Sebagian orang mengatakan angka 13 merupakan angka sial, hal itu sedikit menakutiku. Terlebih aku akan menjadi bagian dari angka 13. Angkatan 13 di sebuah sekolah yang cukup besar walau lokasinya jauh dari keramaian. Aku tidak ingin membahas angka 13, aku hanya ingin membahas dia. Seorang lelaki yang membuatku menjadi penguntit.
Aku amat ingat hari pertama kami bertemu, ralat hari pertama aku merekam wajah dan suaranya. Saat itu aku memasuki perpustakaan sekolah untuk menemui salah seorang guru. Begitu juga dirimu dan beberapa siswa lainnya. Kita tidak mengenal, walau kita satu atap sekolah. Karena kelas kita sama-sama di ujung. Namun kau tahu, aku biasa melihatmu lewat lorong di depan kelasku.
Namun sebelum aku menjelaskan tentangmu, izinkan aku memperkenalkanmu Tuan. Waktu itu kau bosan dengan tugas dari guru dan sengaja kau tidak menyetorkan tugas bernyanyi. Padahal suaramu merdu. Aku jamin itu. Bosanmu menghantar aku menemuimu, sebenarnya aku tidak malas menyetorkan tugas bernyanyi, namun karena beberapa kali aku tidak masuk sekolah. Tugas itu menumpuk.
Saat itu rambutmu cepak, aku duduk di depanmu. Tapi tidak tepat di depanmu. Kau begitu asyik memainkan gitar dan bernyanyi. Namun aku justru asyik menatapmu. Aku bisu. Ku bertekad untuk mencarimu.
Hari-hari itu berlalu, kau tampak bukan satu sekolah denganku. Jangankan tahu kelasmu, namamu saja aku belum mengetahuinya. Mungkin kau kakak kelas 11 atau 12. Sebab aku sering main ke kelas-kelas sebelah berharap bisa melihatmu dan mengetahui kelasmu. Namun selalu nihil. Apa kamu tidak masuk sekolah? Rasanya tidak, hal ini begitu lama.
Di saat aku mulai bosan mencarimu kau justru lewat tepat di depanku, kau lewat di depan lorong kelasku. Saat itu aku merasa kakiku amat ringan. Bodoh, kakiku tidak bisa berkompromi. Dia mengejarmu sampai depan perpustakaan. Aku tersenyum kegirangan, aku berlari menuju kelas dan mengambil buku. Rasanya Tuhan begitu baik padaku, aku yakin kau berniat memperpanjang pinjaman buku. Begitu juga aku. Kita memiliki hari pinjaman yang sama, yaitu hari sabtu.
Memang awalnya aku kurang setuju dengan sistem pengembalian pinjaman buku di sekolahku yang kurasa begitu singkat, tapi itu tidak berlangsung lama setelah aku tau kita memiliki hari peminjaman yang sama. Dari hari itu aku mengetahui nama dan kelasmu. Detik itu juga, aku mendeklarasikan sebagai penggemarmu.
Aku begitu bodoh, hanya memandangmu tanpa menyapamu. Kau begitu bersinar saat pertama kali aku melihatmu. Dan kau terus bersinar. Sampai namamu dikenal seluruh angkatan kita.
Tepat seminggu setelah aku mengetahui namamu, kuputuskan untuk menulis selembar surat untukmu. Aku tak berharap kau membalasnya atau mencaritahu siapa aku. Aku tidak bisa menaruh surat itu pagi-pagi, sebab itu aku menaruhnya di lacimu saat sore hari. Namun sayangnya aku lagi-lagi bodoh, mungkin sebelum sampai di tanganmu surat itu sudah ditemukan orang lain. Tapi tak apa, jika kau belum sempat membaca izinkan aku menulis kembali surat itu. Kamu percaya tuan? aku masih ingat tentang apa yang kusampaikan pada selembar surat itu.
Mungkin justru kau yang lupa Tuan, tentang isi surat itu. Aku akan kembali berkata tidak apa, akan kutulis kembali surat ini untukmu. Agar kamu sedikit mengingat, bahwa kau pernah membuat hariku tak menentu.
Teruntuk kamu, lelaki peminjam buku di hari sabtu
Kau tahu? aku amat senang bisa melihatmu lagi. Berminggu-minggu telah kutelusuri sudut-sudut sekolah. Namun kau tampak hilang, jejakmu pun tak bisa kuikuti. Tuan, kutulis surat ini adalah sebagai permohonan maafku yang telah lancang menyukaimu. Aku berharap setelah kamu membaca surat ini kamu bisa mengizinkanku menyukaimu. Hanya menyukaimu, tidak lebih. Jikalau kamu tak menyukainya, beritahu aku. Esok adalah hari sabtu, jika kau tidak mengizinkanku maka datanglah ke perpus saat bukan waktu istirahat. Dengan begitu aku tidak akan melihatmu.
Kamu mengingatnya Tuan? aku harap kamu mengingatnya walau ini sudah hampir 5 tahun berlalu. Esok aku akan bercerita mengapa aku tidak bisa menyapamu walau kita satu kelompok dalam mengerjakan tugas. Saat kamu mendengar alasannya aku berharap kamu tetap tersenyum Tuan.
YOU ARE READING
Lorong
RomanceKau tidak akan benar-benar mengetahui siapa yang menunggumu. Dia menunggu bukan untuk menyapamu, dia hanya ingin melihatmu. Dan lorong merupakan tempat teraman bagi dia, setidaknya sampai kita menamatkan pendidikan.
