Bandung, 07.00 am.
---
"Assalamualaikum sayang"
Mendengar suara tersebut, sayup-sayup ku buka mata mencari kesadaranku yang masih tertinggal di alam mimpi.
Aku mengerjap beberapa kali. Memastikan bahwa seseorang yang ada di hadapanku sekarang bukanlah halusinasi.
Aku memerhatikan sekelilingku dengan rinci, seolah ingin memastikan apakah sekarang aku masih berada di alam mimpi. Tapi nyatanya aku sekarang sedang berada di kamarku sendiri dalam kondisi sadar.
Kemudian aku kembali melihat seseorang yang berada di sampingku sedang melihatku dengan dahi yang berkerut layaknya orang keheranan.
"Kamu siapa?" Dengan polosnya pertanyaan itu lolos dari mulutku sendiri.
Seberapa keras-pun aku berpikir, aku masih belum paham kondisi ini. Suatu kondisi dimana ada seorang lelaki yang bahkan aku tidak kenal sama sekali sedang berada di hadapanku, di kamarku sendiri!
Kak Zidan saja, yang berprofesi sebagai kakak kandungku sendiri tidak aku izinkan untuk menginjak wilayah teritorialku tanpa izin. Lah ini? Kenal saja tidak, berani-beraninya dia berada di sampingku!
"Sayang, kamu gak mungkin punya riwayat amnesia dadakan kan?" pertanyaan tersebut lolos dari bibir merah lelaki tersebut.
'Astaghfirullah, kenapa aku malah memerhatikan bibir merahnya itu' aku menggeleng-gelengkan kepala guna melenyapkan pikiran kotorku itu.
"Sayang, kamu kenapa?" lelaki tersebut memegang kedua pundakku memberhentikan aku dari pikiran kotor yang merasuki otakku.
Tatapannya terlihat sangat mengkhawatirkanku. Alis tebalnya yang menyatu tanda khawatir ditambah dengan sorot mata hitam pekat yang bercahaya. Bibir tebalnya yang merah merekah dengan sedikit kumis dan janggut tipis yang ada.
Dia terlihat sangat. Seksi?
Deg
Deg
Deg
'Kenapa jantungku bekerja sangat cepat?' aku memegang dadaku yang berdegup sangat cepat.
"Sayang kamu kenapa? Dada kamu sakit? Atau apa? Jangan diam saja!" nafas lelaki tersebut sedikit memburu, dan bisa kulihat ada keringat di pelipisnya.
Dan... Tunggu!
Aku baru sadar kalau sejak tadi dia memanggilku dengan ucapan, sayang?
"Sa-yang?" ucapku ragu-ragu.
"Kamu panggil aku sayang?" tanyaku dengan intonasi cepat.
Aneh saja. Aku bahkan tidak kenal dengannya, dan dia dengan mudahnya memanggilku dengan ucapan sayang? Yang benar saja.
"Yaa Allah. Ternyata benar yah yang dibilang sama Zidan. Kamu itu kalau bangun tidur bisa gak ingat apapun selama lima menit." lelaki tersebut tertawa ringan hingga matanya terlihat sedikit berair.
Tunggu!
Aku mulai ingat!
Astaghfirullah......
Aku menundukkan kepalaku sambil meringis. Kenapa bisa-bisanya aku lupa dengan lelaki yang ada di hadapanku sekarang? Yaa Allah.....
"Sudah ingat aku siapa?" lelaki tersebut bertanya dengan tawa yang sudah mulai reda.
Aku bahkan tidak berani mengangkat kepalaku sangking malunya.
"Hey" dengan lembut lelaki tersebut mengangkat daguku hingga tatapan kami saling terkunci satu sama lain.
"Kalau masih belum ingat, sini aku bantu ingatin" belum juga aku sempat bernafas karena pesonanya, dia mendekatkan wajahnya kepadaku.
Cup
Dia mencium bibirku kurang dari 5 detik!!!!!
"Bagaimana masih belum ingat juga?" dia mendekatkan wajahnya lagi kepadaku.
Cup
Pikiranku saja masih melayang dan dia sudah menciumku kembali.
"Masih be-"
"AKU SUDAH INGAT!!" ucapanku hampir seperti teriakan.
Dengan segera aku mengambil selimut dan menanam wajahku dalam-dalam agar ia tak melihat rona merah di wajahku. Dan agar ia juga tak mendengar degupan jantungku yang sudah seirama dengan pukulan stik drum yang dimainkan cepat.
"Hahahaha... Yaa Allah lucu banget sih kamu Yang" Dia tertawa terbahak-bahak karena tindakan refleks yang aku lakukan sekarang.
Ahh masa bodohlah! Aku sudah malu sekarang.
Bisa-bisanya aku melupakan lelaki yang mengucapkan ijab kabul kemarin demi mengikatku sebagai istrinya.
Iya! Dia suamiku!
Suami tampanku yang seksi.
Muhammad Yusuf Diandra.
-o-
Syukron sudah mau baca:)
YOU ARE READING
Muara Hijrahku
Teen FictionAku tak menyangka ! ! ! Berawal satu hari itu, semuanya sudah tak sama lagi. Rentetan ucapan syukur-pun, tak akan mampu menjabarkan bahagiaku. 16 Juni 2019 @yhyunz7.
