1. Keluarga Ratle

20 1 0
                                        

Pada zaman dahulu di sebuah perbukitan di pinggir hutan, tinggalah  keluarga tikus yang bahagia. Ayah tikus, Tuan Ratle dan Ibu tikus, Nyonya Ratle serta dua anak mereka si sulung Molly dan si bungsu Ratto.

Molly dan Ratto adalah dua anak yang sangat berbeda. Bukan hanya karena Molly betina dan Ratto jantan melainkan sikap mereka sangat bertolak belakang.Molly adalah tikus yang baik, rajin dan anggun, sedangkan Ratto adalah tikus yang malas, jahil dan jorok.

Pada suatu pagi yang cerah, Tuan Ratle, Nyonya Ratle dan Molly telah siap melahap sarapan mereka. Hari ini Nyonya Ratle memasak sandwich jamur dan manisan beri hutan.

"Dimana Ratto?" Tanya Tuan Ratle.

"Tentu saja masih tidur." Jawab Nyonya Ratle.

"Oh, betapa malasnya ia. Sebenarnya pagi ini aku sungguh membutuhkan bantuannya untuk menebang kayu. Rumah kita perlu diperbaiki karena sebentar lagi musim penghujan akan tiba." Ucap Tuan Ratle sedikit kecewa.

Nyonya Ratle meletakkan sendok dan garpu dari genggamannya.
"Baik, aku akan bangunkan Ratto."

Sebelum Nyonya Ratle beranjak, Molly terlebih dulu menyahut,
"biar saya saja, Bu."

Nyonya Ratle mengangguk setuju dan membiarkan Molly membangunkan Ratto.

Ratto terlihat sangat menikmati tidurnya. Dengkurannya begitu kencang memekakkan telinga. Molly menghampiri tubuh gembul Ratto yang tengah terlelap dalam buaian mimpi.

“Ratto, Ratto bangunlah."
Molly mencoba berteriak untuk membangunkan Ratto. Tapi apalah daya, suara dengkuran Ratto lebih mendominasi.

Tanpa putus asa, digoyang-goyangkannya tubuh gembul Ratto sembari meneriakkan nama Ratto berharap saudaranya itu akan bangun. Namun, hasilnya tetap nihil. Ratto sang tukang tidur terlihat seperti tak terusik sedikit pun. Akhirnya Molly menyerah dan kembali menuju ruang makan.

"Bagaimana sayang, apakah kamu berhasil membangunkan Ratto? Tanya Tuan Ratle.

Molly menggeleng putus asa.
Nyonya Ratle mendengus sebal,
“mau jadi apa dia kelak jika setiap hari kegiatannya hanya makan dan tidur saja? Tidak tahukah ia bahwa musim penghujan akan segera tiba dan kita harus mempersiapkan diri agar tetap bisa berteduh dan bertahan hidup."

Dengan tenang Tuan Ratle menjawab,
“sudah, biar aku saja yang membangunkannya. Kalian bersihkan saja meja makan ini dan mulai berkemas untuk menjelajah hutan mengumpulkan kayu dan bahan makanan."
Tuan Ratle pun berjalan ke kamar Ratto sambil membawa sepotong sandwich.

Dari luar kamar, Tuan Ratle telah mendengar dengkuran keras dari arah tempat tidur Ratto. Dihampirinya Ratto dan mulai memanggil namanya, "Ratto, bangunlah Nak. Hari sudah siang."

Tidak ada respon. Akhirnya Tuan Ratle mengambil sepotong sandwich yang tadi dibawanya dan diarahkannya ke hidung Ratto. Aroma roti yang dipanggang dengan isian jamur, keju dan sayuran itu sangat harum dan membuat tidur Ratto mulai terusik. Ia mulai mengendus sandwich dihadapannya.

Tuan Ratle menjauhkan sandwich itu dari hidung Ratto. Ratto mengikuti arah perginya aroma lezat itu dan gedebuk!

Tubuh gembul Ratto jatuh dari kasur dan ia pun langsung terbangun sembari mengelus kepalanya yang terasa sakit akibat membentur lantai.

Tuan ratle tersenyum,
"hari sudah siang Ratto, cepatlah bergegas kita akan segera berangkat ke hutan."

Ratto mendengus sebal. Tuan Ratle meninggalkannya dan menaruh sepotong sandwich itu di meja kamar Ratto.

"Selepas kamu memakan sandwich itu kita berangkat."

Ratto Nampak kaget dan mencoba menawar, tapi, Yah─”

[Antologi] IMAJIStories to obsess over. Discover now