Sebelum membaca,
budayakan tekan bintangnya 🌟
dan jangan lupa buat coment 💬
cerita ini. Karena tekan bintang dan coment itu nggak susah kok.
Biar aku tambah semangat nulisnya, oke!!!😉
Selamat menikmati!!
*******
Malam ini, Hujan turun rintik demi rintik, membasahi kota Jakarta dengan airnya.
Langit seakan sedang bersedih, bersedih seperti seorang gadis dengan gaun selutut berwarna krim dengan rambut tergerai indah dipunggungnya dan tas jalan yang pas dengan setelannya.
Gadis itu menangis dibawah hujan, meredam suaranya sekuat mungkin, namun hatinya yang terluka tak dapat berbohong. Gaunnya sudah benar-benar basah, tapi ia enggan untuk perduli dengan itu semua. Ia terlalu capek dan sakit.
Ia melintasi trotoar tanpa tujuan yang pasti. Yang ia inginkan sekarang hanyalah tempat untuk menenangkan hatinya.
Tak beberapa jauh didepannya ia mendapati sebuah halte yang sepi penumpang. Akhirnya gadis tadi memutuskan untuk ke halte itu untuk menenangkan perasaannya sembari menunggu guyuran hujan reda.
Setelah merasa cukup tenang dan baikan, gadis tadi menghentikan tangisnya. Dan secara berangsur pula langit berdamai dengan kilatan cahayanya yang mengerikan.
Gadis itu hendak pergi dari sana, namun langkahnya dicegat segerombolan, dua tiga orang preman yang nampaknya dibawah alam sadar mereka akibat dibawah pengaruh alkohol. Preman-preman tersebut mendekati gadis itu dari kedua sisi, sehingga ia terkepung, dan sialnya tak mungkin ia berlari ketengah jalan, dengan kondisi lalu lintas kota Jakarta yang padat oleh kendaraan meski baru saja hujan.
Dengan tawa seringainya, ketiga preman itu menghampiri gadis tadi, ia sudah berteriak meminta pertolongan, tapi nampaknya percuma. Karena tidak ada satupun pengendara yang mau berhenti untuk menolongnya. Mereka mungkin enggan berurusan dengan brandalan-brandalan tersebut. Semenit sebelum preman-preman tadi menyentuh gadis itu, sebuah pukulan telak dilayangkan di punggung salah seorang preman. Membuatnya langsung tersungkur pingsan diatas trotoar. Tak terima, kedua preman lainnya menyerang buas dalam keadaan tak sadar sepenuhnya. Namun dengan mudah, orang yang tadi menjatuhkan preman sebelumnya, langsung membuat preman yang satunya lagi tumbang. Namun karena kurang fokus, botol kaca minuman keras yang dipegang preman ketiga, menyentuh pelipisnya dan pecah. Hal itu membuat pelipis si penolong robek dan mengalirkan darah segar.
Gadis tadi yang hanya diam ditempat langsung memekik melihat hal tersebut. Secara spontan ia yang berada dibelakang preman ketiga, seketika menendang selangkangan preman tersebut, ketika ia hendak menyerang penolong tadi yang sedang kehilangan fokus akibat luka yang dihasilkan dikepalanya.
Preman itu langsung tumbang seperti kedua preman lainnya. Gadis tadi bersyukur mendapati si penolong baik-baik saja, kecuali luka sobek di pelipisnya. Si penolong yang ternyata seorang laki-laki yang ditaksir seusia dengannya, kemudian mendekati gadis itu.
"Lo nggak kenapa-napa kan?" tanyanya mengkhawatirkan si gadis. Perempuan itu mengangguk cepat.
Ia lantas menawarkan untuk mengantar gadis itu pulang.
"Lo mau nggak gue antar? Lagian ini udah malem. Dan gue takut kejadian yang kayak tadi itu terulang lagi." tawar si penolong
Gadis tersebut nampak berpikir sejenak, lantas ia membuka mulutnya, "eum, ya udah. Aku mau." gadis itu mengangguk kembali, ia mengatakannya tanpa senyum sedikit pun, hanya raut khawatir yang entah kenapa bisa hadir disana.
Tanpa banyak bicara lagi, si penolong langsung mengajak gadis itu naik kemotornya. Sebelum ia menyalakan mesinnya, ia memberikannya helm dan meminta gadis itu untuk berpegangan padanya. Meski sedikit ragu, akhirnya ia memaksakan diri melingkarkan tangannya. Si penolong dapat merasakan gadis tadi melingkarkan lengannya di pinggangnya. Setelah merasa siap, ia kemudian menyalakan mesinnya, sebelum meninggalkan tempat itu, ia sempat menatap tubuh ketiga preman yang tergeletak pingsan. Kemudian langsung melajukan kendaraannya.
Selama perjalanan. Hanya suara ribut klakson dan suara gadis tadi yang sesekali menunjukkan arah rumahnya yang memecah keheningan diantara mereka. Hingga akhirnya motor si penolong sampai di depan rumah minimalis modern dengan dua lantai dan berwarna krim.
"Udah nyampe." tegur si penolong.
Setelah mematikan kendaraannya. Gadis tadi langsung bergegas turun. Ia kemudian melepas helmnya dan memberikannya pada si penolong, yang diterima dengan senang hati. Si penolong kemudian membuka kaca helmnya, menyadari sesuatu yang janggal, si penolong langsung membuka mulutnya, "nama gue Athaza. Panggil aja Athaza." ujar si penolong yang ternyata bernama Athaza, sambil menyunggingkan senyumnya.
Gadis tadi langsung mengucapkan terimakasih, "makasih, Athaza!" ucapnya dengan ikhlas.
"Sekarang gue mau tau nama lo siapa?" Athaza kini melayangkan sebuah pertanyaan.
Sebenarnya pertanyaan Athaza itu adalah hal yang benar-benar privasi bagi gadis tersebut, tapi karena Athaza sudah menolongnya tadi, tidak ada salah nya memberi tahu namanya meski pada orang baru.
"Nama aku Luna. Dipanggil juga Luna." balas gadis itu yang bernama Luna.
"Eum, Athaza kayaknya luka di pelipis kamu itu harus di obatin. Kamu masuk dulu deh. Hitung-hitung sebagai rasa terimakasih aku." tawar Luna, tak biasanya ia begitu cukup terbuka pada orang baru. Namun sebuah pengecualian untuk saat ini, entah kenapa. Luna pun tak punya jawabannya.
"Nggak usah, Lun. Gue langsung balik aja. Soalnya pasti nyokap gue udah tungguin pesanan nya." ujar Athaza dengan sebuah tawa kecil. Luna hanya mengangguk paham.
"Ya, udah Lun. Gue balik yah. See you next time." Athaza langsung menyalakan motornya dan segera melesat dari sana. Setelah itu Luna bergegas masuk kedalam rumahnya.
"Assalammualaikum!" Luna langsung mengucap salam ketika masuk kerumahnya.
Sesampainya diruang tamu. Ternyata mamanya sudah mengawasinya dari tadi.
"Wa'alaikum salam. Lun, siapa tuh yang sama kamu tadi, gebetan baru yah?" tanya Dian mama Luna dengan air muka yang menggoda.
"Monyet mah, yah orang ma. Gebetan? Nggak. Jangan mulai deh ma. Udah ma, Luna capek nih mau ke kamar dulu. Cup!" balas Luna meninggalkan satu kecupan di pipi mamanya. dan segera meninggalkan mamanya yang dihinggapi tanda tanya.
"Ada-ada aja si Luna. Dasar anak muda." gumam Dian pada dirinya sendiri sambil menyeringai geli.
Sesampainya di kamar. Luna segera menanggalkan semua benda yang ada ditubuhnya. Barang-barang itu sudah kering, mungkin karena angin ketika dimotor tadi. Syukurlah, kalau basah, mungkin mamanya akan lebih banyak bertanya. Selepas itu Luna langsung masuk kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dibawah guyuran air yang jatuh dari shower ia mencoba melupakan masalahnya tadi yang membuatnya menangis dan terluka serta semua peristiwa yang melukiskan cerita baru pada lembar hidupnya , namun masalahnya, ada satu hal yang tidak bisa ia lupakan, senyuman itu. Athaza. Ia sendiri bingung dengan dirinya. Seharusnya ia tak boleh seperti ini. Karena 'hal' itu pasti akan mencuat dan membuatnya menderita, lagi.
🌟
Ditempat yang berbeda, Athaza berdiri dibalkonnya. Menatap puluhan bintang dilangit tanpa bulan, yang hadir selepas hujan.
Malam ini, pikirannya terganggu oleh seseorang yang baru saja sejam yang lalu ditolongnya.
Ia dipenuhi keingintahuan, Athaza ingin tahu, alasan dibalik wajah datar itu. Semenjak mereka pertama kali bertatapan. Ia tak menemukan secercah kebahagiaan disana.
Yang Athaza lihat hanyalah kekhawatiran dan duka. Itu menggetarkan hatinya untuk memahami dan ingin tahu.
"Kenapa sih? Kenapa lo ganggu pikiran gue?" gumam Athaza pada keheningan malam.
Malam itu, tanpa Luna tahu, di tempat yang jauh berbeda darinya, seorang lelaki telah menyimpan harapan akan pertemuan kembali yang tak pasti datangnya.
"Gue harap, kita bertemu lagi. Karena gue udah rindu akan tatapan itu." benar, Athaza merindukan tatapan itu, sebab, tatapan itu langka.
~bersambung~
YOU ARE READING
Athaza
Teen FictionAthaza, seorang yang dikagumi orang-orang di sekolahnya, termasuk para guru, bagaimana mungkin sebuah tatapan dapat memporak porandakan pikirannya dalam semalam. Semenjak pertemuan pertamanya yang tak disengaja dengan gadis bernama Luna, Athaza teri...
