Nyawa dibalas nyawa
Perkataan Harry kemarin membuat kendall tidak tidur semalaman. Ia terus ditakuti rasa bersalah, atas kematian Larry yang sepenuhnya bukan kesalahan Kendall. Kematian Larry membuat Harry berubah menjadi kebencian yang dalam pada K...
Baru sepuluh menit Kendall tiba di Kenny's cafe miliknya. Seperti biasanya ia mengecek juga mengawasi setiap perkembangan cafe yang hampir setengah tahun ini berdiri. Dan menghidupi kebutuhan dirinya sehari-hari.
Ia tak mengharapkan lebih dari penghasilan yang hanya bisa untuk digunakan biaya sewa apartemen sederhana juga keperluan yang lainnya. Apalagi untuk berfoya-foya memenuhi ego setiap kali ia jalan-jalan kedalam mall.
Mobil warisan ayahnya juga adalah satu-satunya harta berharga yang ia miliki sampai saat ini. Dan yang lainnya ia punya karena atas kerja keras yang ia dapatkan hampir setengah tahun ini.
Kenny's cafe ini berada di pinggiran kota London yang lokasinya hanya 300 meter dari Camden Town, pasar yang menjual barang-barang unik juga alat musik yang murah meriah sehingga weekday apalagi setiap weekend tentu saja cafe ini dipenuhi oleh pengunjung juga turis yang sedang melancong ke kawasan London.
Saat ia kembali fokus melihat layar komputer untuk mengecek pendapatan yang masuk ke cafe miliknya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan satu panggilan masuk.
"Halo."
"Ken, aku tidak bisa menemukan kunci lemarimu. Dimana kau menyimpan baju-bajuku?" Tanya Larry, sepertinya ia baru selesai mandi.
"Sebentar." Ucap Kendall pada Cleo, pekerjanya yang biasa mengurusi keuangan Kenny's cafe. Cleo hanya mengangguk.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
"Iya, Larry. Kenapa kau sudah mandi?" Tanya Kendall berjalan keluar cafe.
"Tentu saja sudah. Dimana kau menyimpan bajuku? Aku sudah mencari kuncinya tapi tetap saja tidak ada."
Kendal tertawa. Ia membayangkan betapa lucunya wajah Larry saat mencari kunci. "Tutup mulutmu dan cari di laci dekat aquarium miniku."
"Astaga Ken, aku mencarinya hampir setengah jam. Aku tak tahu ada laci dibawah aquarium mu."
Kendal melepas kacamatanya. "Sudah ketemu?"
"Yups, thanks baby."
"Ya ya, jangan lupa makan sup yang sudah kubuat di meja pantri. Kalau tidak kau akan mengeluh sakit mag." Jelas Kendall pada Larry.
"Baiklah, kau pulang jam berapa?"
"Jam 2 siang, aku akan membantu Cleo sebentar."
"Ya sudah hati-hati."
"Iya, bye."
"Bye."
Tut
***
Setelah selesai dengan urusan cafe. Kendall kembali menuju apartemennya. Ia ingat bahwa Harper akan berkunjung ke sana. Larry dan Harper merencanakan membuat sebuah buku novel lagi jadi setidaknya Kendall pulang dan membawakan makanan untuk mereka berdua.
Membawa makanan mungkin dapat membantu konsentrasi mereka dalam membuat novel yang luar biasa. Tapi Kendall percaya bahwa tanpa makanan yang ia bawa juga semua Novel ciptaan Harper apalagi Larry tidak ada yang gagal satu pun. Novel genre apapun pasti dilahap habis oleh penggemarnya.
Padahal Larry, termasuk golongan Hooman introvert. Jadi Kendall tak pernah mengetahui ia mendapatkan penggemar yang antah berantah banyaknya. Sampai-sampai satu kali cetak buku dapat membuat Larry tiba-tiba kaya raya.
Membuka tas kecilnya, ia menyimpan kacamata terlebih dahulu sebelum menekan password apartemen miliknya dengan benar. Tanpa menunggu lama lagi Kendall memasuki wilayahnya. Namun, tak disangka di orang yang dari tadi hinggap di berputar di kepalanya. Sedang pangku memangku.
Oops! This image does not follow our content guidelines. To continue publishing, please remove it or upload a different image.
Harper, gadis London yang memiliki rambut sepinggang itu, sedang dipangku oleh Larry. Bibir mereka menyatu, bukan sekedar menempel biasa namun saling mengecap menimbulkan suara dan erangan. Membuat kendall meringis.
Sekian lama berteman dengan Larry, baru kali ini ia merasakan sesuatu yang berdebar di dalam dadanya. Gelenyar aneh tapi juga rasa sakit yang timbul bersamaan.
"Ken."
Tiba-tiba Larry tak sengaja melihat bayangan seorang perempuan yang berdiri. Tangannya yang pas memegang pinggang Harper tiba-tiba mendadak kaku. Siapa lagi yang akan masuk kedalam apartemen milik Kendall, kalau bukan Kendall sendiri.
Dengan begitu Larry segera menurunkan Harper dari pangkuannya. Harper pun demikian kagetnya, ketika melihat sosok Kendall yang sama terkejutnya berdiri memandangi mereka berdua.
"Oh i-i'm sorry." Lirih Kendall yang tak sengaja menonton adegan tadi. Ia langsung berputar balik dan hampir meraih knop pintu. Namun, Kendall kalah cepat dengan Larry yang berkaki panjang itu. Sedang menahan tangannya sehingga ia tak dapat meraih pintu apartemen.
"Kenny, kau mau kemana?" Cegah Larry. Ia tak ingin Kendall salah paham atas apapun. Kendall yang masih syok dan bingung, malah tak berbicara apapun.
Harper yang sedang merapihkan rambutnya yang tadi berantakan, langsung bergerak cepat menyambar tasnya yang tergeletak. "Sepertinya aku dan Larry sudah selesai dengan urusan kami. Jadi aku pamit pulang ya Larry, Kendall."
Tapi Kendall menahannya. Kendall seharusnya tidak berperilaku seperti ini, Larry dan dirinya hanyalah seorang sahabat. Perasaan sepertinya seharusnya tidak pernah ada diantara mereka berdua. Kendall tersenyum meraih tangan Harper, "Hei Harper, aku bawakan Pizza, kau tidak boleh pulang sebelum habis dahulu pokoknya."
Harper yang masih kaget langsung menatap Larry, ia benar-benar ingin pergi sekarang juga. "Tidak Kendall, Harper tadi bilang akan pergi ke toko buku hari ini. Jadi sebaiknya ia pergi sebelum hujan datang. Diluar mendung 'kan?" Tanya Larry mencairkan suasana.
"Ah, iya memang diluar akan turun hujan sih." Kekeh Kendall yang canggung. Sedangkan Harper tersenyum paksa, "kalau begitu aku pamit pergi ya, bye Kendall Larry." Membuka pintu apartemen dan menutupnya, tanpa menunggu jawaban dari keduanya.
Larry langsung merangkul Kendall, tanpa basa-basi ia mengambil kresek pizza tersebut. Dan mengecup pipi Kendall. "Kau selalu tahu apa kesukaan ku, baby."
Kendall hanya tersenyum, dimana hatinya merasa sebaliknya.