Rahman dan Blacky
Rahman adalah salah satu santri di pesantren yang ada di Pacet, Jawa Timur. Ketika itu, Rahman sedang mengaji di aula pondok, tiba-tiba datang seekor kucing hitam duduk dan diam mematung. Sesekali mengeong sambil menatap Rahman. Beberapa menit kemudian, kucing itu mendekat dan mencium kaki Rahman. Kejadian itu tidak hanya sekali, tetapi setiap Rahman mengaji di tempat yang sama, kucing itu hadir seperti ikut mendengarkan ayat-ayat suci Alquran yang dilantunkan Rahman.
Pagi ini, sinar mentari mulai menyengat, pertanda waktu duha akan segera berganti menjadi waktu zuhur. Tiba-tiba, terdengar panggilan dari pengurus pondok yang menyampaikan bahwa Rahman mendapat telepon dari rumah. Ternyata itu adalah panggilan dari pamannya.
"Kamu pulang ya, Nak. Ayah dan ibumu kecelakaan. Sekarang kritis di rumah sakit."
Seketika itu, perasaan Rahman luluh lantak. Padahal Rahman telah menunggu datangnya kedua orang tua rahman untuk menjemputnya di pondok. Sesampainya di rumah sakit, Rahman mendapat kabar duka bahwa ayah dan ibunya telah tiada, tepat tiga puluh menit yang lalu. Ia menangis, tak bisa ia bayangkan harus hidup tanpa kedua pusaka hidupnya.
Ketika tepat tujuh hari setelah pengajian kedua orang tuanya, Rahman mengaji di depan rumah dan tiba-tiba kucing hitam itu hadir sambil mengeong di sebelah Rahman.
"Loh, kenapa kamu bisa sampai sini, Blacky?" Rahman bertanya kepada kucing hitam itu. Ia menamainya Blacky, si kucing hitam.
"Meong, meong," Kucing itu hanya mengeong sambil menatap mata Rahman, seperti ingin menjawab tetapi tak bisa bahasa manusia.
Ternyata Rahman tak sadar, kucing itu mengikuti Rahman sampai rumah. Rahman memutuskan untuk tidak kembali ke pondok dan dia hidup berdua bersama Blacky. Blacky hidup sebagai teman hidupnya dan menjadi warna dalam dunia kelamnya tanpa orang tua. Dia selalu memberi makan dan merawat seekor kucing kampung berwarna hitam legam itu. Kucing itu sangat manja dan suka menggeliat apabila berada di dekat Rahman. Blacky juga sangat suka jika tubuhnya dibelai dengan sentuhan lembut terutama di kepala, leher dan perut. Tak heran, setiap Rahman pergi tak jauh dari rumah, Blacky terkadang selalu ikut kalau tidak sedang tertidur. Paman Rahman berkata bahwa kedua orang tuanya mengambil nama Rahman dari nama sahabat nabi yaitu Abdurrahman bin Sakhr. Abdurrahman bin Sakhr selalu bermain dengan kucing kecilnya saat siang hari dan jika malam sudah tiba, kucing itu diletakkan di atas pohon. Kebiasaan ini berlangsung terus menerus hingga teman sebayanya menamai Abu Hurairah, si pemilik kucing kecil. Seperti Rahman sekarang, ia selalu bermain dan bercanda dengan kucing hitamnya setiap hari.
"Blacky, kamu disini saja ya, jangan ikut!" Ucap rahman sambi mengusap-usap kepala Blacky.
"Meong, meong," jawab Blacky. Ia setia menunggu kepulangan Rahman di depan rumah sampai Rahman kembali. Tak jarang Rahman dianggap gila oleh tetangganya karena selalu berbicara dengan Blacky.
Selang beberapa bulan, tiba saatnya Rahman untuk mengucap janji suci di hadapan penghulu. Ia akan menikah dengan Mayang. Puteri seorang ustaz yang mengajar di pondoknya dulu.
"Qobiltu nikahaha wa tazwiijaha bil mahril madzkur haalan," Rahman mengucapnya dengan satu nafas.
Mayang kemudian mencium tangan suaminya itu, kemudian suaminya mendengungkan doa sambil memegang ubun-ubun Mayang. Setelah resmi menjadi suami istri, Rahman mengajak Mayang untuk tinggal di ruamahnya bersama Blacky.
"Apa kamu nggak takut kalau memelihara kucing hitam seperti ini, Mas?" tanya Mayang.
"Kenapa takut, Dik?" tanya Rahman kembali sambil minum kopi buatan istrinya.
"Kucing hitam kan menakutkan, orang menganggap kalau kucing hitam pertanda kesialan bahkan kematian. Bukankah Mas pernah mendengar seperti itu?"
"Saya selama hidup bersama Blacky baik-baik saja, bahkan beruntung mendapatkan istri seperti kamu. Berarti nggak sial, 'kan?"
"Pokoknya Mas harus segera membuang kucing itu. Atau aku akan membunuhnya. Aku nggak mau keluarga kita kena sial, Mas."
"Jangan! Blacky telah menemaniku setelah ayah dan ibuku tiada. Dia yang memberi semangat aku untuk tetep hidup."
"Iya, tetapi sekarang ada aku yang akan menemanimu, Mas."
Setelah adu mulut dengan istrinya, Rahman kemudian mendengar suara Blacky mengeong. Blacky sepertinya mendengar apa yang telah dikatakan Mayang, saat Rahman menghampiri, sudut kedua mata kucing hitam itu terlihat berair sambil mengendus kaki Rahman.
Keesokan harinya sebelum berangkat kerja, Rahman membuatkan kandang di sebelah rumah untuk Blacky. Dia mengurung Blacky agar tidak terjadi kejadian yang tidak diinginkan karena istrinya berniat membunuh hewan kesayangannya itu.
Malam mulai tiba, ketika Mayang menunggu suaminya pulang, ponsel Mayang berdering. Ternyata panggilan dari rumah sakit mengabarkan bahwa Rahman sedang koma di rumah sakit akibat kecelakaan. Mayang pun bergegas meninggalkan rumah menuju rumah sakit, sementara Blacky hanya bisa mengeong lapar, Rahman belum memberi makan siang itu.
Setibanya di rumah sakit, Mayang menangis sesenggukan mendapati suaminya yang tak bergerak dan terbaring lemah, dengan jarum infus di tangan kanannya. Beberapa jam kemudian, tiba-tiba Rahman menyebut nama Blacky. Mayang segera pulang dan membuka kandang Blacky untuk dibawanya ke rumah sakit. Dengan izin Allah dan hadirnya Blacky, Rahman kemudian sadar dan dapat melalui masa komanya. Meskipun Blacky hanya seekor kucing, tetapi ia mempunyai rasa sayang kepada tuannya yang tidak mudah untuk diabaikan. Ikatan batin Rahman kepada Blacky sangat kuat. Mayang pun tersenyum sembari mengucap syukur dan keinginanya membunuh Blacky tiba-tiba lenyap dalam sekejap. Mayang berubah pikiran, ia tidak akan membunuh Blacky, tetapi ia berniat membunuh kucing tetangga yang kerap mengganggu kenyamanan kucing kesayangan suaminya itu.
-End
Ikke El Shonick
ESTÁS LEYENDO
Cerpen "Blacky"
Historia CortaAku akan berkisah tentang Abdur Rahman dengan kucing hitamnya. Rahman adalah laki-laki yang hidup sebatang kara. Kedua orang tuanya meninggal saat hendak menjemputnya di sebuah pondok di Pacet, Jawa Timur. Sepeninggal orang tuanya, Rahman hanya hidu...
