-Happy Reading-
Nama ku Lee Kwan. Anak dari mendiang Lee Yan. Psikiater ternama dari China yang sudah sangat di akui. Aku mengikuti jejak ayah ku menjadi seorang Psikiater. Aku berniat mengambil S3 ku di Canada. Aku mengambil jurusan Psikolog Forensik. Aku sangat tertarik dengan bidang itu.
Aku berumur dua puluh lima tahun dan masih belum mempunyai kekasih apa lagi pasangan hidup. Meskipun ibu selalu merecoki ku dengan perkataan "cepatlah beri ibu seorang cucu". Namun perkataan itu selalu ku anggap sebagai angin lalu. Aku masih menyukai kesendirian ku, bukan berarti aku ingin selalu hidup melajang.
Aku mempunyai darah campuran antara China dan Korea. Setelah wafat nya mendiang ayah ku, ibu membawa ku untuk menetap di Busan.
Walaupun kami sekarang menetap di Busan, tetapi kami tidak melupakan Qingdao tempat kelahiran ayah ku sekaligus menjadi tempat kelahiran ku.
Aku berniat akan kembali ke Qingdao dalam waktu dekat ini guna mengunjungi makam ayah ku. Aku sudah sangat merindukan ayah ku.
..
..
..
..
Aku merapikan barang apa saja yang akan ku bawa saat bertandang ke Negeri Tirai Bambu tersebut.
Aku yang tengah sibuk dengan dunia ku tidak menyadari keberadaan ibu ku yang membawa nampan berisi pancake dan susu ku.
"Ingat untuk tidak melewatkan sarapan mu lagi Lee Kwan". Ibu tersenyum manis kearah ku.
"Beri aku waktu lima menit untuk menyelesaikan ini". Aku mengacungkan ke lima jari ku di depan wajah.
"Apa untuk kesehatan kau juga harus berdebat dengan ibu mu?".
Senyum sumringah ku suguhkan untuk ibu ku.
"Kau sangat mirip dengan Ayah mu".
"Apa ibu sudah menyiapkan perlengkapan untuk pergi ke Qingdao ?". Aku bertanya sambil menguyah pancake ku.
"Tentu". Jawab ibu.
Aku mengangguk karena mulut ku sudah penuh dengan potongan pancake.
"Dan jangan lupakan pasport mu lagi". Ibu menarik hidung ku yang sama persis seperti hidung ayah ku.
"Bisakah kita lebih lama berlibur di Qingdao?".
"Tentu.".
...
...
...
TING TONG.
Bunyi bel membuat ibu harus berdiri dari atas kasur ku.
"Youngjae!".
Aku menghentikan acara sarapan ku dan menajamkan telinga mendengar ucapan ibu.
"Samchon". Pekik ku girang.
Aku langsung berhamburan ke pelukan paman ku.
"Noona! Apa anak mu tumbuh dengan cepat?".
"Akhir-akhir ini dia terlalu banyak makan".
"Masuklah". Perintah ibu dengan nada yang lembut tentunya.
Aku masih memeluk pinggang paman ku saat ibu menyuruhnya untuk masuk.
YOU ARE READING
P.S.Y.C.H.O.P.A.T.H
Mystery / ThrillerAku mengusap dagu ku. "Apa karena sebuah dendam". Gumam ku kemudian.
