Azel duduk diam di tepi kolam sambil mengamati lampu. Sudah terhitung sekitar 3 jam dia berdiam pada posisi yang sama. Beberapa orang dan saudara sudah mencoba membujuknya untuk masuk, namun ia menolaknya dengan gelengan. Gadis pemilik nama lengkap Shenna Tanazel ini memiliki beberapa kisah yang tersusun rapi untuk menjadi rahasia.
Kisah yang tak semua orang mampu benar-benar memahaminya. Kisah yang hanya dia sendiri yang mampu menceritakan pada bagian mana ada sebuah bahagia, sakit, dan keduanya dia waktu yang bersamaan.
"Zel, ayo masuk." Kali ini Ares yang membujuk adiknya untuk masuk, sedari tadi ia memang membiarkan Azel berdiam di luar. Adiknya butuh waktu. Azel tetap memberi jawaban yang sama untuk ajakan Ares.
"Udah malem, nanti kamu sakit." Bujuk Ares lagi. Dan masih sama, Azel tetap menggelengkan kepalanya. Tatapannya kosong dan raut wajahnya sedikit pucat.
Ares berjongkok dan menatap adiknya dari samping, "Abang tahu kamu sedih, abang juga Zel." Mendengar itu, mata Azel kembali memanas.
"Tapi abang coba kuat, buat siapa? Buat Azel." Ares memberi sedikit jeda, air matanya ikut menetes saat melihat adiknya kembali menangis. "Ayo masuk." Ajak Ares lagi.
Perlahan dia menarik tangan Azel dan membantu adiknya untuk berdiri. Sanak saudara yang berada di dalam rumah bernafas lega saat Ares berhasil membawa Azel masuk.
"Langsung bawa ke kamar aja Res." Ujar budhe Ati. Ares mengangguk, lalu membopong adiknya menaiki anak tangga.
Ares menaruh Azel di atas tempat tidur dan menyelimutinya. "Tidur yang nyenyak."
Tak lama mata Azel tertutup, Ares kembali keluar kamar dan bergabung dengan saudaranya di ruang tengah. Kemeja hitamnya sudah kusut dan raut wajahnya sudah sangat lelah. Ares duduk di samping budhe Ati sam sesekali menghela nafas.
"Sekarang kamu jaga Azel, budhe percaya sama kamu."
Ares mengangguk pelan, dia sudah tak kuat untuk berucap kembali. Tenaganya benar-benar seperti terserap keluar dan tersisa sedikit untuk membuatnya terjaga di malam ini. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan hanya Azel yang sudah tidur dari seluruh jumlah orang dirumah.
"Bunda sama Ayah beneran ngga pulang kerumah budhe?" Tanya Ares pelan, namun semua masih mendengar walau sekilas.
"Mas Ares sama Mbak Azel harus ikhlas." Ujar Olin, salah satu sepupunya. Ares tersenyum tipis, lebih seperti menyeringai. "Azel." Hanya itu yang ia ucapkan.
"Ares, ini suda jalannya. Allah lebih sayang ayah sama bunda, jadi mereka dipanggil terlebih dahulu." Ujar budhe Ati dengan penuh pengertian.
"Azel." Ares hanya menyebut nama adiknya sebagai jawaban. Semua yang mendengar itu paham, Ares bisa saja menerima semua dan mengikhlaskan. Tapi gadis itu? Gadis berusia 17 tahun yang Ares maksud. Gadis itu pasti sulit menerimanya.
"Kamu istirahat aja Res." Suruh Om Irwan. Ares masih diam, tapi perlahan ia menyender pada sofa dan menutup kedua matanya. Mereka membiarkan Ares tidur di sofa, mungkin dia benar-benar lelah.
_ _ _ _ _ _ _
"AYAHHHH! BUNDAAA!" Ares berlari secepat kilat saat mendengar adiknya berteriak dari dalam kamar. Ia mencoba membuka pintu kamar Azel, tapi kamarnya terkunci. "Sejak kapan Azel mengunci pintu?!" Kesalnya.
"Azel! Buka! Jangan aneh-aneh kamu." Ares menggeprak pintu kamar dengan keras. "Azel buka!"
Olin dan budhe Ati menghampiri Ares yang sudah seperti orang kesetanan, "Dobrak aja mas!" Suruh Olin. Ares mundur beberapa langkah dan mencoba mendobrak pintu, namun gagal. Ia mencoba lagi dan pintu terbuka secara paksa pada percobaan ke tiga.
Ares, Budhe Ati, dan Olin mendelik melihat kamar yang berantakan dan pemilik kamar yang terus memukuli cermin berukuran besar di dinding.
"Azel, berhenti." Cegah Ares sambil mencoba menarik adiknya. Tapi Azel menulikan pendengarannya, ia terus memukuli cermin bahkan saat tangannya sudah mengeluarkan cairan merah kental. Olin bergegas mengambil kotak P3K sementara budhe Ati mengambil beberapa barang Azel yang berserakan di lantai.
"Azel! Dengerin abang!" Gertak Ares. Tapi tetap sama, gadis itu tidak menghiraukannya. "AZEL BERHENTI ATAU ABANG BUNUH KAMU?!"
Budhe Ati terkejut mendengar ucapan keponakannya, bukan hanya budhe Ati, Azel pun seketia diam dengan nafas terengah-engah. Tak sampai 5 menit, gadis itu berbalik dan mendorong keras bahu Ares.
"Bunuh! Cepet bunuh Azel!" Teriaknya sambil terus memukuli Ares.
"Azel berhenti."
"Bunuh! Azel mau ikut bunda!"
Ares memeluk adiknya, membiarkan punggungnya menjadi sasaran pukul Azel. "Berhenti Azel, abang mohon." Parau. Suara itu seperti tercekat di tenggorokan.
"Azel mau ikut bunda."
"Terus abang sama siapa? Kamu disini, sama abang." Jawab Ares pelan. Ia mengusap kepala adiknya.
"Jangan seperti ini Azel. Abang berusaha kuat buat kamu, tolong jangan buat usaha abang sia-sia."
○○○○◎◎◎○○○○
Alohaaa.. aku nangis:" feelnya dapet ngga? Apa aku yang baperan?
Ini masih awal, akan ada 2 dan seterusnya. Vote and comment please:") thank you.
YOU ARE READING
Shenna Tanazel
ChickLitAku bertahan karna sebuah alasan, aku bertahan mungkin karna seseorang, aku bertahan sejenak untuk mencoba menerima. Tapi yang pasti, aku bertahan untuk membuktikan bahwa aku kuat. Membuktikan bahwa berbagai cerita yang satu persatu membuat ruam luk...
