang lelaki. Ia masih bisa bersikap santai saat mendengar pengakuan anak buahnya. Namun, saat tahu mangsa empuknya lepas, kobar api seketika menyala di matanya.
"Apa kalian sudah tidak punya tujuan hidup lagi?" Matanya menajam. Mematikan puntung rokok ke meja kayu, tempat kaki ia beralas sebelumnya. Sambil bersandar kembali, laki-laki itu melipat ke dua tangan di dada hingga tiap jari menyentuh saku celana. "Ma'af, Bos. Kami tidak bisa menahannya, dia kabur begitu saja," jelas salah seorang anak buahnya yang berdiri di belakang sang bos.
"Ikan tidak akan lepas dari pukat yang sudah terlilit jika tidak ada yang membukanya dengan sengaja," ucap pria yang masih membelakangi anak buahnya dengan datar, tapi tajam.
Salah satu dari mereka berdua menunduk sedikit takut. "Ma-ma'af, Bos. Ini sebenarnya ulah Zino." Cowok yang namanya disebutkan itu menoleh dengan tajam pada laki-laki di sebelahnya. "Kalau Zino tidak berencana memainkan perempun itu, ia pasti tidak akan kabur dengan mudah," lanjutnya. "Jangan asal fitnah, Jim! Itu semua rencanamu! Aku hanya berusaha mendekapnya!" bela Zino tak terima. "Dan, jika kamu tidak menariknya ke hutan, mungkin dia tidak akan lepas!" balas Jimi tak kalah kasar.
"Berhenti!" teriak bos-nya dengan lantang sambil menyodorkan pistol ke arah Jimmy dan Zino. Kedua laki-laki itu langsung diam. Nyali mendadak ciut seketika saat melihat benda api tersebut, apalagi saat sang mafia marah.
"Jika ingin berkelahi, silakan. Tapi, hingga mati!" Hening. Zino dan Jimmy hanya menunduk, tak berani menatap apalagi menjawab. Hingga suasana sepi itu pecah seketika saat bunyi ketukan pintu terdengar.
Mereka bertiga saling pandang. Mengisyaratkan tanda tanya pada masing-masing mata. "Siapa yang mengetahu rumah ini?" tanya sang bos tak menyangka. Zino dan Jimmy menggeleng. "Periksa ke bawah." Segera Jimmy menuruni anak tangga. Dan, diam-diam mengintip lewat jendela. Netra-nya membesar saat melihat siapa yang mengetuk pintu. Tanpa menunggu lagi, ia langsung menghampiri sang bos. Seperti biasa, tanpa harus bertanya lewat mulut Jimmy sudah mengerti maksud sang bos. Ia langsung sampaikan siapa yang datang dengan cara berbisik. ***